1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam Sastrawan Gerson Poyk: “Kita Terasing di Bumi Subur Laut Kaya”

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Feature

Gerson Poyk/Youtube

SUATU hari di tahun 2012, Pak Gerson diantar putranya berkunjung ke kediaman saya di kompleks perumahan Jonggol, Cileungsi. Hujan deras ketika itu, saya menyongsongnya untuk membukakan pintu pagar dan membawakan payung.

“Sastrawan jaman sekarang pada mapan, ya. Punya rumah…” selorohnya mengomentari tempat tinggal saya. Saya jawab, ini rumah orang Opa, saya hanya mengontrak. Kami lalu banyak bercakap tentang banyak hal. Termasuk rencana kegiatan yang akan kami ikuti esok harinya. Kebetulan, saya dan Pak Gerson diundang untuk mengisi sebuah seminar budaya di kota Kupang.

Selain kami, panitia juga mengundang Putu Wijaya dan Radhar Panca Dahana. Kami membahas rencana keberangkatan itu dan kemudian ngobrol banyak hal soal perkembangan seni sastra di NTT. Ia menanyakan kepada saya beberapa nama orang muda yang ia dengar aktif menggerakkan seni sastra di wilayah itu. Saya menerangkan satu persatu.

Bahkan bukan hanya tentang generasi muda, tapi saya juga menjelaskan siapa-siapa dari kalangan tua di NTT yang masih konsisten mendukung aktivitas generasi muda itu. Saya sebutkan contohnya bapak DR.Felysianus Sanga yang menjadi guru besar di Undana, Kupang. Tentu saja ia gembira mendengar perkembangan itu.

Mungkin hampir tiga jam kami bercakap-cakap, hingga ia minta pamit. Sore keesokan harinya, kami bertemu pula di kota Kupang. Tanpa hujan deras tentu saja. Selagi Pak Putu Wijaya dan Radhar Panca Dahana beristirahat di penginapannya masing-masing, Pak Gerson kemudian mengajak saya berjalan kaki ke beberapa bagian kota Kupang.

Menurutnya, dari tampilan fisik, tidak banyak perubahan yang menonjol di kota itu, kecuali hotel dan cafe malamnya. Satu-satunya yang hilang, selorohnya, adalah tempat kencing yang aman di ruang terbuka. Tentu saja kami terkekeh-kekeh.

Tidak ada topik yang bisa luput dari perhatian Pak Gerson. Ia tipe sastrawan yang kompleks dan detail. Soal-soal strategi pembangunan yang salah banyak dikritiknya. Ia juga menaruh minat yang besar pada kearifan lokal sebagai modal pembangunan. Pembangunan yang tidak mengapresiasi kekayaan kearifan lokal, katanya, menciptakan keterasingan bagi masyarakatnya sendiri.

Ia mencontohkan pertanian berbentuk Lodok Lingko di Manggarai, Flores Barat. Yang pagar kebunnya cuma 20 meter tapi bisa melindungi kebun satu hektar. Tampilan artistiknya saja sudah estetika, berbentuk roda sepeda kalau itu kebun dan berbentuk sarang laba-laba kalau itu sawah. Dan ada juga kearifan budaya lokal berupa mamar pusaka yaitu kebun tanaman keras sehingga dapat disebut taman di Pulau Rote. Desa-desa di Indonesia, menurut Pak Gerson, seharusnya dibangun berdasarkan nilai-nilai yang seperti itu.

Ia sungguh menyesalkan, betapa jutaan bangsa ini terus terasing dari buminya yang subur dan lautnya yang kaya. Kakinya di bumi subur dan laut kaya tetapi kepalanya di padang pasir dan gurun es kutub. “Lihat saja jutaan manusia berbondong di kota-kota urban. Sehingga kata pakar, urbanisasi adalah setan.

Mau tanam apa di hutan beton? Jika seorang memiliki lahan (yang subur), dengan mengorek-ngorek tanah, dalam tiga atau empat bulan sudah ada ubi, sayuran, padi dan sebagainya. Mengapa mesti merantau jauh-jauh keluar negeri sehingga terhina   sebagai budak (-upah)” lanjutnya lagi penuh semangat.

Dalam situasi keterasingan, orang kehilangan mimpi. Padahal tanpa mimpi kebangsaan yang kuat, orang tak bisa membangun kebangsaan yang kuat. Di situlah, menurut Pak Gerson sastra perlu berperan. Setiap sastrawan,katanya lagi, perlu keberanian membangun utopia dengan kejernihan hati nurani dan kegilaan estetika yang dimilikinya

“Sastra saya merupakan mimpi. I have a dream. Manusia Indonesia perlu sekali kembali kembali ke bumi subur laut kaya. Di sana tempat lahir beta, kata sebuah lagu. Di sana ada piring raksasa yang bernama kebun, sawah, bahkan hutan buah-buahan dan sebagainya. Transmigrasi raksasa dan modern perlu dilakukan   oleh pemerintah kita. Desa-desa baru yang modern yang menjadi bagian dari kota-kota beranda yang menerima tamu-tamu ekonomi perlu diciptakan segera. Itulah mimpi saya, perjalanan menuju utopia on earth”

Dan ia konsisten dengan idealismenya yang semacam itu. Karya-karyanya merupakan jembatan ke wilayah yang ia sebut via regia, jalan utama yang membawa manusia ke alam ketidaksadaran (unconscious ). Novel atau cerpen yang realistis sekalipun, baginya merupakan perjalanan menuju mimpi utopis yang merupakan dinamika tersembunyi dalam dunia unconscious.

“Sastra, science, teknologi, ekonomi, politik, pembaruan sosial, semuanya digerakkan oleh intuisi kreatif yang datang dari bumi unconscious itu. Puisi lebih menunjukkan hal itu. Puisi lahir dari fibrasi intuisi kreatif yang dikandung dunia taksadar, bergetar melalui tangga-tangga taksadar, bawahsadar, bergerak ke negeri kesadaran rasional yang telah bergabung dengan imajinasi, perasaan, naluri dan kemerduan bunyi kata-kata sehingga lezat seperti rendang Padang atau gudeg Jogja.” papar Pak Gerson pada saya.

Tentu masih banyak lagi topik-topik yang kami perbincangkan selama kurang lebih tiga hari bersama di kota Kupang itu. Dan sungguh mengesankan, ia selalu bersemangat mendiskusikannya. Mungkin hal itu paralel dengan semangat menulisnya. Selama lima puluh tahun berkarya (1955 – 2012), Gerson Pyork telah menulis tidak kurang dari seratus judul buku.

Ia punya tumpukan kliping karyanya sendiri di rumah dan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Sampai hari tuaanya dan hingga ajal memanggilnya, ia masih aktif berkomunikasi dan berdiskusi dengan banyak orang, baik dari kalangan sastra, petugas partai, dan orang dari berbagai latar belakang ilmu. Semua hal ia ladeni.

Tak heran, kalau di perpustakaan pribadinya di rumahnya yang sederhana di kawasan Depok, buku-buku dari berbagai macam bidang ilmu berderet. Mulai dari   buku-buku matematika milik anaknya yang jadi dosen di Universitas Indonesia, buku-buku filsafat, teologi, sosiologi, psikologi, sampai ke buku bacaan anak-anak.

Ia juga punya kamar kerja yang unik. Sebidang ruang yang terdiri dari sebuah meja tua dan bangku panjang yang ia buat sendiri. Konon, dulu ia sempat bercita-cita jadi tukang.Waktu masih sekolah dasar, ia suka ikut ayahnya membangun rumah tiang kayu dan dinding bambu, atap alang-alang. Ketika di Amerika, ia sempat berkunjung ke kampung halaman Thoreau di Walden Pond.

Ia ingin menjadi tukang seperti Thoreau. Ia bercerita bahwa tembok rumah induknya bergelombang karena semennya ditempelkan dengan tangan, dilempar ke susunan batako lalu digosok-gosok supaya rata tetapi tetap tak rata. Namun semennya banyak sehingga kuat sekali. “Namun tak sempurna. Ternyata perlu lama sekali waktu latihan, baru bisa seperti tukang sejati..” katanya pula.

Dan ke situ lah ia, kini, ke kesejatian itu. Ia sudah mendahului kita. Rumah yang semennya bergelombang itu, kini tentu akan berganti dengan rumah yang lebih tenang, lebih teduh dan abadi. Semoga, semoga. Selamat jalan sastrawan. Semoga apa yang engkau tinggalkan, dapat memberi inspirasi bagi kehidupan sastra Indonesia yang lebih baik di masa-masa depan. (T/RDP)

Jakarta 2017

 

Biodata dan Karya

Gerson Poyk dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Tags: BukuGerson Poykin memoriamsastra
Share341TweetSendShareSend
Previous Post

Bedah Buku Rare Kumara: Kehilangan dan Realitas Sosial

Next Post

Seperti di Tampaksiring, Pura Mengening Ada juga di Payangan – Apakah itu Berhubungan?

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
0
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

Read moreDetails
Next Post

Seperti di Tampaksiring, Pura Mengening Ada juga di Payangan – Apakah itu Berhubungan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co