24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

Jaswanto by Jaswanto
September 24, 2026
in Khas
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput liar | Foto: Istimewa

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu (23/9/2026) siang. Perupa, pelukis, penulis, sekaligus akademisi asal Bali yang aktif mengkaji seni rupa, budaya visual, dan tradisi lokal Bali itu, mengonfirmasi kondisi cagar budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang rupanya tak terawat sebagaimana mestinya.

Bale Kulkul Puri Pemecutan merupakan peninggalan sejarah dari abad ke-17. Berdiri di sudut barat daya perempatan (bencingah) kompleks Puri Agung Pemecutan Kuno, Denpasar, Bali, saat seluruh kompleks puri hancur dilalap api, Bale Kulkul ini menjadi satu-satunya struktur bangunan asli yang tersisa, utuh, dan tidak ikut terbakar saat Perang Puputan Badung pecah pada 1906.

Pada Minggu, 20 September 2026, bertempat di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Kota Denpasar, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar melaksanakan kegiatan penyerahan sertifikat Situs Cagar Budaya Kota Denpasar untuk tiga situs, yakni Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno, Pura Desa Bale Agung lan Puseh Desa Adat Tonja, dan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Denpasar.

Menurut keterangan takarir di akun Instagram Disbud Denpasar, penyerahan sertifikat ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan dan pelestarian warisan budaya di Kota Denpasar. “Bukan sekadar sebuah sertifikat, tetapi menjadi pengingat bersama akan pentingnya menjaga nilai sejarah, budaya, dan identitas yang diwariskan oleh para leluhur,” begitu keterangan foto penyerahan sertifikat yang diunggah Disbud Denpasar di akun Instagramnya empat hari lalu.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput liar | Foto: Istimewa

Jauh Panggang dari Api

Cagar budaya sering dipahami sebagai peninggalan masa lalu yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Bangunan tua, situs arkeologi, kawasan bersejarah, hingga struktur yang menyimpan jejak kehidupan masyarakat pada masa lampau bukan sekadar benda mati. Di dalamnya terdapat pengetahuan, ingatan, identitas, dan cerita tentang bagaimana sebuah masyarakat terbentuk.

Karena itu, negara menempatkan cagar budaya sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bahkan menegaskan bahwa negara bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya. Pengelolaannya juga melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Sementara itu, dalam konteks situs cagar budaya di Kota Denpasar, pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Cagar Budaya.

Namun, semua itu seperti jauh panggang dari api saat melihat kondisi, khsusunya, situs cagar budaya Bale Kulkul Puri Pemecutaan Kuno yang banyak diitumbuhi rumput dan semak liar―yang bisa saja merusak struktur bangunan situs. Belukar itu hidup nyaman, tumbuh di sela-sela ukiran dan nyaris menyelimuti bangunan. Kondisi ini juga sangat bertentangan dengan Kota Denpasar yang dianggap sebagai Kota Pusaka, Heritage City.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput dan tumbuhan liar | Foto: Istimewa

“Program pemkot (atau pemerintah pada umumnya) sebenarnya bagus, penetapan CB (cagar budaya), dll. Tetapi selalu berhenti pada tahap inventaris sampai penetapan. Padahal, bagian terpenting dari, katakanlah, perlindungan cagar budaya adalah pengetahuan masyarakat sekitar dalam merawat atau menjaga objeknya,” kritik Ajik Dewa, panggilan akrab Dewa Purwita Sukahet.

Menurutnya, kasus semacam ini kemungkinan tidak hanya terjadi kepada Bale Kulkul Puri Pemecutan, pun terhadap banyak situs cagar budaya di Bali, di mana pun. “Sepertinya begitu. Di Buleleng kan banyak juga objek CB yang kasusunya sama,” tuturnya.

Benar. Cagar budaya memang membutuhkan perawatan secara rutin. Kondisinya harus dipantau, lingkungan sekitarnya dikendalikan, data diperbarui, dan kemungkinan kerusakan harus dideteksi sejak awal. Kementerian Kebudayaan pada 2026 juga menekankan bahwa tantangan pelestarian bukan hanya mengenai besarnya anggaran, tetapi terutama keberlanjutan pembiayaan. Pemeliharaan rutin, pengawasan, data, serta sumber daya manusia tetap dibutuhkan setelah sebuah proyek fisik selesai.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi rumput liar | Foto: Istimewa

Dengan demikian, logika proyek tidak selalu cocok diterapkan pada cagar budaya. Sebuah situs tidak dapat diperlakukan seperti jalan yang selesai diperbaiki lalu ditinggalkan sampai mengalami kerusakan berikutnya. Ia membutuhkan perhatian yang terus-menerus.

Hal-Hal yang Perlu Dilakukan

Mengenai masalah tersebut, Ajik Dewa menawarkan beberapa hal yang bisa dilakukan, khsusnya, oleh Pemerintah Kota Denpasar. Pertama, mengupayakan edukasi terkait pemeliharaan objek cagar budaya. “Sekarang kan banyak media edukasinya, bisa online atau offline,” ujarnya. “Masyarakat tidak dapat diharapkan ikut menjaga objek cagar budaya apabila mereka tidak mengetahui nilai penting, kondisi, serta cara memperlakukannya dengan benar,” sambungnya.

Edukasi mengenai pemeliharaan cagar budaya dapat dilakukan melalui dua jalur yang saling melengkapi, yakni secara luring dan daring. Edukasi luring dapat dilakukan melalui kunjungan ke situs, pameran, lokakarya, diskusi, pelatihan, kegiatan bersama sekolah, komunitas, maupun masyarakat di sekitar kawasan cagar budaya. Melalui pertemuan langsung, masyarakat dapat melihat kondisi objek, memahami bagian-bagian yang rentan mengalami kerusakan, sekaligus belajar mengenai tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan.

Pendekatan semacam ini penting karena pemeliharaan cagar budaya bukan hanya pekerjaan tenaga ahli. Ada tindakan-tindakan yang dapat dilakukan oleh masyarakat, seperti tidak menyentuh bagian tertentu dari objek, tidak mencoret permukaan bangunan, tidak memindahkan benda, menjaga kebersihan lingkungan situs, serta melaporkan apabila menemukan kerusakan atau aktivitas yang berpotensi mengancam keberadaan cagar budaya.

Namun, edukasi tidak harus selalu menunggu masyarakat datang ke situs. Perkembangan teknologi digital membuka ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan cagar budaya sekaligus mengajarkan cara menjaganya. Pemerintah, lembaga kebudayaan, komunitas, dan pengelola situs dapat memanfaatkan media sosial, laman resmi, video pendek, infografik, podcast, webinar, hingga tur virtual sebagai sarana edukasi.

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan Kuno yang ditumbuhi tumbuhan liar | Foto: Istimewa

Kedua, membuat peta sebaran objek CB di Denpasar. “Supaya masyarakat tahu dan ngeh dengan keberadaan cagar budaya di sekitar meraka. Narasi CB ini memang penting untuk di-up,” ujar Ajik Dewa.

Peta yang dimaksud Aji Dewa bertujuan untuk mengetahui di mana objek cagar budaya berada. Pemerintah daerah dapat menyusun peta sebaran objek cagar budaya yang memuat lokasi, jenis, status penetapan, kondisi, serta informasi penting lainnya mengenai setiap objek. Peta semacam ini bukan sekadar penunjuk lokasi, tetapi dapat menjadi basis data spasial untuk membantu pemerintah memahami sebaran dan kondisi cagar budaya dalam suatu wilayah.

Peta sebaran menjadi penting karena objek cagar budaya tersebar di berbagai tempat, mulai dari kawasan perkotaan, pedesaan, pesisir, hingga wilayah yang sulit dijangkau. Tanpa informasi spasial yang memadai, pengawasan dan pemeliharaan berpotensi dilakukan secara tidak merata. Pemerintah dapat mengetahui objek mana yang berada dalam kawasan rawan pembangunan, objek yang berada di lingkungan padat penduduk, maupun situs yang membutuhkan perhatian lebih karena berada jauh dari pusat pemerintahan.

Peta tersebut juga dapat dilengkapi dengan informasi mengenai tingkat kerentanan setiap objek. Misalnya, objek yang terancam oleh abrasi, banjir, longsor, pertumbuhan permukiman, pembangunan infrastruktur, vandalisme, atau faktor lingkungan lainnya dapat ditandai secara khusus. Dengan demikian, peta tidak berhenti sebagai daftar lokasi, tetapi berkembang menjadi instrumen untuk menentukan prioritas pemantauan dan tindakan pelestarian.

Lebih jauh, peta sebaran cagar budaya dapat dibuka kepada masyarakat melalui platform digital yang mudah diakses. Masyarakat dapat mengetahui keberadaan situs di sekitar tempat tinggalnya, mempelajari sejarahnya, serta mendapatkan informasi mengenai aturan kunjungan dan cara ikut menjaga objek tersebut. Bagi sekolah dan komunitas, peta dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengenali sejarah lokal dan melihat hubungan antara satu situs dengan situs lainnya dalam suatu kawasan.

“Kalau kondisinya terus begini, ya berarti formalitas aja penetapannya,” kata Ajik Dewa sembari membubuhkan emoticon tertawa.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bale Kulkul Puri PemecutanKota DenpasarSitus Cagar Budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co