Wanita Senja

Cerpen: Satia Guna                Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima rasa terima kasih. Sebutlah aku tembok, yang kau ajak bicara saat kau merasa kesepian. Dan sebutlah...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi TAK ada rintih sedih di matanya. Perkabungan justru menyulap Basur menjadi orang paling bahagia. Ditambah lagi, ibu dan saudaranya menyetujui niat untuk menjual satu peti wayang peninggalan bapaknya. Dalam rapat keluarga sore itu, Basur amat...

Siat Wengi

  Cerpen: Made Adnyana Ole BEGITU bangun dari tidur, Ming Tabo langsung berlari keluar rumah. Matahari baru saja muncul. Ia berlari ke kebun belakang rumah. Ia ingin melihat tetes darah di atas daun pisang. Tapi tak ada tetes darah. Ia kemudian...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” ajaknya “Hah? Jam segini? Mau apa?” “Jalan-jalan aja, yuk!” Kau mengetuk pintu kamar dan mengajakku pergi tiba-tiba. Sontak aku...
DUA tupai, Cempa dan Sanda, bertualang ke tengah hutan. Mereka mengembara dari dahan ke dahan dan mendapat kegembiraan di sana. Berbagai pohon besar maupun kecil mereka sambangi. Pada banyak pohon mereka mendapatkan keunikan yang membuat mereka merasa terhibur. Saking asyiknya,...

Kuburan Ayah

  Cerpen: Agus Wiratama ANGIN menghanyutkan aroma tanah yang berbeda. Air mata dan aroma busuk bercampur lalu disajikan oleh tarian angin pada setiap hidung sebagai parfum pengenal. Aroma itu benar-benar meneror kami dengan ingatan berbagai wajah yang pernah ditangisi. Ibu menyapa...
Cerpen: Ferry Fansuri SESAK penuh dan bau keringat, itu yang terlihat di sepanjang perjalananku dalam bis ekonomi dari Tegal menuju Jakarta. Berdesakan dengan berbagai ragam manusia dengan satu tujuan mengais rejeki di ibukota. Begitu juga aku, berdesakan dan terhimpit dipojokan...
  Cerpen: Alif Febriyantoro             Ya. Saya tahu, bahwa saya adalah wanita yang belum mengerti tentang kepergian. Tapi pada akhirnya saya sudah berada di sebuah kereta menuju kota Yogyakarta. Pada akhirnya saya pun pergi. Meninggalkan kota Jember, meninggalkan  rumah, meninggalkan suami...

Gabriela

Cerpen: Putri Handayani   “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapnya. Pohon itu lumayan tinggi tapi tidak setinggi pohon kelapa. Terletak di jantung kota. Daunnya rimbun serimbun gugusan...
Cerpen: Raudal Tanjung Banua SELEPAS sholat tahajud di sepertiga malam, Nenek Syaodah mendengar keok ayam ribut di kandang. Meski sudah tua, telinganya tetap awas dan waspada. Hanya saja ia belum bisa memastikan apakah bunyi krosok di tanah, lalu suara keok...
- Advertisement -

I'M SOCIAL

0FansLike
5,142FollowersFollow
65,489FollowersFollow
16,050SubscribersSubscribe