24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
in Esai
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

Ilustrasi tatkala | Sumber: Canva

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini seharusnya atau bahan harus seperti ini karena ini adalah berdasarkan ideologi, paham dan keinginan yang dianut.

Sebagai contoh , ketika melakuan advokasi untuk kesejahteraan hewan, titik permulaannya sering kali berdasarkan pada aspirasi normatif seperti harus “bertindak etis terhadap hewan” dan “berbelas kasih pada hewan”. Aspirasi normatif tersebut tidak keliru. Namun ketika hal tersebut menjadi titik pangkal dan dasar kebijakan, patut  memeriksa dengan teliti dan cermat bahkan bersikap skeptis. Aspirasi normatif itu boleh jadi hanya slogan saja.

Oleh karena itu, yang harus menjadi titik pangkal adalah lima prinsip. Lima prinsip tersebut adalah:

  1. Daratan, lautan dan matahari serta organisme merupakan realitas materi. Ada kondisi materil yang mana manusia harus bertindak sesuai dengan kondisi tersebut. Sebagai contoh, adalah realitas materi bahwa tiap species hewan bahkan varietas hewan dalam satu spesies membutuhkan makanan yang tidak sama
  • Realitas materi tidak mentoleransi penipuan, delusi dan khayalan.  Niat, rasa percaya, hukum dan klaim tidak dapat melampaui realitas materi. Klaim dan kepercayaan yang keliru dapat bertahan lama, tapi konsekuensi material tak terelakkan membatasi apa yang dapat manusia capai.\
  • Untuk Menerapkan aturan dan hukum tertulis selalu membutuhkan sumber daya materi.  Setiap hukum yang tertulis membutuhkan gabungan dari manusia, waktu, pengetahuan, infrastructure, energi, uang, perlengkapan, administrasi, penegakkan , pemeliharaan dan biaya tak terduga. Penggunaan sumber daya materi yang tidak sesuai untuk penegakan hukum dan aturan dapat menjadikan hukum itu hanya tulisan di atas kertas jika masyarakat merasa hukum tidak berjalan atau membebani karena jumlah biaya materi yang dikeluarkan jauh lebih besar daripada hasil yang diharapkan. Penegakkan hukum pasti melibatkan aparat penegak hukum yang harus diberi kompensasi, tunjangan, bonus , infrastruktur jalan untuk mobil angkutan, energi listrik untuk operasi gedung, laboratorium dan energi bahan bakar untuk kendaraan.
  • Manusia adalah mahluk yang respons pada insentif dimana tindakan yang manusia lakukan itu terutama untuk mendapat sesuatu yang ia inginkan dan menghindari sesuatu yang ia inginkan. Insentif dapat berupa materi, fisik, ekonomi, sosial, politik, metafisika, psikologis , dan kehidupan setelah mati. Lembaga , organisasi dan lingkungan mempengaruhi perilaku dan sikap manusia sebagian dengan cara mengubah dan mengendalikan insentif diantara pilihan pilihan yang ada. Hukum memberikan insentif negative dimana jika manusia melanggar hukum ini akan mendapat sanksi hukum, materi bahkan sosial. Sikap masyarakat terhadap suatu hal merupakan faktor insentif juga karena jika sikap masyarakat menekankan pentingnya perlindungan hewan, orang punya insentif untuk mendapat pengakuan sosial dan keuntungan sosial dengan memperlakukan hewan dengan layak.
  • Setiap manusia hidup dalam ruang dan waktu. Maka dari itu manusia selalu punya orientasi jangka waktu. Entah itu pendek yaitu hari ini sampai lima tahun ke depan. Jangka menengah yaitu dari lima tahun sampai lima belas tahun mulai hari ini. Jangka panjang dimana dari lima belas tahun sampai tujuh puluh lima tahun dari sekarang . Jangka peradaban  yaitu tujuh puluh lima tahun sampai tiga ratus tahun dari moment pagi ini. Jangka ilaiah dan cosmos yaitu di luar estimasi manusia karena itu pada ranah metafisika dan kehidupan setelah mati

Di Indonesia Undang undang nomor 41 tahun 2014 pasal 66 mengatur lima asas kesejahteraan hewan :

  1. Bebas dari rasa lapar dan kekurangan gizi;
  2. Bebas dari ketidaknyamanan;
  3. Bebas dari rasa luka dan penyakit;
  4. Bebas dari rasa taju dan tertekan;
  5. Bebas untuk mengekspesikan pola perilaku normal.1

Ketika saya sering mendengar orang mengadvokasi kesejehteraan anjing, saya duduk dan berpikir sambil menikmati teh manis.Sambil menghilangkan haus , saya mengusulkan dua belas pertanyaan mengenai hal ini. Enam pertanyaan yang berasal dari prinsip satu dan enam pertanyaan lainnya berasal dari prinsip dua

Prinsip satu: Organisme adalah realitas materi

  1. Apakah anjing memperoleh akses ruang yang layak untuk berlari dan bermain
  2. Apakah ada tempat teduh yang layak untuk melindungi anjing dari panas matahari dan hujan badai
  3. Apakah anjing memperoleh akses terhadap air bersih untuk minum, menyegarkan dan memberishkan badannya
  4. Apakah   lingkungan fisik yang aning tempati bebas dari bahan kimia beracun, benda tajam, polusi dan penyakit rentan?
  5. Apakah anjing dapat sinar matahari cukup untuk menjaga siklus tidurnya dan peroleh cukup vitamin D dan makanan yang layak?
  6. Apakah permukaan tanah di mana anjing berjalan di atasnya aman bagi telapak kaki anjing tanpa menyebabkan cedera

Prinsip dua:  Realitas materi tidak mentoleransi penipuan, khalayan dan delusi

  • Apakah kita sedang memantau kesehatan anjing yang sesungguhnya atau hanya berhadap anjing tetap sehat?
  • Apakah anjing diberi makanan beradasarkan kesehatan dan fisik yang dibutuhkan dan cocok berdasarkan  kedokteran hewan yang terbukti ilmiah atau memberikan anjing makanan berdasarkan iklan dan keinginan manusia?
  • Apakah kita menangani kebutuhan biologis anjing yang sesungguhnya atau  memperlakukan anjing seperti manusia atau hewan lain?
  • Apakah pemilik dan perawat anjing menerima naluri alamiah anjing ali-alih menghukum anjing karena mengekspresikan perilaku normal anjing?
  • Apakah stamina fisik anjing telah diukur secara akurat melalui berat badan, energi yang dikonsumsi, dan ototnya?
  • Apakah kita memverifikasi bahwa anjing itu bebas dari rsa sakit dengan mengunakan pemeriksaan kedokteran hewan yang layak?

Jadi untuk mengadvokasi kesejahteraan hewan, niat, rasa iba dan sentimentalitas tidak cukup. Minimal harus mengetahui realitas materi dari hewan tersebut. Ini dapat menjadi suatu masukan bagi orang yang menyayangi hewan dan mengadvokasi hewan. Berlaku juga bagi yang menegakkan hukum mengenai perlindungan termasuk mencegah kekerasaan dan perlakuan tak pantas pada hewan.

Sumber:

  1. Aturan Hukum Pentingnya Memenuhi Standar Kesejahteraan Hewan Ternak. Animals Don’t Speak Human. September 3, 2022 https://animalsdontspeakhuman.org/hewan-diternak/aturan-hukum-pentingnya-memenuhi-standar-kesejahteraan-hewan-ternak/. Diakses tanggal 24 September 2026
Tags: faunahewan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co