21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
in Khas
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan, 11-13 September 2026. Membawa tiga perupa: I Wayan Sujana Suklu, Ni Nyoman Sartini, dan I Nyoman Darmadi. Pertama kali pertama terlibat event internasional, sebelumnya hanya tampil local dan nasional.

Istimewa, terasa berbeda ketika sebuah ruang seni yang tumbuh dari lingkungan komunitas kemudian memasuki sebuah perhelatan seni berskala internasional. Bukan semata karena ruang itu akhirnya mendapatkan panggung yang lebih besar, melainkan karena perjalanan panjang yang berlangsung di ruang kecil tiba-tiba memperoleh kesempatan untuk dibaca oleh publik yang lebih luas. Tiga nama ini bukan sekadar tiga seniman yang kebetulan berada dalam satu ruang pamer. Mereka membawa lapisan sejarah yang berbeda, sekaligus beririsan, tentang bagaimana sebuah ruang seni di Bali dapat tumbuh dari komunitas, material, pertemanan, eksperimen, dan kerja lintas batas.

I Wayan Sujana Suklu, Nyoman Darmadi, dan Made Miasa sedang memilih drawing on novels sebagi pola diterapkan dalam patu padas

Art & Bali 2026 sendiri mempertemukan 23 galeri, ruang seni, kolektif, dan studio dari Indonesia serta kawasan regional, dengan lebih dari 300 seniman. Batu Belah Art Space tercatat secara resmi sebagai salah satu peserta. Dalam daftar yang sama terdapat Gurat Art Project, Mabiang Seni, Pintu Saren, Santrian Art Gallery, TONYRAKA Art Gallery, serta sejumlah ruang dan galeri dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Malang, Kuala Lumpur, Barcelona, hingga Amerika Serikat.¹

Dari Lepang ke Nuanu

Batubelah Art Space tumbuh di Lepang, Klungkung-Bali, jauh dari kesan glamor sebuah art fair internasional. Sejarahnya justru dekat dengan hal-hal yang sangat sederhana: kaca, cerita, anak-anak, seniman, lingkungan, dan keinginan untuk membuka ruang belajar.

Kajian mengenai Batubelah mencatat bahwa komunitas lukis kaca tersebut berdiri pada 2007 atas prakarsa I Wayan Sujana “Suklu”. Komunitas ini kemudian berkembang sebagai ruang pendidikan seni dan eksperimen, termasuk menggunakan limbah kaca sebagai medium.²

Dari sinilah mungkin kita perlu melihat Batubelah dengan cara berbeda. Ia adalah ruang yang dibangun melalui proses. Ada anak-anak yang belajar, seniman yang bereksperimen, material yang dianggap tidak berguna kemudian memperoleh kehidupan baru, cerita lokal yang ditafsirkan kembali.

Ada seniman yang datang dan pergi, gagasan yang tumbuh dari perjumpaan. Maka ketika Batubelah sampai di Art & Bali, yang sebenarnya melakukan perjalanan bukan hanya tiga perupa dan sejumlah karya, melainkan pengalaman hampir dua dekade sebuah ruang.

Kaca yang Tidak Mau Diam

Salah satu sejarah penting Batubelah adalah pergulatannya dengan seni lukis kaca. Bagi sebagian orang, kaca mungkin hanya benda fungsional: jendela, pintu, botol, genteng, lampu, atau benda rumah tangga. Namun bagi Batubelah, benda-benda tersebut dapat berubah menjadi medium artistik.

Dalam pameran “Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah” di Bentara Budaya Bali pada 2017, karya-karya komunitas Batubelah memperlihatkan eksplorasi terhadap limbah kaca, benda fungsional, dan bentuk tiga dimensi. Pameran tersebut mempertemukan pelukis kaca Nagasepaha dengan komunitas Batubelah dan menghadirkan karya lintas generasi.³

Di sini terdapat sebuah sikap artistik yang menarik: benda yang dianggap sisa tidak harus berakhir sebagai sampah. Ia dapat menjadi ingatan, dapat menjadi permukaan, dapat menjadi medium. Dan Ia dapat menjadi karya. Dalam pengertian ini, praktik Batubelah berbicara tentang estetika, sekaligus yang lebih penting ia juga berbicara tentang cara manusia memandang benda-benda di sekitarnya.

Nyoman Sartini: Jejak Perempuan dalam Tradisi Kaca

Nama Ni Nyoman Sartini memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Batubelah. Ia bukan nama baru yang muncul tiba-tiba di Art & Bali. Sartini telah tercatat sebagai salah satu pelukis kaca dari komunitas Batubelah dalam pameran “Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah” di Bentara Budaya Bali pada 2017.³ Bahkan penelitian mengenai komunitas Batubelah menampilkan karya Ni Nyoman Sartini sebagai bagian dari perkembangan seni lukis kaca komunitas tersebut.²

Kehadiran Sartini penting karena memperlihatkan bahwa keberlanjutan sebuah tradisi tidak selalu berlangsung melalui narasi besar. Ia bisa berlangsung melalui tangan, melalui ketekunan., dan melalui proses yang dilakukan terus-menerus. Seni lukis kaca membutuhkan kesabaran tertentu. Ada karakter material yang berbeda dari kanvas. Ada transparansi, pantulan, arah pengerjaan, dan hubungan antara warna dengan permukaan.

Ni Nyoman Sartini Bersama dengan instruktur Ibu Ratna, IbuSupriyatini, dan anak-anak komunitas lukiskaca batubelah

Di tangan seniman, material tersebut tidak berhenti sebagai Teknik, ia menjadi bahasa. Dan ketika bahasa tersebut dibawa ke Art & Bali, yang hadir bukan sekadar “lukisan kaca Bali”, hadir pula sejarah material yang telah mengalami perjalanan. Dari komunitas ke ruang internasional.

Sujana Suklu: Menggambar Melampaui Batas Medium

Jika Batubelah adalah ruang, Sujana Suklu adalah salah satu energi yang sejak awal ikut menggerakkan ruang tersebut. Praktik artistiknya selama bertahun-tahun menunjukkan kecenderungan untuk tidak menerima batas medium sebagai sesuatu yang final.

Ia dikenal melalui praktik Drawing on Novel, yaitu menggambar dengan menjadikan novel dan karya sastra sebagai sumber pemicu imajinasi visual. Dalam proyek tersebut, buku diperlakukan sebagai tubuh yang dapat menjadi medan gambar. Praktik tersebut kemudian berkembang ke patung, instalasi, pertunjukan, arsitektur, musik, video, dan kolaborasi lintas disiplin.⁴

Dalam penelitian tentang Intermingle Art Project, Sujana bersama sejumlah seniman lain juga mengembangkan praktik seni rupa pertunjukan berbasis riset. Di dalamnya terdapat nama I Nyoman Darmadi sebagai pematung, bersama seniman dari bidang musik, tari, desain, arsitektur, video, dan seni rupa.⁵

Membawa Sujana ke Art & Bali berarti membawa praktik yang memiliki sejarah panjang mengenai lintas batas dan atau ekspan ke berbagai matra. Batas antara gambar dan benda, teks dan visual, seniman dan seniman, seni rupa dan seni pertunjukan, karya dan ruang, dan yang tidak kalah penting antara seniman dan komunitas.

Nyoman Darmadi: Dari Padas ke Percakapan Kontemporer

Nama I Nyoman Darmadi membawa lapisan unik. Ia seorang pematung otodidak yang mempunyai pengalaman dalam mengolah batu dan material keras. Dalam proyek-proyek Batubelah dan Intermingle, praktik pematungannya berjumpa dengan gagasan konseptual Sujana Suklu.

Penelitian tentang praktik Intermingle mencatat bahwa karya Land of Wise Men merupakan respons terhadap patung Nyoman Darmadi dan Made Miasa. Pada proyek tersebut, halaman Batubelah bahkan menjadi ruang bagi ratusan patung padas yang membentuk semacam lanskap visual.⁵

Di sini terjadi sesuatu yang menarik, Sujana menggambar, Darmadi menjadikan pola untuk memahat. Keduanya tidak harus menghasilkan bahasa visual yang sama, justru perbedaan medium itulah yang memungkinkan percakapan. Gagasan dapat berpindah dari gambar ke batu. Dari konsep menjadi tubuh material, dua dimensi menjadi tiga dimensi. Ini menjadi salah satu karakter Batubelah yang penting: ruang tersebut mempertemukan orang, sekaligus juga mempertemukan cara berpikir.

Tiga Perupa, Satu Perjalanan Ruang

Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi memperlihatkan tiga jalur yang berbeda. Sartini membawa sejarah lukisan kaca dan ketekunan medium, Darmadi membawa pengalaman material, terutama dunia pahatan, dan Sujana Suklu membawa praktik konseptual, gambar, kolaborasi, dan eksperimentasi lintas medium.

Namun ketiganya bertemu di Batubelah, pertemuan itulah yang menjadi penting. Sebab ruang alternatif tidak selalu menghasilkan keseragaman. Sebaliknya, ia menciptakan kemungkinan untuk berbeda dalam satu ekosistem. Inilah yang sering tidak terlihat ketika kita hanya membaca sebuah art space dari daftar program pamerannya. Yang lebih penting justru hubungan antarmanusianya. Siapa belajar dari siapa? Siapa membuka ruang bagi siapa? Dan bagaimana pengalaman tersebut kemudian berpindah kepada generasi berikutnya?

Ruang Alternatif Bukan Galeri Kecil

Di sinilah istilah “ruang alternatif” perlu dipahami secara lebih serius. Ruang alternatif bukan sekadar galeri yang lebih kecil. Ia memiliki cara kerja yang berbeda.

Dalam sejarah seni Asia, ruang alternatif berkembang sebagai bagian dari perubahan ekosistem seni kontemporer. Japan Foundation, misalnya, pada 2001 memetakan 76 ruang seni di sembilan negara/wilayah Asia melalui publikasi Alternatives: Contemporary Art Spaces in Asia. Pemetaan berikutnya berkembang menjadi 170 ruang atau organisasi di 16 negara dan wilayah Asia-Pasifik.⁶

Yang menarik, pemetaan tersebut sejak awal mengakui bahwa sistem seni Asia tidak dapat begitu saja disamakan dengan Eropa atau Amerika Serikat.

Ni Nyoman Sartini dengan karyanya “Ruang Perawatan” 2017, bermedia warna oil di atas kaca jendela limbah

Asia memiliki sejarahnya sendiri. Cara organisasinya berbeda. Hubungan seniman dengan komunitas berbeda. Dan ruang produksi seni pun berbeda. Batubelah dapat dibaca dalam konteks tersebut. Ia bukan replika dari artist-run space Barat. Ia tumbuh dari tanah sosial Bali sendiri.

Bali dan Sejarah Ruang Bersama

Bali mempunyai tradisi panjang mengenai seni sebagai praktik sosial.

Sejarah seni rupa Bali memperlihatkan berbagai momentum yang mempertemukan seniman, masyarakat, institusi, dan kebijakan kebudayaan. Penelitian mengenai dinamika seni rupa Bali mencatat Pita Maha pada 1936, Pesta Kesenian Bali sejak 1979, gerakan “Mendobrak Hegemoni”, berbagai respons komunitas seni setelah Bom Bali, hingga munculnya Bali Art Society dan kebijakan Pemajuan Kebudayaan Bali.⁷

Dalam sejarah yang panjang itu, Batubelah dapat dibaca sebagai salah satu bentuk baru dari kecenderungan yang sama: menciptakan ruang agar seni dapat hidup bersama masyarakat. Bukan seni yang berdiri jauh dari kehidupan, tetapi seni yang tumbuh dari hubungan.

Art & Bali: Ketika Ruang Lokal Bertemu Dunia

Art & Bali 2026 mempunyai konteks yang menarik karena sejak awal memosisikan dirinya sebagai platform yang mempertemukan seni, desain, budaya, pasar, dan jaringan internasional. Tema besarnya, Bridging Dichotomies, secara eksplisit berbicara mengenai hubungan antara seni dan desain, tradisi dan teknologi, budaya dan komersial, serta lokal dan global.⁸

Di antara 23 peserta terdapat galeri komersial, artist-led spaces, studio, dan komunitas. Ini penting, Sebab kehadiran Batubelah berarti ruang yang tumbuh dari komunitas berada dalam satu arena dengan institusi seni dan galeri yang telah mapan. Dapat dikatakan sinilah terjadi pertemuan dua dunia. Dunia ruang, dan dunia pasar tetapi keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Justru pertemuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk bertanya: apa yang terjadi ketika sejarah sebuah ruang komunitas masuk ke arena seni kontemporer? Apakah ia kehilangan identitas? Ataukah justru identitas tersebut memperoleh ruang baru untuk dibicarakan?

Dari Alternative Space ke Relational Space

Dalam teori seni kontemporer, Nicolas Bourriaud memperkenalkan gagasan relational aesthetics untuk membaca praktik seni yang menjadikan hubungan antarmanusia dan konteks sosial sebagai bagian dari material artistik.⁹

Namun demikian bagi pengalaman Batubelah, hubungan tersebut bukan sekadar teori. Ia merupakan praktik sehari-hari. Orang dating, bekerja, belajar, berbicara, membawa material, membuat karya. Ruang tersebut menjadi hidup karena hubungan.

Media dan alat-alat Lukis kaca, serta karya-karya KLK (Komunitas Lukis Kaca) Batubelah di atas kaca genteng bekas

Dalam pengertian ini, Batubelah dapat dibaca sebagai relational space, ruang yang keberadaannya ditentukan oleh relasi yang berlangsung di dalamnya. Namun kita juga perlu berhati-hati. Claire Bishop telah mengingatkan bahwa kebersamaan dan partisipasi tidak otomatis berarti demokratis.¹⁰ Relasi sosial selalu mengandung perbedaan, posisi, kepentingan, dan kemungkinan konflik. Justru karena itu, ruang seperti Batubelah menarik: ia memungkinkan kita melihat bagaimana hubungan sosial benar-benar bekerja dalam praktik seni, bukan hanya sebagai konsep kuratorial.

Art & Bali dan Masa Depan Ruang Alternatif

Kehadiran Batubelah di Art & Bali juga membuka pertanyaan yang lebih besar: bagaimana masa depan ruang alternatif ketika dunia seni semakin terhubung dengan pasar? Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban tunggal. Namun ada satu hal yang perlu dijaga: independensi cara berpikir.

Ruang alternatif tidak harus anti-pasar, tidak harus anti-galeri. Tetapi ia perlu tetap mampu mengatakan bahwa seni mempunyai nilai yang lebih luas daripada harga. Di sana ada nilai Pendidikan, nilai sosial, nilai pengetahuan, nilai ekologis, nilai sejarah, nilai hubungan, dan ada nilai yang baru terasa bertahun-tahun kemudian. [T]

Catatan:

1. Art & Bali. (2026). Art & Bali 2026: Exhibitor list and programme. Nuanu Creative City. Art & Bali 2026 menghadirkan 23 peserta dari Indonesia dan kawasan regional, termasuk Batu Belah Art Space.

2. Supriyatini, S. (2019). Tema cerita Tantri pada lukisan kaca anak-anak di Komunitas Batu Belah Art Space di Desa Lepang, Klungkung. Prabangkara: Jurnal Seni Rupa dan Desain, 23(2). Penelitian ini membahas praktik lukis kaca komunitas Batubelah, termasuk penggunaan kaca dan keterlibatan generasi muda.

3. Sutika, I. K. (2017). BBB menggelar pameran seni kaca 30 seniman. Antara News Bali. Pameran “Rumah Kaca Nagasepaha dan Batu Belah” mempertemukan seniman kaca Nagasepaha dan komunitas Batu Belah Art Space serta menampilkan eksplorasi kaca limbah.

4. Bentara Budaya Bali. (2017). Pameran Drawing on Novel Wayan Sujana Suklu. Dokumentasi pameran menjelaskan praktik Drawing on Novel Sujana Suklu dan perkembangannya menuju praktik lintas medium serta kolaborasi antarseniman.

5. Sujana, I. W., & Sudharsana, T. I. R. C. (2019). Light Pattern, Labirin Ruang Masif. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(3), 411–416. Tulisan ini membahas Intermingle Art Project dan keterlibatan sejumlah seniman, termasuk I Nyoman Darmadi, dalam praktik lintas disiplin.

6. Japan Foundation Asia Center. (2001). Alternatives: Contemporary Art Spaces in Asia. The Japan Foundation. Publikasi tersebut memetakan 76 ruang seni di sembilan negara/wilayah Asia; edisi 2004/2005 berkembang menjadi 170 ruang atau organisasi di 16 negara dan wilayah Asia-Pasifik.

7. Idayati, N. W. (2024). Bali Kandarupa: Cerminan dinamika cipta lintas masa. Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni, 12(1). Kajian ini menelusuri sejarah sosial seni rupa Bali dari Pita Maha, PKB, gerakan Mendobrak Hegemoni, Bali Art Society, hingga kebijakan Pemajuan Kebudayaan Bali.

8. Nuanu Creative City. (2026). Art & Bali 2026. Art & Bali menempatkan tema Bridging Dichotomies sebagai kerangka yang mempertemukan seni dan desain, tradisi dan teknologi, budaya dan komersial, serta lokal dan global.

9. Bourriaud, N. (2002). Relational aesthetics. Les Presses du Réel. Gagasan ini membaca seni melalui hubungan sosial, perjumpaan, dan situasi yang terbentuk antara karya, seniman, dan publik.

10. Bishop, C. (2004). Antagonism and relational aesthetics. October, 110, 51–79. Kritik Bishop penting untuk membaca partisipasi dan relasi sosial dalam seni secara lebih kritis, terutama terkait konflik, perbedaan, dan relasi kuasa. Untuk konteks spasial praktik partisipatoris, lihat pula McNally (2024).

Tags: Batubelah Art SpaceNuanu Creative CitySeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Next Post

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Ketika Tatahan Menembus Kanvas ---Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co