Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri?
PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi semakin lama direnungkan, semakin sulit menemukan jawabannya. Kita hidup dalam zaman ketika diri tidak hanya dijalani, tetapi juga ditampilkan. Kita memilih foto yang paling layak dipasang, menyusun kalimat yang paling pantas dibaca orang lain, menentukan apa yang perlu diperlihatkan dan apa yang sebaiknya disembunyikan. Media sosial membuat kehidupan sehari-hari seperti memiliki sebuah panggung yang selalu terbuka.
Dulu, seseorang mungkin bertanya, “Siapa saya?” Kini pertanyaan itu sering bergeser menjadi, “Bagaimana saya terlihat?” Keduanya tampak serupa, tetapi sesungguhnya berbeda jauh. Pertanyaan pertama mencari kebenaran tentang diri. Pertanyaan kedua mencari persepsi tentang diri.
Di antara keduanya terdapat sebuah wilayah yang semakin kabur: keaslian.
Kita mengenal istilah personal branding. Kita belajar mengelola citra, membangun reputasi, memilih kata, foto, gaya hidup, bahkan cara memperlihatkan kesuksesan. Algoritma pun ikut menentukan apa yang layak mendapat perhatian. Identitas akhirnya tidak lagi sekadar sesuatu yang kita miliki, tetapi menjadi semacam proyek komunikasi: sesuatu yang terus-menerus kita susun, kemas, dan tawarkan kepada orang lain. Lalu muncul pertanyaan yang lebih mengganggu: ketika terlalu lama memainkan peran, apakah kita masih tahu wajah kita sendiri?
Panggung yang Kita Bangun Sendiri
Erving Goffman pernah menggambarkan kehidupan sosial seperti sebuah pertunjukan teater. Ada front stage, tempat kita tampil di hadapan orang lain sesuai dengan tuntutan situasi sosial. Ada pula back stage, ruang ketika kita dapat melepaskan sebagian tuntutan itu dan menjadi lebih longgar terhadap diri sendiri.
Seorang dosen tidak berbicara kepada mahasiswa sebagaimana ia berbicara dengan teman dekatnya. Seorang pemimpin tidak selalu memperlihatkan kegelisahannya kepada bawahannya. Bahkan seseorang yang tampak sangat percaya diri di hadapan publik mungkin pulang ke rumah dan diam-diam mempertanyakan dirinya sendiri.
Apakah itu berarti semua orang berpura-pura? Tidak sesederhana itu. Kita memang membutuhkan peran agar kehidupan sosial dapat berlangsung. Seorang ibu menjalankan peran sebagai ibu, seorang guru sebagai guru, seorang sahabat sebagai sahabat. Peran bukan selalu kebohongan. Dalam banyak keadaan, peran justru merupakan cara kita bertanggung jawab terhadap posisi sosial yang sedang kita jalani.
Carl Rogers, melalui gagasan tentang congruence, membawa kita kepada persoalan yang lebih dalam: apakah terdapat keselarasan antara pengalaman yang kita rasakan, kesadaran kita terhadap pengalaman itu, dan bagaimana kita mengekspresikannya?
Di sinilah masalah keaslian mulai muncul.
Seseorang bisa terlihat bahagia sementara di dalam dirinya sedang mengalami kesedihan. Ia bisa mengatakan “tidak apa-apa” ketika sebenarnya terluka. Ia dapat memamerkan keberhasilan ketika diam-diam merasa gagal. Semakin besar jarak antara apa yang dialami, apa yang disadari, dan apa yang ditampilkan, semakin jauh pula seseorang dari dirinya sendiri.
Namun Carl Jung mengingatkan kita untuk tidak buru-buru memusuhi persona. Persona—topeng sosial—bukan musuh manusia. Ia diperlukan agar kita dapat hidup bersama orang lain. Kita tidak mungkin membawa seluruh isi batin ke setiap ruang sosial. Ada hal-hal yang memang hanya layak dibagikan kepada orang tertentu, pada waktu tertentu. Dengan demikian, persoalannya bukan karena manusia memakai topeng. Persoalannya adalah ketika kita mulai mengira topeng itu adalah wajah.
Seseorang yang terlalu lama memainkan citra tertentu dapat akhirnya lupa bahwa citra itu hanyalah salah satu kemungkinan dari dirinya. Ia bukan lagi sekadar menggunakan persona; ia mulai hidup untuk mempertahankan persona tersebut.
Pada titik itu, pertanyaan “Siapa saya?” berubah menjadi “Apa yang harus saya tampilkan agar tetap dianggap sebagai saya?”
Dan barangkali di situlah keaslian mulai kehilangan tempat.
Kita Tidak Pernah Benar-Benar Melihat Orang Lain
Fenomenologi membawa kita pada kesadaran yang lebih menggelisahkan.
Dalam kehidupan sehari-hari kita merasa mengenal seseorang. Kita mengatakan, “Dia orang baik.” “Dia tulus.” “Dia tidak bisa dipercaya.” “Saya tahu seperti apa dirinya.”
Tetapi, benarkah kita sungguh-sungguh mengetahui seseorang?
Ketika berhadapan dengan orang lain, yang hadir di hadapan kita adalah penampakan dirinya: perkataan, tindakan, ekspresi wajah, cara berjalan, cara memperlakukan orang lain, unggahan media sosial, dan berbagai tanda lain yang dapat kita alami.
Kita tidak pernah melihat langsung niat terdalamnya.
Ketika seseorang tersenyum kepada kita, kita mengalami senyum itu. Tetapi kita tidak pernah bisa masuk ke dalam kesadaran orang tersebut untuk memastikan apa sesungguhnya yang terjadi di balik senyum itu. Ia mungkin tersenyum karena bahagia. Mungkin karena sopan. Mungkin karena sedang menyembunyikan kesedihan. Mungkin pula karena ia tidak ingin kita mengetahui sesuatu.
Yang kita miliki hanyalah pengalaman tentang dirinya sebagaimana ia menampakkan diri kepada kita. Di sinilah identitas menjadi sesuatu yang rumit. Kita sering mengira bahwa diri seseorang adalah sesuatu yang dapat kita lihat secara utuh dari luar. Padahal manusia selalu lebih luas daripada apa yang tampak. Ada pengalaman masa lalu yang tidak kita ketahui, ketakutan yang tidak pernah ia ceritakan, luka yang sengaja ia sembunyikan, harapan yang belum pernah ia ungkapkan.
Bahkan seseorang yang sangat dekat dengan kita tetap menyisakan sebuah wilayah yang tidak dapat kita masuki sepenuhnya.
Barangkali ini pula yang membuat identitas manusia tidak pernah selesai.
George Herbert Mead menunjukkan bahwa diri tidak tumbuh dalam kesendirian. Kita menjadi “aku” melalui hubungan dengan “yang lain”. Kita mengenali diri melalui bagaimana orang lain memandang, merespons, dan memperlakukan kita.
Charles Taylor kemudian mengingatkan pentingnya recognition, pengakuan dari orang lain. Manusia membutuhkan pengalaman bahwa keberadaannya dilihat dan dihargai. Identitas yang sehat tidak tumbuh dalam ruang hampa.
Namun di zaman media sosial, kebutuhan akan pengakuan itu memperoleh bentuk baru. Kita tidak hanya ingin diterima oleh orang-orang yang dekat dengan kita. Kita juga dapat mengejar pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak mengenal kita.
Jumlah likes, komentar, pengikut, dan keterlibatan menjadi semacam cermin sosial.
Masalahnya, cermin digital hanya memperlihatkan apa yang berhasil kita tampilkan.
Ia tidak memperlihatkan seluruh diri.
Kita pun berhadapan dengan paradoks: semakin banyak orang melihat kita, belum tentu semakin banyak orang mengenal kita. Bahkan mungkin sebaliknya.
Kita bisa sangat dikenal sebagai citra, tetapi tetap tidak dikenal sebagai manusia.
Menjadi Diri Sendiri Adalah Pekerjaan yang Tidak Pernah Selesai
Søren Kierkegaard pernah mengingatkan betapa besar persoalan menjadi diri sendiri. Kalimat “jadilah dirimu sendiri” terdengar seperti nasihat sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan tugas yang berat. Sebab diri bukan sesuatu yang tinggal kita temukan seperti barang yang tersimpan di dalam laci. Diri adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan.
Kita berubah karena usia, pengalaman, kegagalan, kehilangan, cinta, pekerjaan, keluarga, dan perjumpaan dengan orang lain. Karena itu, menjadi diri sendiri bukan berarti mempertahankan diri agar tidak berubah. Justru sebaliknya.
Menjadi diri sendiri berarti mampu berubah tanpa kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari diri kita. Di sini pemikiran Paul Ricoeur menjadi penting. Ia membedakan identitas idem—kesamaan atau keberlangsungan sesuatu sebagai “yang sama”—dengan ipse, yakni identitas diri sebagai pribadi yang terus membangun dan mempertanggungjawabkan dirinya.
Tubuh kita berubah. Pekerjaan kita dapat berganti. Cara berpakaian berubah. Pendapat dapat berkembang. Bahkan pandangan kita tentang dunia bisa berbalik setelah mengalami peristiwa tertentu. Tetapi kita tetap dapat menjadi diri kita sendiri apabila ada kesinambungan dalam kesetiaan terhadap nilai, janji, dan tanggung jawab.
Maka keaslian tidak harus dicari dalam pertanyaan, “Apakah saya masih sama seperti dulu?” Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: “Di tengah semua perubahan itu, apa yang masih saya pertahankan sebagai sesuatu yang sungguh saya yakini?” Sebab manusia yang otentik bukan manusia yang tidak pernah berubah. Ia adalah manusia yang tidak sepenuhnya kehilangan dirinya ketika berubah.
