28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Luwan Têbén” | Sāstra dan Posisi Tidur Orang Bali

IG Mardi Yasa by IG Mardi Yasa
April 23, 2021
in Esai
“Luwan Têbén” |  Sāstra dan Posisi Tidur Orang Bali

Foto ilustrasi: Pementasan monolog Desi Nurani yang berjudul Mulut karya Putu Wijaya

Luwan têbén adalah konsep yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Keduanya digunakan dalam berbagai kegiatan dan berbagai bentuk. Kata luwan têbén berkaitan dengan kata hulu hilir. Keduanya memiliki arti yang sama namun penggunaannya kadang berbeda.

Hulu hilir biasanya digunakan dalam sistem aliran air. Air yang identik dengan pengaliran yang mana aliran air biasanya bersumber dari utara atau hulu dan mengalir ke selatan atau hilir. Selain konsep hulu-hilir ada juga konsep kaja kelod. Kaja kelod ini adalah petunjuk arah. Artinya arah yang ada di Bali itu memiliki  arti yang sama namun asal katanya yang berbeda atau bahasanya yang berbeda.

Luwan têbén, sejatinya istilah itu tengah kita gunakan dalam keseharian kita. Akan tetapi, jarang kita menayakan ke tetua kita apa sejatinya yang melatar belakangi adanya istilah itu. Salah satu contoh yang digunakan adalah adanya istilah luwan têbén yang digunakan dalam mengatur posisi tidur.  

Selain posisi tidur, di Bali sejatinya banyak ada cakepan atau hal-hal yang termuat di dalam sebuah catatan. Catatan itu bisa berupa lontar dan buku. Hal yang diatur dalam catatan itu dari hal-hal yang bersifat individual sampai yang bersifat umum.

Hal-hal yang bersifat individual salah satu satu contohnya tidur. Tidur adalah kegiatan yang lazim bahkan dilakukan setiap saat.  Dengan tidur berarti kita telah mengistirahatkan badan serta pikiran kita. Setiap orang memiliki cara serta gaya tidur yang berbeda–beda. Tidur pun memiliki tata cara yang telah diatur oleh sumber-sumber yang dapat kita jumpai sampai saat ini.

Tidur Dalam Jejering Sastra

Dharmayuda, 1995:06-07, mengungkapkan bahwa orang Bali berguru kepada alam. Artinya ketika orang Bali melakukan suatu kegiatan apalagi kegiatan tidur, maka manusia berpegangan teguh terhadap suatu konsep yakni luan teben [hulu hilir]. Manusia Bali tidur kepalanya menghadap ke utara dan ke timur. Ketika kepala menghadap ke selatan dan ke barat dipercaya akan menemukan suatu permasalahan dalam dirinya.

Konsep luan teben ini sering dikatkan dengan istilah segara giri [nyegara gunung] atau pasir-wukir. Selain itu, manusia juga berguru kepada matahari, jika matahari muncul dari timur maka matahari ini menyimbolkan suatu sumber yang terang atau [widya, dengan terbitnya matahari berati terang dimulai sehinga timur adalah lambang kesadaran. Sedangkan di barat merupakan simbol tenggelamnya matahari yang diidentikkan dengan kegelapan [awidya] sehingga barat adalah simbol kebodohan.

Sastra sejatinya membahasa banyak hal sampai tidur pun di bahasa dalam sastra. Sastra yang membahas tentang tata letak kepala pada saat  tidur adalah Niti Sastra yang berbunyi:

Huluwanta ng supta juga hilingaken, ngwang majar tinging aji pituhumen, yan ring purwayusanira madawa, yapwan ring uttara dhana katemu,

[Perhatikan tempat letak kepalamu di waktu tidur, beginilah pelajaran dari sastra–sastra, jika letak kepalamu di timur akan panjang umurmu,  jika di utara, engkau akan mendapatkan kekayaan.]

 Dari kutipan di atas, kita ketahui bersama bahwa kita diajarkan untuk mematuhi sastra agar apa yang kita harapkan sedikit tidaknya dapat tercapai. Salah satunya dengan tidur, bahwa teks di atas sangat jelas menguraikan bahwa ketika kita tidur letak kepala berada di timur ataupun di utara. Karena dalam teks diuraikan bahwa letak kepala kita ketika tidur harus berada di utara ataupun di barat.

Dalam keseharian masyarakat Bali, banyak para tetua saya berpesan kepada generasi yang ada di sekeliling bahwa pesan yang disampaikan dalam sastra amat penting untuk kita implementasikan dalam keseharian kita. Kadang kala tetua memberikan  pesan–pesan dengan menggunakan suatu guyonan atau pun dengan menggunakan suatu istilah–istilah yang mungkin sukar untuk dicari artinya. Kadang juga tetua memberikan suatu pesan dengan menggunakan suatu metode tertentu dan sering mengungkapkan suatu dengan melihat realita yang terdapat di lapangan.

Dengan pernyataan di atas adakah dampak yang ditimbulkan ketika kita pada saat tidur tidak mengikuti anjuran tersebut? Untuk menjawab hal tersebut maka kita hendaknya membaca kembali sebuah sumber sastra yakni Niti Sastra yang berbunyi:

Paccat uhwan hulu patining asih, mitrantelik taya karananika, yapwan ring daksina pati maparek, mangde goka bhramarawilasita.

[Jika letak kepalamu di barat kehilangan cinta, engkau akan dibenci sahabat–sahabatmu, jika menghadap ke selatan pendek umurmu, menyebabkan rasa duka cita.]

Dari kutipan di atas sangat jelas diungkapkan bahwa jika kita tidur kepala menghadap ke barat maka kita akan kehilangan cinta dan dicaci oleh sahabat. Sedangkan ketika kita tidur kepala menghadap ke selatan maka kita akan menemukan rasa duka cita. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah, sampai kapankah ini berlaku di tengah arus perkembangan zaman? Dan apakah betul seperti itu? Untuk menjawab hal tersebut maka perlu untuk dilakukan sebuah telaah yang lebih dalam lagi. [T]

Tags: balisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Omah Apik, Tak Sekadar Penginapan | Ini “Hub” Bernuansa Berkelanjutan

Next Post

Refleksi Media Sosial dalam Karya Lukisan

IG Mardi Yasa

IG Mardi Yasa

Lahir dan besar dan tinggal di Bukit Tunggal, sekarang sedang menempuh pendidikan.

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Media Sosial dalam Karya Lukisan

Refleksi Media Sosial dalam Karya Lukisan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co