23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 19, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh kaum perempuan. Dalam dunia politik dan kekuasaan hak kaum perempuan sepertinya sengaja  dijauhkan dan termaginalkan, bahkan ada kesan diisolasi, diblokir atau dalam bahasa bijaknya  ‘dibatasi’ untuk tidak muncul sebagai pemenang sekaligus pemegang kekuasan (leader).

Pada catatan sejarah dunia pun lebih menunjukan bahwa kekuasaan didominasi kaum laki-laki dari mulai zaman kerajaan sampai pada zaman sistem pemerintahan demokrasi sekarang ini. Walau ada beberapa contoh kekecualian bahwa perempuan punya kemampuan untuk menempati kursi mahkota kekuasaan. Ratu Bilqis, Ratu Elizabeth, Margareth Teacher, misal.

Gerakan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak perempuan yang berfokus pada kesetaraan gender,  kebebasan berekspresi,  untuk mendapatkan  hak pendidikan serta melawan budaya pemaksaan (pingitan dan pernikahan paksa) di Indonesia mulai pijar dipelopori oleh seorang putri golongan bangsawan Jepara bernama R.A. Kartini yang kemudian dijadikan Pahlawan Nasional dengan dijuluki Ibu Emansipasi Wanita Indonesia.

Pemikiran-pemikiran progresif beliau didokumentasikan dalam surat-surat, yang kemudian dibukukan dalam buku berjudul  “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Pemikiran cemerlang beliau mencerminkan keinginan akan kebebasan, kemajuan, dan persamaan derajat. Relevansi di masa  kini emansipasi ini bertransformasi dari sekadar mendapatkan hak menjadi partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan bangsa dan pengambil keputusan.

Kini perempuan-perempuan Indonesia secara umum sudah merasakan hasil perjuangan Kartini, dan kini Kartini-Kartini Indonesia sudah mendapatkan pengakuan dan kedudukan yang setara dengan kaum laki-laki dalam hal kesetaraan gender. Sudah banyak Kartini Indonesia yang menduduki jabatan politik dan jabatan profesional serta jabatan akademik. Perempuan Indonesia sudah memiliki kualitas dan prestasi yang diakui secara internasional di berbagai bidang dan itu sangat membanggakan.

Namun, apakah secara kuantitatif perempuan Indonesia sudah mendapatkan kebebasan dan hak serta jaminan kehidupan yang layak sesuai dengan hak-hak yang tercantum di Piagam Hak Asasi Manusia ? Ini yang barangkali perlu dikaji dan digali secara komperhensif. Termasuk mengkaji kaum perempuan di daerah-daerah terpencil, terisolasi, daerah pedalaman dan kesukuan yang relatif masih bernuansa tradisional dan berkategori tertinggal peradabannya. Suku Baduy salah satunya.

Posisi, Peran dan Nasib Perempuan Baduy

Ketika kita membedah perempuan Baduy, maka harus dipahami terlebih dahulu bahwa ada 2 komunitas sekaligus kriteria, yaitu  perempuan Baduy Dalam dan Baduy Luar yang memiliki persamaan tapi lebih banyak perbedaannya. Situasi, kondisi dan posisi  perempuan Baduy Dalam hidupnya lebih terisolasi dari dunia luar karena berpegang teguh pada tatanan dan aturan adat yang sangat ketat.

Sebaliknya, perempuan Baduy Luar lebih memiliki kesempatan lebih besar dan luas untuk berinteraksi dengan dunia luar (modernisasi) karena hukum adatnya memberikan kelonggaran untuk melakukan prilaku tersebut. Mereka berkesempatan berkontribusi dan berkreasi secara penuh  sebagai pergerak laju ekonomi (berdagang/bisnis) namun tetap menjaga keseimbangan dengan tradisi dan fokus pada pelestrian budaya yang diwariskan secara turun temurun dengan segala konsekuensinya.

Walaupun tidak sama persis,  dalam kehidupan  adat dan ekonomi perempuan di suku Baduy memiliki peran yang krusial dan terhormat,  memegang peranan setara dengan kaum laki-laki, kecuali dalam hal politik dan kekuasaan. Perempuan Baduy memiliki peran sakral dan penting  dalam upacara  adat. Mereka dianggap  sebagai pengejawantahan Dewi Padi  Nyi Pohaci Sang Hyang Sri yang menghormati perempuan  sebagai  sumber kehidupan.

Hak-hak perempuan Baduy diakomodir  melalui  pembagian peran berdasarkan norma  pikukuh karuhun. Hak bagi perempuan Baduy berjalan beriringan dengan kewajiban mematuhi batasan dan hukum adat. Perempuan Baduy Dalam lebih bersifat patrun atau tunduk mengikuti aturan adat dan mereka begitu menikmati nasib keterisolasiannya.

Perempuan Baduy Luar memiliki kebebasan tetapi mereka harus berhadapan dengan tantangan dan risiko terjadinya pergeseran ke arah “Perempuan Modern Style Baduy”.  Secara umum perempuan Baduy Luar diberikan kebebasan dan jaminan yang sama seperti perempuan modern lainnya tetapi dengan batasan hukum adat yang mereka yakini.

Seperti Apa Bentuk Emansipasi Wanita di Suku Baduy?

Di atas sudah diuraikan secara umum, singkat, dan gamblang bagaimana posisi, peran dan nasib Kartini-Kartini Baduy sampai saat ini. Jaminan atas hak-hak perempuan Baduy alat ukurnya adalah hukum adat (bukan teori HAM), mereka adalah satu kesukuan yang kuat dan tegas dalam memegang teguh pikukuh karuhun-nya.

Secara umum di Suku Baduy peran laki-laki masih mendominasi di berbagi aspek kehidupan, tetapi tidak harus dipandang bahwa Baduy menganut total sistem patriaki atau “menomorduakan” kaum perempuan. Kehidupan mereka dipandu oleh hukum adat yang mereka sepakati dan diyakini kebenarannya sejak mereka lahir bahwa kaum perempuan ditempatkan sebagai kaum terhormat sesuai dengan peran dan fungsinya tetapi dibatasi dominasinya tidak seluas laki-laki dan itu sudah menjadi ketetapan hukum adat.

Oleh karenanya di Baduy tidak ada ceritanya gerakan menuntut kesetaraan hak bagi perempuan (feminisme). Hukum adat Baduy melarang kaum perempuan menduduki jabatan politik atau kekuasaan atau menjadi pemimpin. Hukum adat melarang warganya termasuk kaum perempuan menempuh pendidikan formal. Di Baduy Dalam perkawinan masih dijodohkan oleh tokoh adat, artinya kaum perempuan itu tidak diberikan kebebasan memilih calon suami. Di Baduy Luar sudah menggunakan dua alur; dijodohkan dan memilih sendiri. Itu doktrinasi yang sudah mereka sepakati.

Sistem sosial yang sudah baku di Suku Baduy di mana peran dan fungsi kaum Kartini Baduy sudah dipatok berdasarkan hukum adat yang berlaku dan itu sudah menjadi panduan hidup mereka berabad-abad lamanya, artinya ketika kita mengukur emansipasi wanita di Baduy harus dilihat dari kacamata Baduy itu sendiri. Di dalam Sistem pemerintahan adat Baduy tidak memiliki ruang atau perangkat untuk profesional, politik dan kekuasaan, mereka hanya menyediakan sistem pemerintahan untuk melakukan tugas kesukuan mereka yaitu menjaga dan melindungi keseimbangan alam bukan untuk memajukan sebuah negara.

Emansipasi yang menekankan tuntutan kesetaraan gender, pendidikan, kebebasan berpendapat tidak selaras dengan kondisi sosial dan kultur yang dimiliki Baduy. Satu yang nampak bahwa Kartini-Kartini Baduy sudah memiliki kontribusi dalam meningkatkan laju pergerakan ekonomi melalui karya tenunan dan kebebasan dalam menikmati digitalisasi. [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 15 Mei 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatpariwisata provinsi bantenProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

Next Post

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co