Kalau Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Seseorang, Bagaimana Mungkin Kita Mencintai?
Sampai di sini kita berhadapan dengan sebuah paradoks. Jika kita tidak pernah dapat mengetahui niat seseorang secara utuh, bagaimana mungkin cinta ada? Jika identitas seseorang selalu menyisakan ruang yang tidak dapat kita akses, bagaimana mungkin persahabatan dapat tumbuh?
Jika kita hanya berhadapan dengan penampakan, bagaimana mungkin kita mempercayai seseorang? Justru di sinilah barangkali letak keindahannya. Cinta tidak membutuhkan pengetahuan yang sempurna. Persahabatan tidak membutuhkan akses penuh ke dalam diri orang lain. Dan kepercayaan tidak lahir karena kita telah mengetahui seluruh isi hati seseorang.
Kepercayaan justru muncul ketika kita menyadari bahwa kita tidak mungkin mengetahui semuanya—tetapi kita memilih untuk memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri. Mempercayai seseorang berarti menerima bahwa sebagian dirinya akan selalu menjadi misteri.
Kita tidak pernah benar-benar memiliki seseorang. Kita hanya berjumpa dengannya dalam berbagai penampakan: melalui kata-kata, tindakan, keheningan, perhatian, janji, dan pilihan-pilihan kecil yang ia lakukan.
Karena itu, mencintai seseorang barangkali bukan berarti berkata, “Aku tahu siapa dirimu sepenuhnya.” Melainkan: “Aku tahu bahwa aku tidak akan pernah mengetahui seluruh dirimu, tetapi aku memilih untuk tetap mempercayaimu.”
Di dalam kesadaran akan keterbatasan itulah cinta menjadi lebih dewasa. Kita tidak lagi menuntut orang lain untuk sepenuhnya terbuka kepada kita. Kita tidak memaksa semua misteri menjadi penjelasan. Kita belajar menerima bahwa manusia selalu memiliki ruang batin yang bahkan orang terdekat sekalipun tidak dapat masuki.
Dan mungkin kita pun perlu memberikan hak yang sama kepada diri sendiri.
Bahwa kita tidak harus menjelaskan seluruh diri kita kepada dunia. Tidak semua yang kita rasakan harus menjadi unggahan. Tidak semua luka harus menjadi cerita. Tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton. Ada bagian dari diri yang justru menjadi otentik karena ia tidak dipertontonkan.
Wajah yang Tersisa Setelah Topeng Dilepas
Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak pernah benar-benar hidup tanpa topeng.
Dan mungkin itu bukan persoalannya. Kita membutuhkan persona untuk bekerja, berteman, memimpin, mengajar, mencintai, bahkan untuk bertahan dalam kehidupan sosial. Kita semua memiliki berbagai versi diri yang muncul dalam situasi berbeda.
Yang perlu kita waspadai adalah ketika kita mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan peran dan diri. Ketika citra menjadi lebih penting daripada pengalaman. Ketika pengakuan orang lain lebih menentukan daripada suara batin. Ketika kita tidak lagi bertanya apakah hidup kita sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang kita yakini, melainkan hanya apakah hidup kita terlihat baik di mata orang lain.
Mungkin karena itu, menjadi otentik bukan berarti hidup tanpa topeng. Menjadi otentik adalah mengetahui bahwa kita sedang mengenakan topeng—dan tidak pernah lupa bahwa kita bukanlah topeng itu. Sebab pada akhirnya, kita semua akan pulang dari panggung. Lampu akan dipadamkan. Penonton akan pergi. Layar akan gelap. Likes akan berhenti bertambah. Citra yang kita bangun perlahan kehilangan relevansinya.
Dan kita akan berhadapan dengan diri sendiri.
Pada saat itulah pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit mungkin kembali datang: Siapa saya ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat?
Semakin bertambah usia, saya tidak lagi mencari manusia yang sama sekali tidak memakai topeng. Saya tahu itu hampir mustahil. Saya pun tahu bahwa saya sendiri memiliki banyak topeng yang diperlukan untuk menjalani kehidupan.
Saya hanya berharap masih dapat bertemu seseorang yang, ketika topeng itu perlahan dilepas, wajah yang tertinggal tidak terlalu jauh berbeda dari apa yang selama ini ia tunjukkan.
Menurut saya, mungkin itulah salah satu bentuk keaslian. Dan mungkin pula, itulah definisi sederhana dari kedewasaan: bukan berhenti memakai topeng, melainkan tidak sampai lupa seperti apa wajah kita ketika topeng itu dilepas.[T]
Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Jaswanto



























