24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Pande Susan by Pande Susan
July 24, 2026
in Esai
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta hari ini. Ngomong-ngomong, Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak Indonesia.

Sebagai anak milenial yang datang dari keluarga sangat biasa-biasa saja, pakaian bukan menjadi suatu yang diperbaharui dalam periode waktu yang singkat. Tentunya saat itu belum ada online shop semasif hari ini, toko orange, toko hijau, tik tok bahkan facebook. Ditambah lagi saya adalah anak bungsu yang pada masa itu pewarisan pakaian dari kakak ke adik adalah hal yang wajar selama masih muat, padahal kakak saya adalah laki laki.

Barangkali karena pikiran itulah saya tidak begitu mempermasalahkan soal pakaian kebaya ketika pergi sembahyang ke pura. Tidak ada rengekan pada ibu agar saya punya kebaya baru setiap galungan dan kuningan. Sebuah kebaya hijau muda dipasangkan dengan kain endek kuning adalah pakaian kebaya pertama yang saya ingat miliki secara jelas. Tidak ada protes, tidak ada penolakan, langsung terima jadi.

Kebaya Pertama | Foto Pande Susan

Kebaya : Adab Ketimuran yang Dibawa Bangsa Barat

Kebaya, sebagai pakaian khas perempuan  muncul pada abad ke-15 dan ke-16. Pada masa ini, kebaya dikenakan oleh wanita bangsawan dan memiliki desain yang sederhana. Kebaya awalnya terbuat dari bahan yang ringan dan sering dihiasi dengan bordir halus. Pakaian ini menjadi simbol status dan kecantikan bagi perempuan pada saat itu. Asal usul nama Kebaya berasal dari Bahasa Arab “habaya” yang artinya busana yang memiliki labuh dan belahan di bagian depan. Lombar mengatakan ‘kebaya’ dari bahasa Arab ‘kaba’ yang memiliki arti pakaian. Bentuk-bentuk budaya kemudian berkembang sesuai dengan daerah di Indonesia.

Bali pada masa sebelum penjajahan Belanda belum mengenal kebaya secara luas, kebaya hanya digunakan oleh kaum bangsawan. Ketika itu eksotika perempuan Bali tanpa balutan busana tubuh bagian atas, hanya mengenakan kemben atau kamen. Tidak ada rasa malu karena begitulah adab pada masa itu. Pariwisata yang kemudian menjadi promosi pulau tropis ini membawa adab baru, bagian tubuh yang dianggap aurat haruslah ditutup. Kebaya Bali sendiri memiliki ciri khas pada bagian pelengkapnya yaitu adanya kain yang melingkar pada bagian pinggang disebut selendang atau senteng dalam bahasa Bali. Kebaya kemudian menjadi busana wajib jika pergi sembahyang ke Pura, melekatlah kebaya dengan aktivitas adat di Bali, termasuk kegiatan adat di masyarakat. Kebaya menjadi ciri khas orang Bali padahal Jawa lebih dahulu mengenalnya.

Ragam Kebaya Indonesia | Foto: Pinterest           

            

Kebaya Bali | Foto Pande Susan

 

Tradisi dan Formalitas : Peraturan Pemerintah Atau Desa Kalapatra?

Ingatan saya kembali pada model kebaya yang sering ibu kenakan saat saya masih taman kanak-kanak. Model kebaya awal tahun milenium kedua masih memiliki tangan panjang dengan bet (kain tambahan di bagian dada) untuk meletakkan kancing pet, sebutan kancing yang khas pada kain kebaya karena suaranya yg ditimbulkan ketika disatukan berbunyi “klepet-klepet”. Model kebaya ini disebut kutu baru, masih ada hingga saat ini. Kain yang digunakan dominan brokat bermotif padat dengan lubang lubang motif yang tidak terlalu banyak. Bentuk kerah lehernya pun dilipat sederhana, menutupi seluruh pundak hingga di atas dada. Kain atau kamen pelengkap bawahan adalah kain lembaran endek atau batik. Kesederhanaan tanpa modifikasi bisa jadi terlihat kuno tapi, bukankah demikian seharusnya adab berkebaya?

Mode Kebaya Awal Tahun 2000-an | Foto Pande Susan

                  

Sebagai gadis yang tumbuh dengan memprioritaskan kegiatan pendidikan sekaligus tradisi, ada pertanyaan yang justru timbul ketika saya sedang aktif-aktifnya bersekolah. Kenapa harus ada arahan menggunakan kain kebaya setiap hari purnama, tilem dan akhirnya wajib setiap hari Kamis?

Peraturan resminya baru terbit tahun 2018 lewat PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 79 TAHUN 2018 TENTANG HARI PENGGUNAAN BUSANA ADAT BALI, tetapi sekolah-sekolah negeri sudah lebih dulu melaksanakannya. Bukan tanpa alasan munculnya kemangkelan dalam hati ketika harus terlilit kain dan longtorso selama 6 jam. Selain itu, berboncengan dan naik sepeda motor pun jadi sulit. Penggunaan kebaya di sekolah tidak memiliki peraturan khusus tetapi kami tetap mengikuti adab, pun dengan peraturan gubernur menyebutkan tata busana bali perempuan terdiri dari kebaya, kamen, senteng dan tata rambut yang rapi.

Ketika saya SMA, tahun 2010, sudah mulai bermunculan gaya kebaya baru, dengan mode utama kebaya bordiran di Bali. Sependek yang saya ingat, kain yang ditambah dengan motif bordiran berbahan tebal dan tidak menerawang. Lengan kebaya pun masih dibuat sepanjang lengan, bahkan panjang kebaya hingga sebatas paha. Model kutu baru masih berkembang karena pengguna kebaya mayoritas ibu-ibu di kegiatan adat. Pada masa ini mode kartini mulai naik daun karena potongannya yang lebih modis untuk anak muda yang mulai dituntut mengenakan kebaya lebih sering.

Berbeda dengan aturan pemerintah, beberapa daerah memiliki peraturan tertentu terkait penggunaan busana kebaya. Jika di desa saya tidak boleh menggunakan kebaya lengan pendek jika sembahyang ke pura, di Desa Munggu,Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, perempuan yang sudah menikah tidak boleh menggunakan selendang terurai. Lalu apakah kita harus tetap berbusana seperti tahun 90-an ke bawah?

Kebaya Tahun 80-an | Foto Pande Susan

                                     

Mode Berkembang, Makna Tumbang

Internet kemudian mulai masuk dalam genggaman alias kemunculan smartphone. Manusia menolak untuk tetap ada pada masa yang sama. Tumbuh, Berubah dan Berkembang adalah doa setiap manusia. Busana mengikuti mode masuk tidak lagi hanya lewat majalah, bombardier informasi menyerbu, termasuk gaya berbusana. Bermunculan berbagai mode kebaya anyar seperti lengan pendek dan kerah Sabrina yang tidak lagi menutupi seluruh pundak. 

Kebaya tidak lagi sebatas paha, ujungnya hanya sebatas pinggul. Kain-kain bordir dengan anyaman yang terbuka bukan lagi hal yang tabu. Sebuah pertanyaan yang wajar saja ditanyakan orang luar, kenapa baju kebaya orang bali seterbuka?. Belum lagi munculnya kain sifon yang lambat laun berbahan menerawang. Kain ini memang murah dan mau cari warna apa saja ada.

 Kain bahan kebaya sifon crepe | Foto: pinterest

Modifikasi pun meliarkan makna apa sebenarnya tujuan berkebaya. Apa identitas yang melekat antara perempuan Bali dan kebaya. Tidak hanya kerah, lengan pun dijadikan bentuk lonceng, kerut setengah, balon, terompet dan lain sebagainya.  Jika dulu orang harus menjahit di tukang jahit khusus untuk membuat kebaya, munculnya online shop mulai menyediakan kebaya yang sudah siap pakai dengan berbagai ukuran dan mode. Ini diikuti juga dengan kemunculan “kamen jadi”, tidak perlu sibuk melilitkan kain lembaran. Cukup pakai seperti menggunakan rok.

Kebaya dengan modifikasi lengan, leher, dan kamen jadi | Foto pinterest

Modifikasi lain yang muncul adalah penambahan payet atau manik-manik pada permukaan kain kebaya setelah kebaya selesai di jahit. Ongkosnya kadang lebih mahal daripada ongkos menjahitnya sendiri, ini belum termasuk harga kain kebaya premium yang bahkan bisa tembus jutaan rupiah. Semakin jauhlah makna kebaya sebagai penutup tubuh, pergeseran menjadi sekadar ajang pamer mode dan status sosial.

Ilustrasi gaya busana ke pura yang sempat viral | Foto: pinterest

                               

Memang belum ada regulasi resmi terkait bagaimana seharusnya berbusana adat ke pura untuk keseragaman, namun secara implisit Lontar Kramapura menyebutkan tiga kerangka dasar ajaran hindu. Ajaran ini dapat menjadi pedoman bagaimana berbusana yang termasuk dalam adab manusia berperilaku. Tattwa adalah pengetahuan atau ajaran agama yang harus dipahami masyarakat. Susila adalah sikap dan perilaku dalam pelaksanaannya agar manusia memiliki kebajikan dan kebijakan. Acara adalah tata cara pelaksanaan dalam wujud tradisi untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Perempuan : Identitas Terdekat dengan Kebaya

Perkembangan teknologi membawa perubahan hampir di semua lini, termasuk bagaimana manusia berperilaku. Saat ini kebaya bukan lagi hanya sekadar busana ke Pura atau acara formal. Tidak ada yang salah akan perkembangan budaya namun apa yang sering tampak di media sosial justru hanya untuk menarik mata bukan makna.

Masih segar barangkali di ingatan kita, MPLS salah satu sekolah di Bali yang mengharuskan mengunggah twibbon siswa baru ke instagram. Bukannya perkenalan hangat yang di dapat, justru pertanyaan yang menjurus SARA memenuhi kolom komentar. Lebih disayangkan lagi beberapa siswi mengenakan kebaya yang -maaf- mengumbar bagian yang seharusnya ditutupi pada twibbon tersebut. Apakah hari ini demi views, like dan komen tidak cukup dengan konten bermakna?

Tidak cukup sampai di situ, sebelumnya dan masih berjalan, perempuan sebagai pengguna kebaya kerap kali jadi objek visual dewasa untuk promosi produk secara online. Belum lagi unggahan-unggahan yang saya sendiri tidak berani berasumsi apakah dilakukan secara sengaja atau tidak. Yang jelas keindahan yang seharusnya dihormati bersama balutan kain yang adabnya mesti menutupi malah dipertontonkan demi warna merah berbentuk hati dan jumlah penjualan yang tinggi. Sejauh yang saya amati di platform digital, konten soft porn ini justru masif pada generasi Z yang lupa memfilter apa yang seharusnya ditampilkan, apa yang seharusnya menjadi privasi.

Jangan sampai kebebasan ini kemudian menganggu adat istiadat, norma kesopanan dan kesucian ketika kita hendak sujud bakti di Pura sebagai masyarakat Bali. Budaya memang seharusnya berkembang tapi bukan berarti makna luhur harus berubah. Kita memang datang telanjang ke dunia, bukan berarti harus menelanjangi diri.

Selamat Hari Kebaya Nasional [T]

Catatan : Kebaya was inscribed on the UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity on December 4, 2024, recognizing its cultural significance across Southeast Asia.

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: fashionHari Kebaya NasionalKebaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

Next Post

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam "Kéné Kéto"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co