pixabay.com

 

GEMURUH suara terompet dan gelegar kembang api pertanda selamat datang matahari-matahari baru pada hari-hari baru di tahun baru 2018. Pada detik-detiknya di malam terakhir Desember 2017, sontak langit mendadak terang menderang dihiasi berwarna-warna percikan kembang api.

Tepuk tangan diberengi nyanyian terus terucap hampir lebih lima menit, suka cita mengujar setiap insan dengan sebuah harapan dan semangat baru menyongsong datangnya tahun angka genap.

Ada yang berkumpul bersama kawan, kolega, sahabat, rekanan atau apa pun namanya menikmati suasana riuh di tempat yang lapang. Ada juga yang kongko-kongko di tempat yang kekinian dan ada pula yang berkumpul ditepi jalan.

Jangan heran melihat situasi seperti ini, sudah menjadi kebiasaan setiap pergantian tahun. Hening malam bertolak belakang dari hari-hari biasanya, malam beranjak malam malah semarak suara musik bercampur dengan riuhnya lalu-lalang orang.

Begitu suasana yang terlukis dalam bingkai pergantian tahun, tetabuhan berupa tuak, arak, atau tetabuhan import adalah teman yang setia menemani sepanjang detik nol waktu pergantian angka tahun. Saat itu pula rehat sejenak berbincang segala unek-unek baik obrolan yang paling dalam urusan perut sampai di luar perut seperti politik dan situasi kegawatan tatanan sosial di jaman now.

Kelentingan gelas bersulang kembali bersemangat setelah angka sudah berganti. Musik melarutkan imajinasi, sejenak lupa pergolakan hidup, senyum bibir berseri-seri menyebarkan vibrasi suka cita. Tegukan tabuh gelas demi gelas berlanjut sampai perut menolak lagi karena sudah penuh terisi.

Dalam situasi seperti ini rasanya malam terasa milik bersama, asyik. Jika tidak kuat lambaikan tangan acungkan bendera putih. Mual-mual terasa dari kepala segera kontak ke perut, muntah. Perut gemetaran dari dalam merasakan gempa tremor naik ke puncak bibir perut. Ledakan dahsyat tak terhindarkan, muncrat. Memang diakui sepertinya hal itu tidak baik – kata orang sih! Tapi dari sisi tetabuhan, itu merupakan spirit bagi hal lain.

Muntahan tersebut kalau dicari sudut pandang yang berbeda adalah sesuatu yang memberi signal bahwa segala tremor dalam benak pikiran diikhlaskan keluar. Orang harus membuat tremor dalam dirinya sehingga mabuk, lalu memuntahkan kepiluan yang dialami di tahun-tahun lalu. Sehingga dengan perut bersih, pikiran bersih, diri yang bersih, bisa menghadapi tahun baru yang mudah-mudahan juga bersih.

Saat minum atau mabuk, penting juga menyadari daya tampung perut, karena jika tidak sadar maka bisa kerauhan tatkala tidak bisa kontrol. Jadi, jangan rakus. Boleh isi sampai penuh, namun jangan berlebihan. Boleh lebih sedikit saja, namun jangan sampai mengambil isi yang dipunyai orang lain.

Tetabuhan adalah persembahan untuk hal-hal yang dianggap negatif sehingga jika dimuntahkan akan terasa enteng dan lega namun bila ditahan akan berakibat fatal. Sembari demikian dilakukan sebatas tidak merugikan yang lainnya, itu pokok dari riuhnya menyongsong pergantian angka tahun.

Memang sebagian orang menganggap proses kelakuan menyambut tahun baru seperti itu tidaklah baik, namun baiknya dikembali pada pribadi masing-masing. Itu mungkin cara mereka menikmati pergantian tahun, jika tidak berkenan jangan menggangu, jalankan saja apa yang menjadi cara sendiri menikmati malam.

Desember 2017, malam terakhir, awannya tebal. Beruntung tidak hujan. Mungkin semesta juga menikmati suasana kembang api.

Menghitung mundur waktu, sepanjang setahun perjalanan menapak hidup telah dilalui suka diselimuti duka adalah lukisan hidup. Harapan di tahun baru digelorakan sebagai refleksi dan resolusi ke depan melangkah lebih baik dan bijak. Resapi perjalanan panjang yang sudah berlalu, Pengalaman adalah guru yang baik mengajarkan kita. Gersang menguning di penghujung tahun semoga berganti dengan hijau royo-royo. Selamat Tahun Baru 2018 (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY