ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang posisi seseorang di tengah masyarakat. Di Bali, sepeda motor keluaran terbaru mudah ditemukan berseliweran di jalan, seolah sebagian orang berlomba memilikinya. Harganya bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Saya tidak sedang mengatakan membeli sepeda motor baru adalah sesuatu yang keliru. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kemampuan ekonomi masing-masing. Tetapi di tengah kebiasaan mengejar kendaraan terbaru, saya justru merasa baik-baik saja menggunakan sepeda motor bekas. Honda Revo, tepatnya, sebuah motor sederhana yang tidak pernah saya pilih untuk menunjukkan keberhasilan.
Bentuknya sederhana, mesinnya tidak neko-neko dan barangkali tidak akan membuat orang menoleh dua kali. Tetapi bagi saya, motor ini memiliki tempat khusus yang tidak bisa dihitung dari harga jualnya. Ia sudah terlalu lama menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Nilainya perlahan berubah dari sekadar kendaraan menjadi sesuatu yang personal.
Belasan tahun lalu, setelah selesai dirawat di rumah sakit karena skizofrenia, ibu saya berusaha membuat saya bahagia. Salah satu caranya adalah memberikan sebuah sepeda motor bekas. Mungkin ibu berpikir saya membutuhkan sesuatu yang bisa membuat saya kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Saya sendiri tidak pernah bertanya apakah ibu benar-benar berpikir motor akan membuat saya bahagia.
Ketika menjadi mahasiswa di Denpasar, saya juga menggunakan sepeda motor bekas. Honda Grand keluaran lama menemani perjalanan dari kos, kuliah, berbagai urusan kecil dan kehidupan sebagai anak muda yang belum memiliki banyak uang. Bagi saya, sepeda motor bekas bukan sesuatu yang memalukan. Ia justru menjadi bagian dari cara saya bertahan hidup.
Mungkin karena itu, ketika ibu ingin memberikan sepeda motor yang lebih baru, saya tidak terlalu memikirkan gengsi. Saya diantarkan seorang pegawai koperasi kenalan ibu ke sebuah dealer sepeda motor di kota kecil tempat kami tinggal. Mata saya menyapu deretan kendaraan yang masih mengilap. Di antara semuanya, pilihan saya jatuh pada Honda Revo.
Saya tidak ingat pertimbangan yang terlalu rumit ketika memilihnya. Mungkin bentuknya saya suka, mungkin harganya sesuai, atau mungkin saya memang hanya membutuhkan kendaraan yang bisa membawa saya ke mana-mana. Pilihan sederhana itu ternyata bertahan jauh lebih lama daripada yang saya bayangkan. Ia kemudian menjadi bagian dari banyak hal yang terjadi setelahnya.
Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan Yamadipati Seno di Mojok.co berjudul “Honda Revo adalah motor Honda paling hina, menempati kasta paling bawah yang di bawahnya lagi cuma jalan kaki padahal jadi kunci bahagia masa kini”, yang dimuat pada 20 September 2026. Judulnya membuat saya tersenyum. Honda Revo yang saya gunakan bertahun-tahun tiba-tiba ditempatkan sebagai motor yang berada di kasta paling bawah.
Tetapi Seno tidak berhenti pada lelucon itu. Ia justru membalik cara pandang terhadap Revo dengan membicarakan fungsi dan efisiensi. Motor yang sering dianggap tidak bergengsi ternyata bisa menjadi kendaraan yang rasional di tengah biaya hidup dan harga bahan bakar yang perlu diperhitungkan. Revo tidak harus terlihat hebat untuk berguna.
Di situlah tulisan tersebut terasa dekat dengan pengalaman saya. Saya tidak pernah memilih Honda Revo agar dianggap keren. Ketika berdiri di dealer bertahun-tahun lalu, saya hanya memilih kendaraan yang saya pikir bisa digunakan. Saya tidak tahu bahwa pilihan sederhana itu kelak akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya.
Tulisan Seno membuat saya tertawa sekaligus mengingat kembali alasan memilih motor tersebut. Revo mungkin memang bukan kendaraan yang akan membuat orang terpukau. Tetapi bukankah kendaraan memang diciptakan untuk membawa manusia berpindah tempat? Ia membawa kita pergi bekerja, mencari nafkah, menemui orang yang dicintai dan akhirnya pulang.
Mungkin kita terlalu sering memberikan beban tambahan kepada benda. Sepeda motor tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan mesinnya, tetapi juga dari harga, model, tahun keluaran dan kesan yang ditimbulkannya. Dari sana kendaraan perlahan menjadi simbol kelas sosial. Motor baru terlihat seperti tanda keberhasilan, sementara motor lama mudah dianggap sebagai tanda keterbatasan.
Di Bali, hal semacam itu mudah kita lihat. Sepeda motor keluaran terbaru berseliweran di jalan, digunakan untuk bekerja, bersekolah, berbelanja atau sekadar bepergian. Ada orang yang memang membutuhkan kendaraan baru karena alasan teknologi, keamanan atau kenyamanan. Ada pula yang membelinya karena menyukai model tertentu. Semuanya memiliki alasan masing-masing.
Tetapi ada pula orang yang memilih kendaraan bekas karena harus menghitung banyak hal. Terutama para perantau yang hidup di Denpasar dengan biaya kos, makan, transportasi dan kebutuhan lain yang terus berjalan. Bagi mereka, sepeda motor bisa lebih tepat dipahami sebagai alat bertahan hidup daripada simbol keberhasilan. Saya mengenal logika itu.
Sepeda motor harus bisa mengantar ke tempat kerja. Harus bisa membawa pulang belanjaan. Harus bisa digunakan ketika ada urusan mendadak. Harus cukup irit agar uang tidak terlalu banyak habis di jalan. Kalau semua itu bisa dilakukan, persoalan apakah motor tersebut keluaran terbaru atau bukan menjadi urusan berikutnya.
Honda Revo saya mendapatkan makna lain karena perjalanan yang dilaluinya. Ada soal asmara dan kebersamaan saya dengan tunangan. Ada hari-hari ketika kami sama-sama berjuang di Denpasar. Ada perjalanan menyenangkan, ada pula perjalanan yang ditempuh sambil memikirkan pekerjaan, uang dan masa depan.
Motor itu menjadi saksi bagaimana dua orang mencoba bertahan hidup di sebuah kota. Karena itu, menjualnya terasa seperti sebuah kejahatan psikologis. Bagi orang lain, mungkin ia hanya Honda Revo bekas yang dapat ditaksir berdasarkan tahun produksi, kondisi mesin dan surat-surat. Bagi saya, ada sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan pedagang kendaraan, yakni, ingatan.
Sebuah benda bisa kehilangan nilai ekonominya dan pada saat yang sama memperoleh nilai emosional. Semakin lama digunakan, semakin banyak kejadian yang menempel padanya. Kita mungkin tidak mengingat semua perjalanan, tetapi kita mengingat perasaan yang menyertainya. Manusia memang sering memberikan ingatannya kepada benda.
Honda Grand saya dulu menyimpan cerita masa mahasiswa. Honda Revo menyimpan cerita kehidupan setelah masa yang lebih sulit. Ia juga menyimpan perjalanan bersama orang yang kemudian menjadi tunangan saya. Karena itu, menggantinya bukan sekadar perkara membeli kendaraan baru. Ada sejarah yang ikut ditinggalkan.
Saya sebenarnya bisa membeli sepeda motor baru. Kendaraan baru mungkin lebih nyaman, lebih canggih, lebih mengilap dan memiliki fitur lebih banyak. Tetapi ia harus memulai semuanya dari nol. Honda Revo tidak. Ia sudah melewati banyak jalan bersama saya dan sudah mengenal sebagian hidup yang tidak mungkin dituliskan dalam buku manual.
Di sinilah saya memahami kembali tulisan Yamadipati Seno. Yang menarik dari tulisannya bukan semata-mata pembelaan terhadap Honda Revo. Lebih dari itu, ia mengajak pembaca melihat sebuah benda dari kegunaannya, bukan semata-mata dari gengsinya. Motor yang dianggap “kasta bawah” ternyata dapat menjadi pilihan yang masuk akal bagi orang yang menghitung pengeluaran dan membutuhkan kendaraan untuk menjalani hidup.
Saya tidak tahu apakah Seno bermaksud sejauh itu ketika menulis artikelnya. Tetapi sebagai pembaca, saya mendapatkan pengalaman lain. Tulisan tentang sebuah motor membuat saya kembali mengingat ibu, masa setelah keluar dari rumah sakit, masa mahasiswa, kehidupan di Denpasar dan perjalanan bersama tunangan. Sebuah kendaraan tiba-tiba membuka pintu menuju begitu banyak ingatan.
Barangkali di situlah tulisan yang baik bekerja. Ia tidak hanya memberikan informasi tentang sesuatu yang sedang dibicarakan. Ia membuat pembaca menemukan kembali sesuatu dalam hidupnya sendiri. Artikel tentang Honda Revo itu akhirnya membuat saya membaca ulang sejarah saya melalui sebuah kendaraan yang selama ini saya anggap biasa.
Barang bekas mempunyai kehidupan kedua. Setelah berpindah tangan, ia mendapatkan cerita baru dari pemilik berikutnya. Saya menyukai gagasan bahwa sebuah benda tidak harus mati hanya karena sudah tidak baru. Manusia juga demikian. Kita hidup dengan bekas luka, kegagalan, kehilangan dan berbagai pengalaman yang membuat kita menjadi seperti sekarang.
Karena itu, saya tidak terlalu tertarik menentukan mana yang lebih bergengsi antara motor baru dan motor bekas. Keduanya memiliki fungsi dan pertimbangan masing-masing. Yang lebih menarik bagi saya adalah mengapa kita kadang merasa harus mengganti sesuatu yang masih berfungsi hanya karena lingkungan membuat kita merasa tertinggal.
Saya pun tidak selalu kebal terhadap perasaan semacam itu. Tetapi Honda Revo membuat saya belajar melihat benda secara berbeda. Tidak semua perubahan harus diwujudkan dengan membeli sesuatu yang baru. Ada benda yang justru layak dipertahankan karena telah menemani kita melewati masa yang tidak bisa dibeli kembali.
Selama masih bisa bekerja, mengantar dan membawa pulang orang yang saya cintai, saya tidak melihat alasan untuk merasa rendah karena kendaraan saya bukan keluaran terbaru. Motor tidak pernah tahu tahun produksinya. Ia hanya tahu kapan mesinnya dinyalakan dan ke mana ia harus membawa pemiliknya.
Selama Honda Revo itu masih mau menyala, saya ingin terus mengendarainya. Bukan karena saya tidak mampu membeli yang baru, melainkan karena ada beberapa hal yang terlalu berharga untuk ditukar dengan sesuatu yang sekadar lebih baru. Ada perjalanan yang tidak perlu diulang dengan kendaraan berbeda.
Mungkin tulisan Yamadipati Seno di Mojok.co membuat saya semakin memahami pilihan yang saya ambil belasan tahun lalu. Honda Revo memang bukan motor yang saya pilih untuk menunjukkan keberhasilan. Ia datang pada masa ketika seorang ibu ingin melihat anaknya kembali bahagia, lalu terus berjalan bersama saya melewati tahun-tahun berikutnya.
Bagi orang lain, ia mungkin hanya motor bekas. Bagi saya, ia adalah salah satu benda yang ikut menyimpan sejarah hidup. Ia membawa saya dari satu tempat ke tempat lain, tetapi tanpa saya sadari juga membawa sebagian masa lalu saya sampai hari ini. Sepeda motor bekas sudah cukup. Setidaknya bagi seseorang yang tahu persis ke mana motor itu pernah membawanya. [T]































