Cerpen: Ahmad Anif Alhaki   “Selamat pagi anak-anak!” Ibu Tejo memasuki kelas, dan mengagetkan para siswa yang tengah asyik bermain handphone. Para siswa menjawab dengan gaya yang berbeda. Ada yang menjawab sambil senyum ambilhati, sampai lupa suaranya alay-lebay tujuh turunan. Ada yang...
  Cerpen: Yogi Periawan LELAKI itu masih saja mengaduk bubur terasi. Menjelang matahari tenggelam, bau tak sedap selalu menusuk hidung. Entah apa yang dilakukan Pekak Pengkuh. Untuk apa ia melakukan itu? Baunya sangat mengganggu. Sudah gila rupanya kakek itu sampai menyiapkan makanan...
  Cerpen: Aksan Taqwin Embe  Setiapkali ia merapal nama ibunya, airmatanya mengalir deras berkelok melintasi kerutan di bawah kelopak mata sampai di penghujung dagunya. Menetes sangat cepat. Pundaknya naik turun dengan degup jantung sesenggukan yang semakin tak beraturan. Sementara jarinya masih...
. DIA DATANG SEHABIS HUJAN Di pintu ia menampakkan diri Malaikat maut menjemput ajal Kulihat ayah tersengal, nafasnya putus-putus. Ibu tak berani melihat ia menangis di kamar sebelah Aku tak kuasa melihatnya Kehilangan demi kehilangan Membuatku perih, nganga luka penuhi jiwa yang letih Berangkatlah, Ayah Sudah lama kau menahan sakit Kesedihan...
  Ibu, kau seperti permata di hatiku Penerang jiwaku Peneduh lang.....   Sial! Deadline pengumpulan naskah puisi tinggal dua hari lagi. Namun, sampai sekarang aku belum berhasil membuat sebait puisi pun. Hari ini tepat dua bulan sudah sejak Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk...

Kuburan Ayah

  Cerpen: Agus Wiratama ANGIN menghanyutkan aroma tanah yang berbeda. Air mata dan aroma busuk bercampur lalu disajikan oleh tarian angin pada setiap hidung sebagai parfum pengenal. Aroma itu benar-benar meneror kami dengan ingatan berbagai wajah yang pernah ditangisi. Ibu menyapa...
. GIRI TOHLANGKIR Gelisah hari ini, gemuruh lumpur abu menyeret kaki sepasang ayam hutan terhempas ke ceruk Tukad Yeh Unda ikan-ikan lampus di pusaran takdir capung air terbang rendah dalam pikiran Gelisah hari ini, rumah-rumah menjauh canang sari kering di sanggah pemerajan di jalan orang lalu lalang...
. TANPA KOPI HIDUPMU GETAS Aku duduk di pinggir kolam ikan bakar Di kuali berenang-renang tulang hewan Di alun-alun orang memancing bulan Sungai-sungai tersimpan di lemari Mari berangkat Hari sudah pagi SURAT KEPADA ANAK-ANAK esok atau seabad yang akan datang engkau bahkan pasti kukenalkan kembali pada rona atap rumah,...
  Cerpen: Ni Putu Purnamiati “Ibu, pernah sesekali aku membuat bulir-bulir air matamu jatuh karena aku tak bisa membungkam mulutku yang penuh bisa ini. Itu hanya salah satu kejahatan dari ribuan kejahatan yang pernah aku lakukan terhadapmu. Meski begitu, kau masih...
. KE BARAT DARI LOVINA 1. Sulur-sulur anggur menggoda kami di jalan lurus Matahari memerah. Di antara tiang-tiang kayu junjungan, di bukit landai dan pantai yang kurus menjulur batang-batang karma merindukan api penyulingan gelas dan darah perjamuan Maka kami pejamkan mata sejenak mengenang panjang perjalanan. Ada yang berdentang...
- Advertisement -

I'M SOCIAL

0FansLike
5,142FollowersFollow
65,474FollowersFollow
16,044SubscribersSubscribe