24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah menjadi kanker yang menggerogoti bangsa ini. Karena realita dalam kasus korupsi, pelakunya adalah orang yang tahu bahwa tindakannya salah, tetapi tetap saja melakukannya. Mereka sadar kalau salah, namun main-main sistem gimana caranya agar terlihat benar secara administratif.

Duduk persoalannya, korupsi di mana pun termasuk di Indonesia, tidak dilakukan oleh orang yang tidak tahu bahwa korupsi itu buruk. Sebaliknya, banyak pelakunya justru sangat paham hukum, mengerti prosedur, hafal pasal, mengetahui celah administrasi, dan punya cukup banyak orang dalam circle-nya untuk memastikan sebuah tindakan ilegal terlihat rapi secara hukum.

Barangkali karena itulah, pemberantasan korupsi tidak pernah cukup hanya dengan menambah aturan saja. Sebab orang yang berniat menyimpang pasti belajar aturan. Tak jarang, belajar aturan justru untuk mencari jalan memutarnya.

Etik adalah Kunci

Kita bisa lihat sebuah perdebatan yang menarik mengenai hubungan antara legalitas dan moralitas. Mahfud MD, dalam pernyataan yang diberitakan sejumlah media pada September 2026, menyatakan bahwa terpilihnya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka secara konstitusional sudah selesai dan sah. Sementara Mahfud juga menyebut proses yang melatarbelakangi Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 itu, memiliki persoalan moral, setelah adanya putusan MKMK mengenai pelanggaran etik hakim.

Di sini kita belajar adanya paradoks yang sebenarnya sangat penting bagi kehidupan bernegara. Suatu putusan dapat tetap mempunyai akibat hukum, sementara proses yang melahirkannya masih dipersoalkan secara etik. Hal ini memang karena hukum membutuhkan kepastian. Putusan pengadilan, terutama putusan yang final dan mengikat, tidak dapat terus-menerus dibuka hanya karena di belakang hari kemudian muncul persoalan terhadap hakim yang membuatnya.

 Kalau setiap keputusan dapat dibatalkan tanpa ada batas, sistem hukum juga akan kehilangan kepastian.  Tetapi bagaimana pun, di sisi lain, banyak pertanyaan galau dari masyarakat yang tidak bisa dijawab hanya dengan kata “ini sudah final.” Nah, persoalan etik adalah kunci alias biang dari hukum yang layak, yang mengikat hajat hidup orang banyak.

Yang Penting Ada Alasannya, Nurani Bisa Minggir Dulu

Yang menarik di sini, seseorang tidak harus kehilangan pengetahuan moral untuk melakukan korupsi.  Cukup menemukan alasan untuk menyingkirkan suara moralnya, maka korupsi bakalan jalan. Tengok saja ungkapan-ungkapan seperi:  “Semua orang juga begitu.” “Ini cuma uang terima kasih.” “Kalau saya tidak ambil, orang lain yang mengambil.” “Secara administrasi tidak ada masalah.” “Tidak ada pasal yang secara eksplisit melarang.” Nah, kalimat terakhir ini mungkin yang paling berbahaya. Karena perlahan-lahan kita dapat berpindah dari apakah ini benar, mejadi apakah ini legal.

Perpindahan rel dalam cara berpikir itu dapat menghasilkan persoalan besar dalam kehidupan bernegara. Sebab hukum pada dasarnya dibuat untuk melindungi keadilan dan kepentingan publik. Tetapi manusianya bisa memperlakukan hukum sebagai semacam buku petunjuk. Jadi bukan untuk mengetahui apa yang patut, melainkan untuk mengetahui sampai mana ia dapat berjalan tanpa tertangkap.Di sini hukum berubah dari kompas menjadi pagar. Yang dicari bukan lagi arah yang benar. Yang dicari adalah batas terakhir sebelum terkena hukuman.

Nurani yang Tak Laku

Kita tentu membutuhkan hukum. Kita juga membutuhkan KPK, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, auditor, transparansi anggaran, pengawasan publik, dan pers yang kritis. Semua itu adalah perangkat penting agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol. Tetapi toh semua itu memiliki satu keterbatasan mendasar, bahwasanya mereka bekerja terutama dari luar diri manusia; tugasnya mengawasi, memeriksa, menghukum, mencegah. Semua dari luar dan mekanistis.

Sementara moral bekerja dari dalam. Yang justru berbicara ketika tidak ada kamera, auditor, atau atasan. Yang memperingatkan, saat seseorang mempunyai kesempatan mengambil sesuatu dan dia yakin tidak akan ketahuan. Inilah bedanya, ada orang yang tidak korup karena takut ditangkap, ada orang yang tidak korup karena dia merasa tidak berhak. Yang pertama membutuhkan pengawasan, yang kedua sudah membawa pengawasan ke dalam dirinya sendiri. Dan sebuah masyarakat yang sehat membutuhkan keduanya.

Toh, kita sebenarnya tidak kekurangan bahasa tentang integritas. KPK terus menjalankan pendidikan dan penguatan integritas. Pada 2026, misalnya, KPK melakukan berbagai program pembekalan pejabat daerah dan pelatihan integritas di lingkungan peradilan serta sektor pertanahan. Bahkan KPK menekankan bahwa integritas perlu terus “dilatih” dan dibiasakan.

Jadi bukan soal apakah kita tidak tahu bahwa korupsi itu buruk. Kita semua sudah tahu. Dari anak sekolah, mahasiswa, pegawai negeri tahu, pengusaha tahu, politisi, apalagi hakim dan penegak hukum, semua tahu. Lalu mengapa korupsi masih muncul? Mungkin karena pengetahuan moral tidak otomatis menjadi keberanian moral.

Kita bisa tanda tangan pakta integritas, dan memasang slogan integritas di dinding kantor. Tetapi saat  integritas justru membuat seseorang harus menolak tawaran yang sangat menguntungkan, hanya nurani sebagai benteng terakhir. Kembali ke pindah rel di atas ketika kesempatan datang dengan nama yang lebih sopan seperti komisi, fee, uang terima kasih, fasilitas, titipan, atau “tanda persahabatan”.  

Di situlah pendidikan moral dari masa kanak-kanak benar-benar diuji. Bukan dari soal tahu jawabannya. Melainkan saat kita berani bayar harga untuk menjalankan jawaban tersebut. Waktu kecil, masih mempan kalau dibilang “Awas Tuhan marah, lho. Itu dosa”. Sudah dewasa mana takut. Udah gede kok ga mau korupsi karena takut Tuhan marah, emang anak kecil?

Angka Boleh Dihitung, Tetapi Nurani Tidak Masuk Statistik

Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2025 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100 dan peringkat 109 dari 182 negara. Indeks tersebut mengukur persepsi terhadap korupsi sektor publik berdasarkan 13 sumber data independen, sehingga ia bukan hitungan langsung seluruh kasus korupsi yang terjadi.

Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh angka. Berapa banyak orang yang sebenarnya punya kesempatan untuk korupsi tetapi memilih tidak korupsi? Tidak ada statistik yang  menghitungnya. Padahal mungkin justru merekalah penjaga sebuah negara. Bukan soal seberapa banyak berhasil menangkap koruptor. Negara yang sehat adalah negara yang memiliki cukup banyak orang yang tidak perlu ditangkap karena sadar memilih tidak korupsi.

Jika ini terdengar idealistis dan naif, bahkan utopis. Biarlah. Sebab kalau kita membuang moral hanya karena moral tidak pernah sempurna, kita akan sampai pada kesimpulan yang sangat berbahaya. Menormalisasi bahwa manusia memang pada dasarnya akan curang dan tugas negara hanyalah menangkap sebagian dari mereka kalau ketahuan. Sidang pembaca yang budiman, please, saya kira kita tidak boleh sampai di sana.

Kita Butuh Manusia yang Tahu Patut

Barangkali inilah pekerjaan besar pendidikan Indonesia ke depan. Bukan sekadar menghasilkan manusia yang pintar membaca aturan. Tetapi manusia yang mampu berefleksi, untuk menilai yang bisa dilakukan, apakah masih patut dilakukan.  Pertanyaan sederhana itu sebenarnya sangat radikal. Sebab ia mengembalikan moral ke tempat yang semestinya, yaitu posisi sebelum hukum.

Hukum mengatakan apa yang dilarang. Moral mengajarkan meski tidak dilarang bukan berarti pantas dilakukan. Hukum menetapkan batas minimum. Moral mendorong kita dengan elegan tidak mendekati batas minimum itu. Karena itu pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada pembangunan sistem pengawasan.

Kita membutuhkan sistem yang baik, tentu saja. Tetapi kita juga membutuhkan manusia yang baik dalam sistem tersebut. Sistem tanpa moral bisa menjadi mesin yang sangat canggih untuk mencari celah. Moral tanpa sistem mungkin hanya menjadi niat baik yang mudah dirobohkan. Keduanya harus berjalan bersama. Inilah pekerjaan yang paling sulit, yaitu membangun manusia yang merasa malu melakukan sesuatu yang salah, meski tidak ada pasal hukumnya.

Sebab pada akhirnya, persoalan terbesar sebuah bangsa adalah ketika masyarakat mulai kehilangan kemampuan mampu berbuat patut.  Seolah naif, tetapi justru di sanalah peradaban dimulai. Sebab jika hukum adalah pagar pembatas, moral mengajarkan kita untuk tidak curang mencari lubang, atau melubangi pagar semaunya. Mau korupsi? Awas, Tuhan marah. Anak kecil aja tahu. Tabik. [T]

Tags: Anti Korupsietika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co