Nyoman Erawan (2017)

.
DIA DATANG SEHABIS HUJAN

Di pintu ia menampakkan diri
Malaikat maut menjemput ajal
Kulihat ayah tersengal, nafasnya
putus-putus. Ibu tak berani melihat
ia menangis di kamar sebelah

Aku tak kuasa melihatnya
Kehilangan demi kehilangan
Membuatku perih, nganga luka
penuhi jiwa yang letih

Berangkatlah, Ayah
Sudah lama kau menahan sakit
Kesedihan membuatmu limbung
Tak ada yang bisa menolong
Tak ada lagi yang bernyanyi
Menghibur duka-lara kita

Menjelang sore, sehabis hujan
Tak kurasakan lagi nafasmu.
Seperti sebuah janji
Pernah kau ucapkan dulu
“Aku pergi sore hari, jangan
bersedih, suatu waktu kita
akan bertemu”

Di waktu yang berbeda
Aku teringat Ayah
Sehabis hujan sore hari
Pulang ke rumah tua
Sunyi. Potret di dinding
Bercerita banyak
Sebelum dia datang
Menjemputmu

(2017)

LILIGUNDI

Menikmati kopi di warung ber-wifi
Lagu pemuda putus cinta mengalun sendu
Sirine ambulan meraung di jalan

Siapa lagi yang mati?

Aku tak berani mengingat kematian
Sepi-sunyi ditinggal orang tercinta
Entah dimana mereka kini
Tersisa hanya kenangan
Kadang datang dalam mimpi
Pertemuan terhapus pagi
Ingatan datang menghadang
Hanya kenangan yang abadi
Tak berakhir!
Walau badan menjadi abu
Di kuburan berdebu

Siapa yang paham rahasia-Mu?

(2017)

KENANGAN DI RUMAH SAKIT JIWA

kopi di sini nikmat sekali
dibawakan tiap pagi menjelang
“kopi, kopi, kopi,” suaranya
bangunkanku dari mimpi
kami minum bersama
ada yang meminumnya
saat panas, tanpa takut
terbakar sama sekali

orang-orang menyebut
kami gila, dan kami
berpikir merekalah
penyebab kami berada
di rumah sakit ini
di ruangan berterali
bersama orang lain
yang juga disebut gila

matahari meninggi
saatnya mandi
lalu makan
dan minum obat
sementara ruangan
dibersihkan dari
segala kotoran dan
serapah, juga
tangis kami semalam

aku tak tahu
sampai kapan di sini
rinduku pada rumah
semakin menebal
ingin sekali menelpon
“kapan kemari menjemputku,
kalian membiarkanku
membusuk bertahun-tahun
di tempat asing ini”

kudengar kabar
pasien yang lari
atau bunuh diri
sebab hidup tak
penting lagi
tak ada cinta
untuk kami

(2017)

PENYAIR TERLUKA

Lukanya menjelma puisi
Ditulis dengan darah
Penyair bagai pertapa
Kata-kata adalah wahyu

Lukanya abadi
Tertoreh tinta sejarah
Dibaca sepanjang masa
Dalam lipatan waktu

Diinjak mereka melawan
Tak gentar pada kezaliman
Kata-kata adalah senjata
Tak pernah diam
Menerjang
Matanya nyalang
Menusuk sanubari
Kuliti jiwamu

Jangan biarkan
Penyair terluka
Luka penyair
Luka kita

(2017)

EUFORIA

Dalam kegamangan kita bertukar kado berisi kecemasan, menyambut waktu dengan kesedihan, membaginya dalam potongan air mata.

Penghujung tahun, kita menyalakan kembang api dan mercon, menciptakan kegaduhan entah untuk apa. Jalanan dipenuhi deru kendaraan, mengantar jutaan orang pada ketiadaan dan kesia-siaan. Terompet dibunyikan, kita bersenang-senang dalam semalam, tanpa tahu esok kita masih berada di sini ataukah mati dijemput maut.

Orang-orang membuat janji dan harapan, menuliskannya pada dinding facebook agar banyak yang tahu, meski harapan tinggal harapan dan Tuhan diam jika manusia tak berusaha.

Di sudut sunyi, seseorang berdoa dan berterima kasih atas keberuntungan dan kegagalan. Ia tak banyak menuntut, sebab ia percaya bencana dan keberuntungan sama saja, seperti sebuah sajak yang ia pernah baca.

(2017)

SHARE
Previous articleAku Tak Bisa Menulis Puisi tentang Ibu
Next articleIGP Artha dan Pertanyaan Tentang Politik Tanpa Ambisi Kekuasaan
Angga Wijaya
Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Puisi-puisinya pernah dimuat di Warta Bali, Jembrana Post, Independent News, Riau Pos, Bali Post, Jogja Review, Serambi Indonesia dan Antologi Puisi Dian Sastro for President! End of Trilogy (INSIST Press, 2005). Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY