• Judul: In Difense of Smokers (Pembelaan Para Perokok)
  • Penulis: Lauren A. Colby
  • Penerjemah: Ronny Hendrawan
  • Penerbit: Indonesia Berdikari
  • Tahun terbit: Cetakan Pertama, November 2014
  • Pengatar: Noe “Letto”
  • ISBN: 978-602-71674-0-7

Kondisi keributan yang terjadi perihal merokok rasanya kurang menguntungkan bagi para perokok. Sebab pihak yang kontra terhadap rokok akan memiliki segudang argumen lebih-lebih dasar literatif yang banyak mereka dapat dari sejumlah penelitian dan peraturan-peraturan pemerintah.

Kondisi seperti ini memaksa para perokok untuk mencari alasan-alasan pengalihan agar perilaku yang mereka lakukan (dalam hal ini adalah merokok) juga mendapat pembenaran. Kekurangan dasar dan acuan literatif yang mendukung para perokok menimbulkan suatu kondisi ketimpangan. Belum lagi dukungan penuh pemerintah untuk terus memprobagandakan dan menyuarakan bahwa merokok adalah kegiatan yang berbahaya bagi kesehatan.

Pada dasarnya, fenomena rokok mulai dari industri, konsumen, dan wacana-wacanya adalah berada pada dua sisi. Layaknya berdiri di antara dua jurang licin. Berbagai persenggolan akan menyebabkan banyak menuai keriuhan. Pernah suatu ketika timbul isu-isu penaikan harga rokok yang melebihi angka 100%. Hal tersebut banyak menuai pro dan kontra.

Terlepas dari kebenaran dalam pernyataan bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, Noe “Letto” dalam pengantar buku karangan Lauren A. Colby ini menggambarkan dialektika perdebatan rokok layakya ketika katakan saja ada 20 orang disuruh menggambar gajah, maka konsekuensi logisnya adalah akan muncul 20 gambar gajah yang sama-sama benar namun berbeda-beda. Antara gambar yang satu dengan gambar yang lain tidak ada yang lebih benar ataupun yang paling benar. Jika kebenaran perihal gambar gajah saja akan menimbulkan banyak versi, apalagi dengan isu rokok (Hal. viii).

Orang yang pikirannya terbuka pastilah tidak akan memilih satu pendapat dan menjastifikasi bahwa hal itu yang paling benar di antara yang lain. Berbagai pertimbangan akan dipikirkan ulang.

Berbagai publikasi hasil penelitian banyak menunjukkan bahaya dan zat-zat kimia yang terkandung dalam rokok membuat paradigma masyarakat luas utamanya di Indonesia tercekoki dan terkerdilkan. Semua akan mengatakan bahwa rokok adalah barang berbahaya. Namun dalam buku yang masih belum mendapatkan izin hak cipta dari penulis aslinya ini membantah semua apa yang telah tersebar luas perihal rokok. Hasil-hasil penelitian tandingan sekaligus bantahan banyak disebutkan dan dipaparkan.

Lauren A. Colby, sebagai seorang peneliti sekaligus perokok terdorong untuk menuliskan kegelisahannya atas propaganda-probaganda anti rokok. Perokok di negara asalnya (Amerika) seakan terdiskriminasi. Di tengah banyak ilmuan dan peneliti di negara itu, banyak yang kemudian meneliti dan mempublikasikan hasil studinya perihal rokok tidak terlepas dari misi pemerintah yang lebih condong mendukung pengucilan para perokok.

Sering didengung-dengungkan bahwa kematian yang disebabkan oleh rokok mencapai angka 450.000 kematian per tahun (di negara asal penulis: Amerika). Namun dalam sebuah kejadian, bilangan yang dikeluarkan berupa angka 450.000 sempat dipertanyakan oleh seorang dari kelompok berita internet di Amerika (Internet News Group). Saat orang itu menelpon ke kantor Rokok dan Kesehatan perihal angka yang dimunculkan itu, tidak seorang pun dari pihak kantor yang tahu dari mana pengumpulan angka tersebut (Hal. 33).

Hal ini menjadi pukulan telak bagi mereka yang mendasarkan angka kematian dengan merokok.

Penjelasan “manipulasi” angka kematian tersebut kemudian menjadi jelas ketika pada 19 April 1995 sebuah surat yang ditujukan pada salah satu perusahaan media di Amerika perihal metode yang digunakan kelompok anti-rokok untuk mengkrontruksi propagandanya. Dikatakan bahwa pada setiap sertifikat kematian yang dikeluarkan oleh sejumlah dokter berisi sebuah kolom penyebab kematian.

Mirisnya, sebuah panduan yang dikeluarkan oleh American Cencer Society (lembaga kangker Amerika) menyatakan bahwa ketika suatu kematian disebabkan oleh kondisi-kondisi tertentu dan dalam riwayat hidupnya ditemukan pernah merokok maka para dokter diintruksikan agar mengisi kolom penyebab kematian itu dengan kata “merokok” (Hal. 34). Kelakuan para profesional medis yang mengikuti panduan tersebut jelas membentuk suatu pola yang berimbas pada stigma masyarakat perihal bahaya rokok.

Bagi Lauren dalam bukunya ini, informasi-informasi yang mengatakan bahwa rokok dapat menyebabkan kangker dan penyakit jantung adalah bentuk penekanan dan intervensi pemerintah terhadap aktifitas merokok yang kemudian banyak menggandeng instansi-instansi medis dan kesehatan.

Dalam sebuah studi yang menghadirkan angka dan statistik perihal hubungan rokok dan kanker, dihadirkan angka konsumsi rokok dari berbagai negara dengan Hongaria pada urutan teratas kemudian disusul Jepang dan Amerika Serikat. Kemudian setelah itu dihadirkan angka prosentase kematian kanker di setiap negara. Hasil yang ditemukan pun mengejutkan. Angka kematian akibat kanker di Hungaria dan Jepang yang menduduki peringkat atas konsumsi rokok mempunyai prosentase yang lebih sedikit dari Amerika Serikat (Hal. 39).  

Hal tersebut menunjukkan bahwa rokok bukanlah yang paling banyak memberi pengaruh tarhadap timbulnya kanker.

Penelitian tersebut diperkuat dengan penelitian terhadap angka harapan hidup dari masing-masing negara yang semakin memberi penjelasan bahwa merokok tidak membunuhmu. Bahkan dalam sebuah studi yang dilakukan pada hewan yang paru-paru dan tenggorokannya diberi cairan semacam nikotin dan segala hal yang terkandung dalam rokok membuahkan hasil bahwa memang paru-paru hewan tersebut kotor akan tetapi kangker yang timbul pada hewan itu bukan semata ditimbulkan oleh cairan yang ditempelkan di paru-parunya. 

Sejumlah penelitian yang ada juga diasumsikan bahwa banyak yang terbias oleh pandangan utama peneliti tentang bahwa rokok adalah berbahaya. Maka tidak akan mungkin dan bahkan sulit menemukan penelitian tandingan yang kelak dapat membantah hasil penelitian-penelitian yang telah lalu. Yang bisa dilakukan kelompok pro-rokok adalah mengkritisi setiap data yang dimunculkan dan dipubilkasikan.

Sama hal nya dengan orang sakit paru-paru yang tidak diperbolehkan berolah raga. Bagi masyarakat luas, olah raga adalah suatu yang menyehatkan. Maka adalah suatu yang tidak berguna dan sangat “omong kosong” bila ada sebuah penelitian tentang bahaya olah raga bagi kesehatan. Padahal dalam keadaan tertentu olah raga bisa berbahaya.

Masih banyak lagi berbagai macam informasi yang bisa dijadikan hujjah atau dasar acaun literatif bagi para pendukung rokokdalam buku tersebut yang kemudian sangatlah tidak mungkin dapat disebutkan semua dalam tulisan ini.

Bagi masyarakat Indonesia, walaupun buku yang ditulis adalah hasil dari pembacaan penulisnya terhadap fenomena-fenomena yang ada di Amerika, namun berbagai macam pola propaganda sama juga banyak ditemui di Indonesia. Pada akhirnya, buku ini menjadi buku yang sangat berani ketika melihat wacana-wacana yang ada dan merupakan pendukung idealisme bagi para peokok.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY