Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan, 11-13 September 2026. Membawa tiga perupa: I Wayan Sujana Suklu, Ni Nyoman Sartini, dan I Nyoman Darmadi. Pertama kali pertama terlibat event internasional, sebelumnya hanya tampil local dan nasional.
Istimewa, terasa berbeda ketika sebuah ruang seni yang tumbuh dari lingkungan komunitas kemudian memasuki sebuah perhelatan seni berskala internasional. Bukan semata karena ruang itu akhirnya mendapatkan panggung yang lebih besar, melainkan karena perjalanan panjang yang berlangsung di ruang kecil tiba-tiba memperoleh kesempatan untuk dibaca oleh publik yang lebih luas. Tiga nama ini bukan sekadar tiga seniman yang kebetulan berada dalam satu ruang pamer. Mereka membawa lapisan sejarah yang berbeda, sekaligus beririsan, tentang bagaimana sebuah ruang seni di Bali dapat tumbuh dari komunitas, material, pertemanan, eksperimen, dan kerja lintas batas.


Art & Bali 2026 sendiri mempertemukan 23 galeri, ruang seni, kolektif, dan studio dari Indonesia serta kawasan regional, dengan lebih dari 300 seniman. Batu Belah Art Space tercatat secara resmi sebagai salah satu peserta. Dalam daftar yang sama terdapat Gurat Art Project, Mabiang Seni, Pintu Saren, Santrian Art Gallery, TONYRAKA Art Gallery, serta sejumlah ruang dan galeri dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Malang, Kuala Lumpur, Barcelona, hingga Amerika Serikat.¹
Dari Lepang ke Nuanu
Batubelah Art Space tumbuh di Lepang, Klungkung-Bali, jauh dari kesan glamor sebuah art fair internasional. Sejarahnya justru dekat dengan hal-hal yang sangat sederhana: kaca, cerita, anak-anak, seniman, lingkungan, dan keinginan untuk membuka ruang belajar.
Kajian mengenai Batubelah mencatat bahwa komunitas lukis kaca tersebut berdiri pada 2007 atas prakarsa I Wayan Sujana “Suklu”. Komunitas ini kemudian berkembang sebagai ruang pendidikan seni dan eksperimen, termasuk menggunakan limbah kaca sebagai medium.²
Dari sinilah mungkin kita perlu melihat Batubelah dengan cara berbeda. Ia adalah ruang yang dibangun melalui proses. Ada anak-anak yang belajar, seniman yang bereksperimen, material yang dianggap tidak berguna kemudian memperoleh kehidupan baru, cerita lokal yang ditafsirkan kembali.
Ada seniman yang datang dan pergi, gagasan yang tumbuh dari perjumpaan. Maka ketika Batubelah sampai di Art & Bali, yang sebenarnya melakukan perjalanan bukan hanya tiga perupa dan sejumlah karya, melainkan pengalaman hampir dua dekade sebuah ruang.
Kaca yang Tidak Mau Diam
Salah satu sejarah penting Batubelah adalah pergulatannya dengan seni lukis kaca. Bagi sebagian orang, kaca mungkin hanya benda fungsional: jendela, pintu, botol, genteng, lampu, atau benda rumah tangga. Namun bagi Batubelah, benda-benda tersebut dapat berubah menjadi medium artistik.
Dalam pameran “Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah” di Bentara Budaya Bali pada 2017, karya-karya komunitas Batubelah memperlihatkan eksplorasi terhadap limbah kaca, benda fungsional, dan bentuk tiga dimensi. Pameran tersebut mempertemukan pelukis kaca Nagasepaha dengan komunitas Batubelah dan menghadirkan karya lintas generasi.³
Di sini terdapat sebuah sikap artistik yang menarik: benda yang dianggap sisa tidak harus berakhir sebagai sampah. Ia dapat menjadi ingatan, dapat menjadi permukaan, dapat menjadi medium. Dan Ia dapat menjadi karya. Dalam pengertian ini, praktik Batubelah berbicara tentang estetika, sekaligus yang lebih penting ia juga berbicara tentang cara manusia memandang benda-benda di sekitarnya.
Nyoman Sartini: Jejak Perempuan dalam Tradisi Kaca
Nama Ni Nyoman Sartini memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Batubelah. Ia bukan nama baru yang muncul tiba-tiba di Art & Bali. Sartini telah tercatat sebagai salah satu pelukis kaca dari komunitas Batubelah dalam pameran “Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah” di Bentara Budaya Bali pada 2017.³ Bahkan penelitian mengenai komunitas Batubelah menampilkan karya Ni Nyoman Sartini sebagai bagian dari perkembangan seni lukis kaca komunitas tersebut.²
Kehadiran Sartini penting karena memperlihatkan bahwa keberlanjutan sebuah tradisi tidak selalu berlangsung melalui narasi besar. Ia bisa berlangsung melalui tangan, melalui ketekunan., dan melalui proses yang dilakukan terus-menerus. Seni lukis kaca membutuhkan kesabaran tertentu. Ada karakter material yang berbeda dari kanvas. Ada transparansi, pantulan, arah pengerjaan, dan hubungan antara warna dengan permukaan.


Di tangan seniman, material tersebut tidak berhenti sebagai Teknik, ia menjadi bahasa. Dan ketika bahasa tersebut dibawa ke Art & Bali, yang hadir bukan sekadar “lukisan kaca Bali”, hadir pula sejarah material yang telah mengalami perjalanan. Dari komunitas ke ruang internasional.
Sujana Suklu: Menggambar Melampaui Batas Medium
Jika Batubelah adalah ruang, Sujana Suklu adalah salah satu energi yang sejak awal ikut menggerakkan ruang tersebut. Praktik artistiknya selama bertahun-tahun menunjukkan kecenderungan untuk tidak menerima batas medium sebagai sesuatu yang final.
Ia dikenal melalui praktik Drawing on Novel, yaitu menggambar dengan menjadikan novel dan karya sastra sebagai sumber pemicu imajinasi visual. Dalam proyek tersebut, buku diperlakukan sebagai tubuh yang dapat menjadi medan gambar. Praktik tersebut kemudian berkembang ke patung, instalasi, pertunjukan, arsitektur, musik, video, dan kolaborasi lintas disiplin.⁴
Dalam penelitian tentang Intermingle Art Project, Sujana bersama sejumlah seniman lain juga mengembangkan praktik seni rupa pertunjukan berbasis riset. Di dalamnya terdapat nama I Nyoman Darmadi sebagai pematung, bersama seniman dari bidang musik, tari, desain, arsitektur, video, dan seni rupa.⁵
Membawa Sujana ke Art & Bali berarti membawa praktik yang memiliki sejarah panjang mengenai lintas batas dan atau ekspan ke berbagai matra. Batas antara gambar dan benda, teks dan visual, seniman dan seniman, seni rupa dan seni pertunjukan, karya dan ruang, dan yang tidak kalah penting antara seniman dan komunitas.
Nyoman Darmadi: Dari Padas ke Percakapan Kontemporer
Nama I Nyoman Darmadi membawa lapisan unik. Ia seorang pematung otodidak yang mempunyai pengalaman dalam mengolah batu dan material keras. Dalam proyek-proyek Batubelah dan Intermingle, praktik pematungannya berjumpa dengan gagasan konseptual Sujana Suklu.
Penelitian tentang praktik Intermingle mencatat bahwa karya Land of Wise Men merupakan respons terhadap patung Nyoman Darmadi dan Made Miasa. Pada proyek tersebut, halaman Batubelah bahkan menjadi ruang bagi ratusan patung padas yang membentuk semacam lanskap visual.⁵
Di sini terjadi sesuatu yang menarik, Sujana menggambar, Darmadi menjadikan pola untuk memahat. Keduanya tidak harus menghasilkan bahasa visual yang sama, justru perbedaan medium itulah yang memungkinkan percakapan. Gagasan dapat berpindah dari gambar ke batu. Dari konsep menjadi tubuh material, dua dimensi menjadi tiga dimensi. Ini menjadi salah satu karakter Batubelah yang penting: ruang tersebut mempertemukan orang, sekaligus juga mempertemukan cara berpikir.
Tiga Perupa, Satu Perjalanan Ruang
Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi memperlihatkan tiga jalur yang berbeda. Sartini membawa sejarah lukisan kaca dan ketekunan medium, Darmadi membawa pengalaman material, terutama dunia pahatan, dan Sujana Suklu membawa praktik konseptual, gambar, kolaborasi, dan eksperimentasi lintas medium.
Namun ketiganya bertemu di Batubelah, pertemuan itulah yang menjadi penting. Sebab ruang alternatif tidak selalu menghasilkan keseragaman. Sebaliknya, ia menciptakan kemungkinan untuk berbeda dalam satu ekosistem. Inilah yang sering tidak terlihat ketika kita hanya membaca sebuah art space dari daftar program pamerannya. Yang lebih penting justru hubungan antarmanusianya. Siapa belajar dari siapa? Siapa membuka ruang bagi siapa? Dan bagaimana pengalaman tersebut kemudian berpindah kepada generasi berikutnya?
Ruang Alternatif Bukan Galeri Kecil
Di sinilah istilah “ruang alternatif” perlu dipahami secara lebih serius. Ruang alternatif bukan sekadar galeri yang lebih kecil. Ia memiliki cara kerja yang berbeda.
Dalam sejarah seni Asia, ruang alternatif berkembang sebagai bagian dari perubahan ekosistem seni kontemporer. Japan Foundation, misalnya, pada 2001 memetakan 76 ruang seni di sembilan negara/wilayah Asia melalui publikasi Alternatives: Contemporary Art Spaces in Asia. Pemetaan berikutnya berkembang menjadi 170 ruang atau organisasi di 16 negara dan wilayah Asia-Pasifik.⁶
Yang menarik, pemetaan tersebut sejak awal mengakui bahwa sistem seni Asia tidak dapat begitu saja disamakan dengan Eropa atau Amerika Serikat.

Asia memiliki sejarahnya sendiri. Cara organisasinya berbeda. Hubungan seniman dengan komunitas berbeda. Dan ruang produksi seni pun berbeda. Batubelah dapat dibaca dalam konteks tersebut. Ia bukan replika dari artist-run space Barat. Ia tumbuh dari tanah sosial Bali sendiri.
Bali dan Sejarah Ruang Bersama
Bali mempunyai tradisi panjang mengenai seni sebagai praktik sosial.
Sejarah seni rupa Bali memperlihatkan berbagai momentum yang mempertemukan seniman, masyarakat, institusi, dan kebijakan kebudayaan. Penelitian mengenai dinamika seni rupa Bali mencatat Pita Maha pada 1936, Pesta Kesenian Bali sejak 1979, gerakan “Mendobrak Hegemoni”, berbagai respons komunitas seni setelah Bom Bali, hingga munculnya Bali Art Society dan kebijakan Pemajuan Kebudayaan Bali.⁷
Dalam sejarah yang panjang itu, Batubelah dapat dibaca sebagai salah satu bentuk baru dari kecenderungan yang sama: menciptakan ruang agar seni dapat hidup bersama masyarakat. Bukan seni yang berdiri jauh dari kehidupan, tetapi seni yang tumbuh dari hubungan.
Art & Bali: Ketika Ruang Lokal Bertemu Dunia
Art & Bali 2026 mempunyai konteks yang menarik karena sejak awal memosisikan dirinya sebagai platform yang mempertemukan seni, desain, budaya, pasar, dan jaringan internasional. Tema besarnya, Bridging Dichotomies, secara eksplisit berbicara mengenai hubungan antara seni dan desain, tradisi dan teknologi, budaya dan komersial, serta lokal dan global.⁸
Di antara 23 peserta terdapat galeri komersial, artist-led spaces, studio, dan komunitas. Ini penting, Sebab kehadiran Batubelah berarti ruang yang tumbuh dari komunitas berada dalam satu arena dengan institusi seni dan galeri yang telah mapan. Dapat dikatakan sinilah terjadi pertemuan dua dunia. Dunia ruang, dan dunia pasar tetapi keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Justru pertemuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk bertanya: apa yang terjadi ketika sejarah sebuah ruang komunitas masuk ke arena seni kontemporer? Apakah ia kehilangan identitas? Ataukah justru identitas tersebut memperoleh ruang baru untuk dibicarakan?
Dari Alternative Space ke Relational Space
Dalam teori seni kontemporer, Nicolas Bourriaud memperkenalkan gagasan relational aesthetics untuk membaca praktik seni yang menjadikan hubungan antarmanusia dan konteks sosial sebagai bagian dari material artistik.⁹
Namun demikian bagi pengalaman Batubelah, hubungan tersebut bukan sekadar teori. Ia merupakan praktik sehari-hari. Orang dating, bekerja, belajar, berbicara, membawa material, membuat karya. Ruang tersebut menjadi hidup karena hubungan.


Dalam pengertian ini, Batubelah dapat dibaca sebagai relational space, ruang yang keberadaannya ditentukan oleh relasi yang berlangsung di dalamnya. Namun kita juga perlu berhati-hati. Claire Bishop telah mengingatkan bahwa kebersamaan dan partisipasi tidak otomatis berarti demokratis.¹⁰ Relasi sosial selalu mengandung perbedaan, posisi, kepentingan, dan kemungkinan konflik. Justru karena itu, ruang seperti Batubelah menarik: ia memungkinkan kita melihat bagaimana hubungan sosial benar-benar bekerja dalam praktik seni, bukan hanya sebagai konsep kuratorial.
Art & Bali dan Masa Depan Ruang Alternatif
Kehadiran Batubelah di Art & Bali juga membuka pertanyaan yang lebih besar: bagaimana masa depan ruang alternatif ketika dunia seni semakin terhubung dengan pasar? Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban tunggal. Namun ada satu hal yang perlu dijaga: independensi cara berpikir.
Ruang alternatif tidak harus anti-pasar, tidak harus anti-galeri. Tetapi ia perlu tetap mampu mengatakan bahwa seni mempunyai nilai yang lebih luas daripada harga. Di sana ada nilai Pendidikan, nilai sosial, nilai pengetahuan, nilai ekologis, nilai sejarah, nilai hubungan, dan ada nilai yang baru terasa bertahun-tahun kemudian. [T]
Catatan:
1. Art & Bali. (2026). Art & Bali 2026: Exhibitor list and programme. Nuanu Creative City. Art & Bali 2026 menghadirkan 23 peserta dari Indonesia dan kawasan regional, termasuk Batu Belah Art Space.
2. Supriyatini, S. (2019). Tema cerita Tantri pada lukisan kaca anak-anak di Komunitas Batu Belah Art Space di Desa Lepang, Klungkung. Prabangkara: Jurnal Seni Rupa dan Desain, 23(2). Penelitian ini membahas praktik lukis kaca komunitas Batubelah, termasuk penggunaan kaca dan keterlibatan generasi muda.
3. Sutika, I. K. (2017). BBB menggelar pameran seni kaca 30 seniman. Antara News Bali. Pameran “Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah” mempertemukan seniman kaca Nagasepaha dan komunitas Batu Belah Art Space serta menampilkan eksplorasi kaca limbah.
4. Bentara Budaya Bali. (2017). Pameran Drawing on Novel Wayan Sujana Suklu. Dokumentasi pameran menjelaskan praktik Drawing on Novel Sujana Suklu dan perkembangannya menuju praktik lintas medium serta kolaborasi antarseniman.
5. Sujana, I. W., & Sudharsana, T. I. R. C. (2019). Light Pattern, Labirin Ruang Masif. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(3), 411–416. Tulisan ini membahas Intermingle Art Project dan keterlibatan sejumlah seniman, termasuk I Nyoman Darmadi, dalam praktik lintas disiplin.
6. Japan Foundation Asia Center. (2001). Alternatives: Contemporary Art Spaces in Asia. The Japan Foundation. Publikasi tersebut memetakan 76 ruang seni di sembilan negara/wilayah Asia; edisi 2004/2005 berkembang menjadi 170 ruang atau organisasi di 16 negara dan wilayah Asia-Pasifik.
7. Idayati, N. W. (2024). Bali Kandarupa: Cerminan dinamika cipta lintas masa. Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni, 12(1). Kajian ini menelusuri sejarah sosial seni rupa Bali dari Pita Maha, PKB, gerakan Mendobrak Hegemoni, Bali Art Society, hingga kebijakan Pemajuan Kebudayaan Bali.
8. Nuanu Creative City. (2026). Art & Bali 2026. Art & Bali menempatkan tema Bridging Dichotomies sebagai kerangka yang mempertemukan seni dan desain, tradisi dan teknologi, budaya dan komersial, serta lokal dan global.
9. Bourriaud, N. (2002). Relational aesthetics. Les Presses du Réel. Gagasan ini membaca seni melalui hubungan sosial, perjumpaan, dan situasi yang terbentuk antara karya, seniman, dan publik.
10. Bishop, C. (2004). Antagonism and relational aesthetics. October, 110, 51–79. Kritik Bishop penting untuk membaca partisipasi dan relasi sosial dalam seni secara lebih kritis, terutama terkait konflik, perbedaan, dan relasi kuasa. Untuk konteks spasial praktik partisipatoris, lihat pula McNally (2024).































