Awan yang tampak seperti boneka anjing di sekitar puncak Gunung Agung. /Foto: Wayan Paing
UNTUK iseng-iseng dan memenuhi keingintahuan sendiri, saya memasang kamera video (tentu tak terlalu canggih) yang menyorot aktivitas puncak Gunung Agung. Kamera saya pasang di wilayah Gulinten, Abang, Karangasem, tempat tinggal saya.
Dalam rentang waktu yang tak teratur (artinya sesuka saya), saya menengok kamera, lalu mengeceknya untuk melihat pergerakan awan dan asap di puncak gunung.
Sore, Sabtu 16 Desember 2017, saya mengecek kamera bersama anak saya. Mengajak anak memantau aktivitas erupsi Gunung Agung, tentu ada manfaat, dan ada pula susahnya. Susah karena harus selalu waspada dengan peralatan agar tidak “digasaknya” atau tiba-tiba ingin sesuatu yang menyebabkan saya tak fokus. Selain memang anak saya cerewetnya kadang tidak tepat momennya.
Nah, manfaatnya tentu banyak. Saya bisa menanamkan  pengetahuan tentang Gunung Agung kepada anak saya sejak dini. Juga  mengenalkan berbagai media perekaman. Tentunya yang ada dan seadanya.  Terkadang orang dewasa bisa mendapatkan ide setelah mendengar daya  khayal si anak.
Seperti sore ini, ketika diajak untuk mengecek handycam yang terpasang sejak satu jam yang lalu, dengan cerewetnya dia berceloteh.
“Pak, lihat ada anjing. Itu anjing di atas gunung,” katanya berkali-kali.
Mulanya saya tak mengacuhkannya sampai akhirnya dia menunjuk-nunjuk ke arah Gunung Agung, dan betapa leganya hati ini, ketika yang dia tunjuk adalah awan yang sedikit menyerupai boneka anjing.
Rupa anjing itu memang unik dan lucu. Anjing dalam mata anak saya itu terlihat seolah menatap Gunung Agung yang sedikit mengepulkan asap pekat. Dalam hati terbersit angan, Gunung Agung akan baik-baik saja.
Kejadian itu mengingatkan hebohnya beberapa orang tanggal 30 Nopember 2017, yang mengatakan asap Gunung Agung menyerupai Pulau Bali. Bahkan ada akun facebook yang menanyakan sekaligus menyatakan, karena awan itulah mengapa lambang Kabupaten Karangasem berisi logo gunung meletus.
Dan juga saya ingat banyak postingan yang mengunggah berbagai macam rupa orang dari asap Gunung Agung. Dari muka raksasa, wajah garuda, sampai wajah pendeta yang berjanggut putih. Dengan alasan-alasan itu, maka momen ketika awan di dekat puncak Gunung Agung menyerupai anjing, tidak ada salahnya dimuat dalam linimasa media sosial.
Saat itu pula saya menceritakan kepada anak saya tentang gunung yang mengeluarkan asap, tentang awan yang bergerak di udara dan bisa membentuk apa saja, dan tentang hal-hal lain yang mungkin dengan gampang dimengerti oleh anak saya, mungkin juga tak ia mengerti sama sekali.
Soal anjing, saya ingat kembali pada postingan di media sosial 28 September 2017. Saat itu ada foto dua anjing di lereng Gunung Agung (saya lupa siapa yang memposting pertama kali). Dari situ saya menulis dialog antara dua ekor anjing yang konon menjadi penjaga Gunung Agung sebagaimana ditulis banyak media.

 

Dua anjing yang disebut sebagai penjaga Gunung Agung. /Foto diambil di facebook

 

Dialog Imajiner Anjing Penjaga Gunung Agung

DINI HARI, SEJAK SEPTEMBER 2017 DAN SETERUSNYA, DUA EKOR ANJING PENJAGA GUNUNG AGUNG TERLIBAT DEBAT HEBAT. PERDEBATAN ITU MASIH BERLANGSUNG SAMPAI SAAT INI, DAN ENTAH KAPAN AKAN BERAKHIRNYA.

SEBUT SAJA MEREKA ANJING ABD (ANE BELANG DIDORI) DAN ANJING APA (ANE PUTIH AREPNE).

Anjing ABD :

(Bersungut-sungut mengikuti APA yang berjalan ke arah kawah). Kamu jangan begitu. Kesepakatan kita sebelumnya, hari ini diletuskan. kalau gak jadi, mengapa kita beri tanda sebanyak itu?

Anjing APA :

(Tanpa menoleh dan terus saja berjalan). Siapa yang membuat kesepakatan itu. Kita memang sudah membicarakannya. Tapi belum final…, Kau lihat saja, masih banyak orang-orang yang menunggui ternaknya di lereng. Kalau sekarang diletuskan, mereka mati.

Anjing ABD :

Manusia sudah canggih, gak usah pikir mereka. mereka bisa menyelamatkan diri dengan cara dan alat-alat yang mereka miliki! Kamu pikir kalau meletus sekarang, kita juga tidak akan mati? Kena lahar pertama kita. Kalaupun tidak, pasti dipentalkan ke langit, sanggup badan kita tidak hancur?

Anjing APA :

Ya. ya aku paham. Tapi berikan mereka waktu untuk menyelamatkan diri. Kalau toh ada yang kena, itu sudah umur mereka. Ada Yang Kuasa yang ngatur. Kamu pusing banget mikir mereka, toh setelah meletus subur lagi tanah mereka.

Anjing ABD :

(Tampak berpikir keras. sesekali menggaruk pangkal kupingnya dengan kaki kanan depannya.) Itu terlalu lama, dan mungkin saja mereka kembali lagi karena tidak percaya dengan tanda-alam. Toh yang tidak selamat kebanyakan manusia-manusia kaya yang tidak berani meninggalkan kekayaannya!

Anjing APA :

Kamu salah. Manusia-manusia yang menganggap tanaman dan hewan peliharaannya sebagai jiwanya, tidak mungkin semudah itu meninggalkan lereng-lereng berbahaya ini. Kamu harus paham!

Anjing ABD :

Ya, biarkan saja kalau begitu. Kamu tidak lihat, semua sudah diungsikan. Rakyat rakyat kecil sudah diungsikan. Mungkin karena kecilnya dianggap mudah mengangkutnya. Kalau gak mau, mereka dipaksa. Sedangkan yang modalnya besar, coba lihat… lihat itu ke bawah, kalau kamu merasa di atas. Truk-truk besar bebas keluar masuk zona merah. Apa karena saking besarnya gak bisa diangkut dan diberhentikan?

Kalau dipikir-pikir, yang punya tempat harus pergi, meninggalkan semuanya. bahkan ternak dilelang murah-murah menjadi bencana lain bagi mereka. Tanaman penghidupan mereka mereka tinggalkan. Makan hati mereka. Sakit hati mereka…

Sedangkan yang mencari uang, kendaraannya hilir mudik masuk zona. menghalangi jalan-jalan mereka yang mengungsi, menghalangi logistik bagi pengungsi, bikin macet, bikin riuh. Kamu gak tahu, yang tidak kena zona bahaya saja sampai mengungsi,, tahu sebabnya? Itu karena GETARAN KENDARAAN YANG LEWAT ITU DIKIRA GEMPA.

Anjing APA :

(Perlahan kedua kaki depannya dijulurkan ke depan, ujungnya tepat di bibir tebing di atas kawah)

BELUM SEMPAT BERPIKIR…. TIBA TIBA AWAN SEPERTI SARANG LABA LABA MENERJANG MEREKA. MEREKA TERKEJUT. TERNYATA JARING RELAWAN MENGURUNG MEREKA. SEBELUM MEMUTUSKAN, MEREKA DIUNGSIKAN. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY