Ilustrasi: Ida Bagus Pandit Parastu

 

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh lang…..

 

Sial! Deadline pengumpulan naskah puisi tinggal dua hari lagi. Namun, sampai sekarang aku belum berhasil membuat sebait puisi pun. Hari ini tepat dua bulan sudah sejak Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk lomba membaca puisi tingkat provinsi. Sebenarnya lagi, aku sudah mendengar kabar ini bahkan sejak enam bulan yang lalu. Bahwasanya sebagai gubernur baru, Pak Gubernur ingin menumbuhkan cinta di hati rakyatnya, terutama cinta kepada ibu.

Pesertanya adalah seluruh rakyat Pak Gubernur. Siapa saja boleh ikut asalkan bisa membaca. Anak-anak, dewasa, tua, muda, laki-laki, perempuan. Semua boleh ikut. Pak Gubernur ingin lomba ini menjadi lomba membaca puisi terakbar di provinsi bahkan di negeri ini. Nah! Jadilah aku, sejak saat itu juga, diwanti-wanti oleh dia, eh, beliau, untuk membuat satu puisi yang akan dibaca oleh para peserta lomba membaca puisi nanti.

Sebagai salah satu penyair yang sudah dikenal di seluruh negeri, sebenarnya aku tidak heran kalau Pak Gubernur memintaku membuat puisi untuk dibaca oleh para peserta lomba nantinya. Aku sudah menulis sejak belia. Saat masih belasan tahun aku sudah sering ikut lomba menulis puisi dan juga sering menang. Beranjak dewasa aku mulai mengirim tulisanku ke media-media ke koran-koran.

Mereka menyukai tulisanku dan sering memuatnya. Orang-orang mulai mengenalku. Lalu aku mengumpulkan puisi-puisiku dan menjadikannya buku. Orang-orang senang membaca bukuku. Aku terus menulis dan menulis. Sampai sekarang belasan buku puisi sudah aku tulis. Buku-bukuku juga disukai oleh orang asing. Mereka menerjemahkan buku-buku puisiku ke dalam bahasa mereka. Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Korea, Rusia, Italia, Jepang, Spanyol. Begitu banyak bahasa sampai-sampai aku lupa yang lainnya.

Aku terkenal dengan puisi-puisiku yang tajam, indah, dan berkarakter. Puisi-puisiku adalah perpaduan kekuatan imajinasi, keluwesan kata, dan kedalaman pengalaman hidupku. Aku meramunya dengan hati-hati. Meracik ketiga bahan itu dengan takaran yang tepat di dalam kepalaku. Baru-baru ini aku dipuji karena puisiku tentang koruptor di negeri ini begitu tajam dan menohok. Dengan puisi itu, orang-orang menganggapku bisa mewakili perasaan mereka kepada para koruptor yang tidak tahu malu itu.

Belum lama ini juga puisiku tentang iman mendapat sambutan yang begitu hangat. Orang-orang merasa perasaan mereka terwakili lagi. Terutama orang-orang yang merasa bingung karena akhir-akhir ini melihat iman lebih sering menjadi tontonan di televisi bukannya menjadi penuntun dari dalam hati.

Nah, mungkin karena puisi-puisiku itu akhirnya aku sering diminta menjadi juri lomba membaca dan menulis puisi di hampir semua tingkatan wilayah. Dari tingkat desa sampai tingkat nasional. Aku juga sering diminta membuat puisi untuk dibaca oleh peserta lomba membaca puisi. Salah satunya ya ini. Puisi tentang ibu, permintaan dari Pak Gubernur.

Tapi, alamak! Sulit sekali membuat puisi permintaan Pak Gubernur ini. Aku bahkan sudah berusaha menulisnya sejak enam bulan yang lalu, sejak kali pertama Pak Gubernur meminta dan mewanti-wantiku untuk membuat puisi tentang ibu. Sudah kubaca berbagai puisi tentang ibu yang dibuat oleh penyair dalam negeri hingga luar negeri. Sudah kusambangi tepian danau sampai muara sungai untuk mencari inspirasi. Aku juga sudah melakukan berbagai macam riset dan eksperimen, tapi hasilnya nihil. Aku tetap tidak bisa menulis tentang ibu.

…………………………….

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai………….

“Buuuddd…. Buuddiii…. Buudddiiiiii….” suara ibuku mengagetkanku.

“Iya, Buk! Ada apa?”

“Ayo makan! Ibuk baru saja selesai memasak.”

“Ah, aku kira apa. Iya, Buk. Sebentar lagi aku makan.”

“Buuuddddd….Buuddiiii……….Buuudddiiiiii……. Buuuudddiiiii….” suara ibuku kembali mengagetkanku.

“Iya ada apa lagi, Buk?”

“Ayo makan dulu. Masakannya sudah siap.”

“Iya, Buk. Aku pasti makan. Ibuk makan saja dulu,” sahutku jengkel.

“Buuudddd….. Buuudddiiiii….. Ayo makan dulu!”

“Iya, Buk. Iya!”

Begitulah ibuku. Belum genap satu helaan napas, ibuku sudah memanggilku lagi. Ibuku akan berhenti memanggilku jika aku sudah beranjak dan melakukan apa yang ia minta. Dan ini hanya satu dari sekian kebiasaannya yang kadang membuatku kesal. Pernah dulu ibuku menjual koran-koran yang memuat puisi-puisiku kepada tukang loak di sebelah rumah. Untung saja koran-koran itu belum sempat berpindah tangan lagi.

“Lumayan, kan kalau dijual? Daripada terbuang menjadi sampah yang tidak berguna,” ibuku berkata dengan begitu santai.

“Tapi, Buk. Di dalam koran itu ada puisi-puisiku. Susah payah aku mengumpulkannya.”

“Oohhh begitu. Lah kenapa kamu tidak bilang pada ibuk? Coba kamu ambil saja ke tukang loak sebelah rumah. Siapa tahu masih ada di sana. Sekalian bawa kardus-kardus ini, ya! Hitung-hitung sebagai pengganti koran yang akan kamu ambil. Syukur-syukur dapat uang lebih.”

Ah, ibuku! Saat puisi-puisiku terancam menjadi produk daur ulang, ibuku tetap santai bahkan masih sempat memikirkan uang lebih. Jadilah aku tergopoh-gopoh pergi ke tukang loak di sebelah rumahku tentu sambil membawa kardus-kardus titipan ibuku.

Pernah juga, baru-baru ini, selama hampir sebulan ibuku memperkenalkanku pada begitu banyak perempuan. Ia memperlihatkan foto perempuan-perempuan itu kepadaku. Setiap hari. Gila! Usiaku baru 26 tahun saja ibuku sudah bingung mencarikanku calon istri. Sebagai laki-laki aku merasa masih sangat muda dan aku belum berniat menikah. Namun, ibuku begitu khawatir kalau-kalau aku terlalu sibuk dengan kertas dan koran sampai-sampai lupa menikah.

“Bud, ini Maya. Anak teman ibuk waktu SMA. Cantik, kan? Orangnya juga baik. Umurnya 24 tahun. Yaa kalau kamu mau, kalian punya cukup waktu untuk berkenalan,” seperti biasa ibuku memulai pembicaraan gila ini.

“Yang ini namanya Gina. Anak teman arisan ibuk. Rumahnya di kampung sebelah. Anaknya sangat rajin. Dia juga pintar. Umurnya…. Hhhhmmm. Ibu lupa. Tapi sebentar lagi lulus kuliah.”

“Nah kalau ini namanya Asri. Anak teman kantor Bapakmu. Yaa usianya memang lebih tua daripada kamu. Tapi, ya kalau menurut ibu tidak apa-apa. Orangnya juga mandiri dan sangat telaten. Cocoklah untukmu, Bud.”

Pembicaraan gila ini akhirnya membuatku menyerah. Aku sudah sangat bosan mendengarnya. Lalu, aku memutuskan menginap di rumah temanku selama beberapa hari untuk menyelamatkan hari-hariku dari pembicaraan ini. Tepat di hari ketiga ibuku menelepon dan menanyakan keberadaanku. Akhirnya kami membuat kesepakatan. Ibuku tidak akan membicarakan tentang perempuan-perempuan itu dan aku akan kembali ke rumah.

Begitulah. Ibuku adalah ibu yang biasa-biasa saja, seperti ibu-ibu biasa lainnya. Cerewet, kadang membuatku jengkel, dan kadang bisa membuat sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan. Ibuku seperti ibu-ibu pada umumnya. Tidak ada yang istimewa dari ibuku. Dan inilah yang membuatku tidak pernah bisa menulis tentang ibu. Ibuku selayaknya ibu. Tidak ada yang berlebihan.

Tidak ada yang wow. Ibuku melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya. Ia memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengurus suami dan anak-anaknya. Setelah semua urusan rumah selesai, ibuku membuka warung kelontong kami. Ibuku mengajak dua sepupuku dari kampung sebelah untuk menjaga warung itu. Supaya ada teman ngobrol ketika sedang tidak ada pembeli, kata ibuku.

Masalah hobi, ibuku senang ikut arisan seperti ibu-ibu lainnya. Aku mengetahui hal ini karena ibuku selalu memasak makanan yang lebih enak dan lebih banyak daripada biasanya setiap ia mendapat arisan. Dalam setiap bulan, setidaknya satu atau dua kali kami merasakan masakan ibu yang enak dan banyak ini.

Ibuku sangat gemar mengoleksi peralatan dapur, terutama panci. Ini aku ketahui karena rak bukuku sempat menjadi korban panci-panci itu. Karena rak di dapur kami sudah penuh dengan perabotan, ibuku menaruh panci-panci itu di rak bukuku. Titip sebentar, kata ibuku. Tidak jarang juga ibuku rela menghemat uangnya demi mendapat panci keluaran terbaru.

…………………………………..

Ibu kau bagai rembulan

Di malam ge…………………

Ah! Semua hal tentang ibuku begitu biasa. Begitu sederhana. Begitu apa adanya seorang ibu. Tidak ada yang istimewa. Lalu, bagaimana aku bisa menulis puisi tentang ibu? Puisi macam apa yang bisa aku tulis tentang ibu? Kasih sayangnya? Itu bekal dari Tuhan untuknya. Kelembutannya? Kekuatannya? Perhatiannya? Begitulah ibu seharusnya. Melahirkan dan merawat anak? Karena itulah ia bernama.

Duh! Pak Gubernur ini memang ada-ada saja. Apa yang harus aku tulis? Aku tidak bisa menulis tentang ibu.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

Di malam gelapku………

Tidak. Tidak. Puisi macam apa ini?! Aku tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku adalah ibu biasa seperti ibu-ibu lainnya.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

Ibu kau bagai rembulan

………………………………….

Kenapa ini? Susah sekali! Aku tetap tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Tidak ada yang istimewa dari ibuku.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

Peneduh langkahku

…………………………………

………………………………….

Apa yang harus aku lakukan? Tidak bisa. Aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibuku ibu yang begitu sederhana.

Ibu, kau seperti permata di hatiku

Penerang jiwaku

……………………………………

…………………………………..

………………………………….

Ini gila! Lebih gila dari kegemaran ibuku mengoleksi panci. Aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Ibuku sebagaimana ibu. Ia begitu apa adanya seorang ibu.

Ibu, …………………………….

……………………………………

……………………………………

……………………………………

…………………………………..

Sial! Cukup sudah. Aku putuskan untuk pergi ke rumah dinas Pak Gubernur saja. Lalu, akan kukatakan bahwa aku tidak ikut menulis puisi untuk lomba membaca puisi itu. Aku tidak peduli jika Pak Gubernur marah besar kepadaku. Akan kukatakan bahwa aku benar-benar tidak bisa menulis puisi tentang ibu. Akan kukatakan bahwa aku tidak bisa menulis tentang ibu. Ibu adalah puisi. Ibu sudah puisi. Bagaimana mungkin aku bisa menulis tentangnya? (T)

Kemenuh, Desember 2017

untuk Ibu Kendran dan Ibu Astrini

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY