Lukisan: Nyoman Wirata

.
PEREMPUAN DALAM PUISI

Dia seorang puisi
dan aku mencintainya dengan cemas

(siapa) pertanyaan-pertanyaan bagai hujan
pada, sepotong kisah
pada, sebait lagu

Sedemikian terburu-burukah?
sebab istanaku tanpa beranda
mencipta gambar tanpa punya tinta
selain senyummu, debar hatimu

Coba kupahami sepotong tubuh dengan kenangan
menembus rahasia
yang kita tulis saban hari

Nyali rubah duri jadi bunga
juga bayang-bayang bernada
dan film telah menua

Tangannya gemetar
sepucuk surat huruf berpendar
dari tempat paling jauh
di sini, detik tanpa keluh

(2017)

HUJAN DAN MALAM

bermain di ujung matamu
bersama laki-laki takdirmu
menunggu restu
kerap hujan buat malam kuyup oleh cemburu
dalam ingatan redup-redup pada skenario baru

waktu makin larut
begitu sunyi
begitu sepi
tapi tak mati

sekarang, tentu akan tumbuh
mataku menduga-duga
akan lahir dunia
ketika membuka mata

biarkan harapan
ranting-ranting mimpi kemudian
biarkan sihir angin bijak
mengayun manja langkah ialah isyarat

malam tetap tenang
dan hujan telah matang

(2017)

SURAT IBU

Akhir tahun ini masih keluh yang sama. Saya tak bisa pulang, Bu.
Saya sibuk hitung musim. Sebab kemarau tak lagi banyak bicara.

Dalam sepucuk surat. Keluh kulipat dan harap rindu-rinduku. Kawan untukmu.

Saya coba berdamai dengan nasib. Syukur saya masih memiliki malam.
Yang meski sama. Diberkati hujan berdendang nyaring.

Saya tak bisa mengubah apapun. Hanya ini, surat buatmu. Semoga hatimu selalu merdu.

(2017)

IRAMA TUBUH

dongeng warna merah jambu
turun-temurun bagai kelambu
tanpa sengaja ramu
pada musim-musim tertentu

ada mereka ingin petik
bahkan menculik
habis seluruh manis
mengupasnya hingga ke sari
lalu membuangnya begitu saja

sabarlah
oh, irama tubuh
berlumur peluh
riak telaga di matanya
menunggu musim hujan selanjutnya
yang tak loba
menunggu hingga lebih dewasa

(2017)

KELOPAK ALISMU

Lengkung pagi ini melukis pelangi
di antara lekuk pelipismu
usai hujan mengalir deras
dari kedua bola matamu

Aku mencari doa,
di tepi Mei pada tiga puluh anak tangga menujumu
mendongengkan jejak secangkir teh,
sekitar kelopak alismu
secangkir sorot yang tak pernah redup
kepada siang di desa dalam kota

Cerita ini tak dicatat kitab manapun
hanya mengalir di jalan-jalan kecil
seelok lekuk tubuhmu

(2016)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY