Foto: Ian Sumatika

 

PELAJARAN sekolah dasar yang paling saya ingat hingga sekarang adalah pelajaran tentang pentingnya merawat kesehatan gigi yang disampaikan dengan gaya mendongeng oleh guru saya. Ini menarik. Hampir seluruh teori yang diajarkan pada masa itu telah rontok dari ingatan, tapi dongeng-dongeng macam itu tidak. Ia tetap melekat kuat dalam benak. Bahkan mimik dan gerakan tubuh sang guru saat mendongeng pun masih tergambar jelas.

Dongeng pada masa kanak memang luar biasa. Ia dapat melekat sangat kuat dalam ingatan. Maklum, dongeng memiliki ‘sihir’ yang membimbing anak-anak masuk ke dunia imajinasi dan mengajak mereka merasakan berbagai pengalaman baru, bahkan yang musykil dirasakan di dunia nyata.

Rangkaian kalimat dalam dongeng memiliki kekuatan yang mampu mengajak anak-anak asyik terlibat dalam sebuah kehidupan imajinasi, di mana realitas dapat direntang hingga seluas-luasnya. Keasyikan itulah yang membuat mereka dengan suka rela memokuskan perhatian dan berbagi emosi dengan para tokoh di dalam cerita.

Pada saat itulah nilai-nilai dan berbagai pelajaran penting tentang kehidupan yang terselip di dalam dongeng mereka cerap dengan baik dan efektif. Ini akan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pembentukan pondasi bagi karakter yang baik pada anak.

Tentang karakter, ahli psikologi Gordon Allport, mengatakan bahwa periode paling efektif untuk menyusun pondasi bagi pembentukan karakter seseorang memang pada usia di bawah sepuluh tahun. Penanaman nilai pada periode ini selain akan memberi dampak yang bertahan lama, juga memberi efek berkelanjutan (multiplier effect).

Jika pada usia di bawah sepuluh tahun aspek-aspek kepribadian macam empati, toleransi, disiplin, kepedulian, kejujuran, kesopanan, rasa hormat, keterbukaan, kesetiaan, kesabaran, tanggung jawab, kemampuan bekerjasama, dan lain-lain kerap ditanamkan, maka nilai-nilai tersebut akan menjadi kebiasaan yang kelak akan mengristal menjadi karakter yang baik.

Sebaliknya, jika pada usia ini si anak mendapatkan curahan nilai-nilai negatif atau perlakuan yang kurang baik, maka hal itu akan menjaid pengalaman pahit yang membekas dan mempengaruhi perangainya. Jika berlarut-larut, hal buruk itu pun akan mengristal dan membentuk karakternya. Hal buruk di masa kanak yang dapat menjadi dasar dari karakter negatif seseorang antara lain: gemar menunda, enggan rapi, takut menghadapi risiko, selalu ragu dalam bertindak, rasa malu yang berlebihan, dan lain-lain.

Baik untuk memperkokoh nilai-nilai baik maupun untuk mengikis hal-hal buruk dalam diri anak-anak, seperti yang telah saya katakan dimuka, dongeng merupakan salah satu cara terbaik. Sebab menurut ahli psikolog klinis George W. Burns, dongeng mengandung banyak karaterisitik penting dalam komunikasi efektif, seperti:

  • interaktif,
  • atraktif,
  • memangkas resistensi,
  • membangkitkan dan mengembangkan imajinasi,
  • membagun kemampuan memecahkan masalah,
  • menghadirkan berbagai kemungkinan jalan keluar, dan
  • merangsang anak untuk mampu membuat keputusan mandiri.

Karenanya, penting bagi orangtua untuk sekerap mungkin menuturkan/membacakan dongeng bagi anak-anak. Begitu banyak dongeng-dongeng baik yang dapat diambil dan dibacakan bagi mereka. Karena mendongeng merupakan satu cara penting untuk membangun karakter baik bagi anak-anak, semakin kerap Anda mendongeng, semakin besar sumbangan Anda bagi pembentukan generasi baik.[T]

Rujukan:
-Barbara C. Unell dan Jerry L. Wyckoff, Ph.D; 20 Teachable Virtues – Practical Ways to Pass on Lessons of Vistur and Character to Your Children
-Rinaldi Lenggana; Mendidik Anak dengan Metoda Hypnosis, http://theurbanmama.com

Catatan: tulisan ini dimuat pertamakali di agungbawantara.blogspot.co.id

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY