Nyoman Erawan, Pameran Shadow Dance (2017). /Foto: Wayan Naya

.
KE BARAT DARI LOVINA

1.
Sulur-sulur anggur menggoda kami di jalan lurus
Matahari memerah. Di antara tiang-tiang kayu junjungan,
di bukit landai dan pantai yang kurus
menjulur batang-batang karma merindukan api penyulingan
gelas dan darah perjamuan

Maka kami pejamkan mata sejenak mengenang
panjang perjalanan. Ada yang berdentang di hati kami,
ada yang pecah, retak berkeping. Tapi ada pula menyatu:
segala buih, desir pasir, smaraman ombak, segala yang tak kami tahu
jadi piala bening kaca selusin anak lumba-lumba
meluncur di sisi perahu—di sisi mana kami berpacu

Tapi tidak. Sebagai piala dari laut dan pantai kesunyian,
kamilah yang meluncur—di jalan lurus
memburunya ke cakrawala yang kini memerah, entah warna matahari
atau merah anggur darah
yang tumpah
dari altar para dewa

2.
Pucuk-pucuk lontar menggapai kami selepas tikungan
Padang datar sehening batu. Dalam semak-semak
seekor ular sumbing mengintai buah dan piala yang kami dekap
lekat ke dada. Seekor menjangan luka
menggariskan darahnya pada tanah

Kami pun khusuk berdoa, sebelum tengadah
menampak garis nasib kami tergurat di daun-daun lontar
yang bergerak perlahan seperti kipas di tangan penari ngibing:
ada yang lepas, yang tidak pada tempatnya, jatuh ke padang datar
Ada yang tumbuh diam-diam dari tikungan ke tikungan
seperti doa-doa kami mencari alamat pengaduan. Hening.

2011

DI KAMPUNG NAGA,
AKU TERINGAT RUMAH

Tiba-tiba aku teringat rumah saatku bersila
di Kampung Naga. Keheningan menyembunyikan keningku
di lorong yang bersusun batu-batu
—seperti lorong waktu
Di antara rumah-rumah dengan jendela kayu
dan pintu-pintu serasa hendak memelukku.

Semuanya mengingatkanku pada rumah masa kecil
di ranah ibu. Batinku hanyut menyusuri kenangan
di antara kolam, parit, pancuran batu
hingga kesunyian Sungai Ciwulan
memberiku mainan pahit-rindu: ranum pisang panggang,
selendang lusuh bekas gendongan, dan akhirnya
puting susu ibu yang tak kutahu lagi
cara mereguknya!

/Tasikmalaya, 2006

JAGUNG BAKAR TEPIAN MAHAKAM

jagung bakar tepian mahakam, umbu,
ngingatkanku pada sajakmu:
jagung bakar pantai sanur
apalah beda
bara rindu kita
sama membubungkan satu pinta:
bersua tak di mana, bersua di mana-mana…

pun latar masih perahu kayu
keberangkatan sebatas penyeberangan
laut dan sungai samalah keruh
tapi kita tetap berpaut bersauh
di tengah riuh orang-orang
meminang petang

o, adakah mereka tahu
hangus jagung bakar itu
hanguskan petak ladang
kenanganku!

ke air keruh
kulempar tongkol jagung sisa kenangan
lalu bertongkol-tongkol yang lain
dilempar orang hingga ke seberang
tapi aneh, aku melihatnya
serupa pohon-pohon besar
terhumbalang
tak berdaya
hanyut
dalam ikatan
kapal-kapal baja hitam.

/Samarinda, 2004-2006

SUNGAI SUNGI, TABANAN

Sungai Sungi yang dalam
Apa kabar lumbung-lumbung kencana
subak dan banjar, tanah Tabanan?

Masihkah segalanya terjaga
dengan mata bajak, sapi pilihan,
kelenong genta, tabuh gamelan?
Masihkah terbuka
tangan-tangan pengharapan
yang mengangkut hasil panen
setinggi kepala perempuan
berbaris di pematang
menyunggi bunga
dan persembahan?

O, Sungai Sungi
beri aku jawaban:
sunyi yang dalam!

/Tabanan, 2011

BLORA

—keluarga mastoer

Karena minum air
dari akar kayu jati
maka kalian keras
memeluk bumi.

Blora bumi manusia
Tanah panas matahari
Tapi lebih panas di luar sana
dan segalanya menanti.

Di bukit-bukit kapur
Tak terlihat kapal-kapal datang dan pergi
di Laut Jawa. Tapi lambungnya menghisap sampai jauh
ke mata air Kali Lusi yang kalian punya.

Maka lewat seutas jalan ke Rembang
Kalian pun datang ke laut, mengenal samudera
Segalanya bergelora, segalanya bergelora!

Kali Lusi, dada yang bergemuruh pertama kali
Janganlah ditinggalkan
Dan memang tak pernah kalian tinggalkan.

Di sana, segalanya nyala
dalam darah dan urat tangan
Keras memeluk bumi kelahiran.

/Blora, 2013

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY