Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya

BEBERAPA hari lalu, saya menerima sebuah kiriman istimewa dari Bang Nestor Rico Tambunan: sebuah buku puisi yang langsung memanggil mata dan rasa sejak pertama disentuh. Sampulnya menampilkan lukisan sebuah gedung dengan jendela-jendela tanpa kaca, latar pegunungan yang hening, dan segerombolan burung yang terbang semuanya tersaji dalam gradasi monokrom, seakan membawa kita masuk ke ruang waktu … Continue reading Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya