Pentas monolog Pelacur di Romprok Kopi Kertas Budaya, Jembrana

 

“Senang? Bagaimana bisa senang kalau diperkosa? Saya juga manusia biasa, meskipun PELACUR!” (Monolog Pelacur, Putu Wijaya)

Eksistensi seorang pelacur seharusnya tidak usah dipertanyakan lagi. Bukan hal mengapa dia ada? Namun, siapa yang membuat dia ada? Selama dirinya masih dicari dan dibutuhkan untuk memuaskan selangkangan-selangkangan berduit, dia tidak akan berhenti bekerja.

Pelacur bukanlah sebuah cita-cita. Manusia mana yang dengan bangganya berkoar jika kelak saat besar dia ingin menjadi pemuas dahaga diatas ranjang?  Nihil. Pilihan karena kosongnya pilihan lainlah yang membuat para perempuan tersebut merentalkan vagina mereka. Apa karena bekerja sebagai pelacur membuat mereka menjadi bukan manusia? Siapa bilang?

Mereka tetaplah manusia, dengan jumlah anggota tubuh yang sama dengan manusia lain. Mempunyai akal, pikiran dan hati, hal yang dimiliki juga oleh makhluk yang disebut manusia, bukan? Tetapi, mengapa perlakuan yang mereka terima berbeda? Mengapa untuk menafkahi keluarga, mereka menyembunyikan identitas?

Sebagai warga, pelacur juga punya hak yang sama untuk mendapatkan keadilan atas ketidakadilan yang mereka terima dari oknum panutan masyarakat yang seharusnya menegakkan keadilan itu sendiri.

Paradoks di atas dituangkan dalam sebuah pementasan monolog dalam rangka  Festival Pelajar Jembrana dalam naskah monolog yang berjudul Pelacur karya Putu Wijaya pada tangggal 8 Oktober 2017 lalu di Rompyok Kopi Rumah Kertas Budaya Jembrana.

Setelah 2 bulan, sang sutradara, Wulan Dewi Saraswati memutuskan untuk mementaskan naskah ini sekali lagi dalam Festival Monolog 100 Putu Wijaya pada pertengahan Desember 2017 dengan tetap mempercayakan saya, Devy Gita, untuk memerankan si Pelacur.

Mengambil naskah yang sama dengan aktor yang sama pula merupakan sebuah pemuasan dahaga berkreatifitas dan bereksperimen dalam sebuah produksi pementasan teater khususnya monolog. Dalam sebuah naskah, berbagai interpretasi tentang bagaimana membawa naskah ini ke atas panggung bermunculan.

Mulai dari setting panggung, kostum pemain, iringan musik yang digunakan, visualisasi pendukung, sampai gesture dan mimik pemain saat di atas pangung.  Sehingga menjadi wajar jika saat sebuah naskah dieksekusi menjadi pementasan satu dan lainnya walaupun dimainkan oleh aktor yang sama akan terasa berbeda.

Hal inilah yang menjadi latar belakang dipilihnya naskah pelacur dengan aktor yang sama untuk kembali dipertontonkan pada hari Selasa, 19 Desember 2017 nanti di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja.

Berkaca dari evaluasi penampilan sebelumnya yang di tonton kembali berkali-kali dan menerima banyak kritik membangun, pementasan kali ini memberikan beban yang lebih besar kuantitasnya bagi aktor maupun sutradara.

Pada pementasan pertama, persiapan pentas kurang dari 7 hari. Mulai dari pemahaman naskah hingga publikasi dan gladi. Apalagi saat pementasan terjadi beberapa kendala tidak terduga yang membuat pementasan terlihat kurang maksimal dan tidak memberikan kepuasan bagi sutradara maupun pemain.

Proses pra-produksi untuk pementasan kali ini mendapatkan porsi waktu yang lebih Panjang. Persiapan dan latihan dilakukan tidak terjadwal karena kesibukan masing-masing dari sutradara dan aktor yang harus menunaikan kewajiban untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Latihan dimulai sore hingga malam hari sambil menyiapkan mapping dan publikasi untuk memeriahkan pementasan.

Mekipun pementasan monolog memerlukan tim dan persiapan pra-produksi yang tidak sebanyak produksi – produksi teater lain, kami tetap melakukannya dengan serius. Detail sangat diperhatikan, sutradara juga memberikan kebebasan pemain untuk bereksplorasi terhadap naskah.

Namun karena saya, si pemain, belum memiliki jam terbang tinggi dalam hal pementasan monolog, kesabaran dan arahan sutradara menjadi hal yang krusial. Beruntung, pemain dan sutradara memiliki kedekatan dan dalam frekuensi yang sama sehingga proses latihan berjalan dengan baik.

BACA JUGA: Pelacur, Repetisi Ingatan Perempuan dan Hak yang Dibungkam

Untuk publikasi dan musik penyemarak pementasan, tangan-tangan kreatif Carolina Ajeng (Akar) dan Dea Chessa dipercayakan. Mengambil konsep recall memory dengan menggabungkan potongan – potongan stimulus dari emosi masa lalu dan keadaan sekarang, sutradara dan pemain ingin memberikan penampilan berbeda dari pementasan Pelacur sebelumnya yang sangat sederhana.

Pra-Produksi Monolog pelacur dikerjakan keroyokan oleh perempuan-perempuan untuk perempuan. Mengingat kami bernaung dibawah payung Komunitas Mahima yang aktif bergerak dan menyuarakan The Power of Women melalui seni pertunjukan dan sastra, kami sekaligus ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa kami adalah perempuan yang memiliki semangat, potensi dan kemampuan untuk menghasilkan sebuah karya yang layak dinikmati oleh penikmat seni pertunjukan teater.

Juga, kami mengharapkan mampu memberikan percikan rasa kepo bagi orang-orang yang tidak tahu menahu tentang pertunjukan monolog sehingga mereka penasaran dan datang berbondong – bondong menonton dan bersenang-senang bersama. (T)