Band Antrabez saat jumpa pers di Denpasar

 

DI dalam penjara, orang bisa kehilangan akal. Tetapi tidak dengan Antrabez, band beranggotakan Napi Lapas Kerobokan. Mereka bernyanyi, mereka bermusik.  Dan, bagus.

Siap-siaplah mendengarkan salah satu lagu andalannya mereka yang bertajuk Indonesia. Lagu dengan tema besar tentang sebuah bangsa yang dicinta. Atau sebuah wilayah tempat mereka hidup. Mereka memilih tema sendiri dengan kesadaran penuh, terutama tentang manis-pahit kehidupan sehari-hari.

Mereka pun tak ragu mengusung tema-tema alam dengan segala problematika yang terjadi di dunia, dan lingkungan sekitarnya. Jadi siapsiap juga mendengar lagu “Alam Bernyanyi”. Lagu yang apik.  Lagu itu masuk ke dalam album kompilasi Puputan Melawan Korupsi dalam rangka Festival Anti Korupsi yang diselenggarakan KPK.

“Indonesia” dan “Alam Bernyanyi” akan bisa didengarkan pada album Antrabez  yang kedua. Lagu lainnya adalah “Secret of Life”, “No More Fear Livin’ two life forever”,  “Friday Night”, “Rhythm of Love”, “Alive”,  “Stop the War”,  “Wild Roses”,  dan “Beneath of Lies”.

Cinta, Alam, dan Negeri

Dalam jumpa pers di Denpasar, Selasa 5 Desember 2017, terjelaskan proses album kedua ini melibatkan Antida Music Productions yang memang punya perhatian besar terhadap perkembangan musik di Bali, terutama musik yang berasal dari “luar kebiasaan”.

Antida Music Productions melihat kinerja dan kemauan keras Antrabez yang tak pernah letih dan terus bertekun dalam dunia musik tanah air. Hal inilah yang menyebabkan Antida Music Productions turut mengambil bagian untuk memfasilitasi Antrabez dalam merekam lagu-lagu mereka.

Anom Antida dan Kalapas Kerobokan Tony Nainggolan saat jumpa pers album kedua Antrabez di Denpasar, Selasa 5 Desember 2017

Anom Darsana, direktur sekaligus pemilik Antida Music Productions membuka tangannya untuk memproduksi album kedua milik Antrabez ini.

Album kedua milik Antrabez ini memang mengusung ema-tema di seputaran kehidupan, cinta, alam, dan untuk Negeri tercinta Indonesia, tetapi tentu saja lirik ini dibungkus dengan unik sehingga bisa menjadi salah satu alternative lagu yang akan disukai oleh masyarakat luas.

Sebab, meskipun tema ini masih merupakan seputaran tema yang pada umumnya, tetapi ruh dan jiwa lagu dalam album ini, tentu akan memberikan pengalaman yang tidak biasa di telinga masyarakat Indonesia, karena segala keringat pikiran dari seorang Octav Sicilia, salah satu personel Antrabez yang juga merupakan seorang pencipta lagu kedua ini, berdarah-darah menggodok lagu ini di penjara.

Proses rekaman dari album kedua Antrabez ini, kemungkinan akan menghabiskan waktu 2-3 bulan, dan semoga hal ini sudah selesai digarap bersama, agar launching Album ini dapat digelar pada bulan Februari mendatang.

Kalapas Kerobokan Bali, Tony Nainggolan, juga punya perhatian besar terhadap Antrabez. Ia dengan semangat mendukung terwujudnya mimpi-mimpi Antrabez dalam rekaman album kedua ini.

Tony Nainggolan, selaku Kalapas Kerobokan, memberikan dukungan penuh kepada Antrabez dalam mewujudkan semua mimpi mereka melalui kegiatan yang aktif dan kreatif ini, dan tidak hanya sebatas itu, ia juga berharap untuk langkah keatif ini bisa ditiru oleh semua potensi-potensi yang ada di dalam Lapas Kerobokan Badung.

Antrabez pun akan memberikan yang terbaik semaksimal mungkin untuk bisa diterima di kalangan masyarakat, dan album kedua ini dapat ditangapi secara positif oleh masyarakat yang ada. Semua yang terbaik, Antrabez sajikan dari hati mereka. Dan dari hati, kemurnian dan keindahan akan senantiasa tercipta.

Begitulah, Antrabez tetap berpikir besar, meski di ruangan sempit. Dengan berpikir besar, Antrabez bangkit melampaui situasi yang ada, dan mulai menciptakan masa depan yang cemerlang yang mereka pilih: Tetap berkreativitas, meski raga terpenjara.

Antrabez, Anak Terali Besi

Antrabez, sejak terbentuk di Lapas Kerobokan, memang tidak pernah kehilangan akal untuk selalu menumbuhkan minat dan kreativitas mereka dalam bermusik, meski raga mereka terkurung di dalam jeruji besi. Kesedihan, penderitaan, dan kegelisahan tidak selamanya dapat membunuh kreativitas mereka, justru sebaliknya, ketiga hal itu membuat mereka menjadi luar biasa kreatif, dan melahirkan karya-karya musik yang apik.

Antrabez, yang berarti “Anak Terali Besi” merupakan band yang terlahir dari dalam Lapas Kerobokan, Bali dan seluruh personilnya adalah Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) dengan talenta musik yang baik. Saat ini personil Antrabez sendiri ada yang masih menjadi WBP, namun juga ada yang sudah meraih kebebasannya dan menjadi mantan WBP.

Keberadaan group band ini bermula saat dibentuknya Sanggar Seni Semeton di Lapas Kerobokan, Bali, pada bulan Mei tahun 2016 dan dipelopori oleh Pak Toro, Mantan Kalapas Kerobokan yang termotivasi untuk melakukan suatu perubahan yang positif, khususnya melalui berbagai program pembinaan yang dapat mengembangkan kreativitas dan potensi para Warga Binaan Permasyarakatan.

Melalui karya-karyanya diharapkan dapat memotivasi sekaligus menjadi bukti bahwa kita tetap mampu berkreasi dan berkarya meskipun dibatasi oleh terali besi, sebab kreativitas adalah hal yang tanpa batas.

Demikianlah, Antrabez tak ragu lagi untuk menyinari panggung musik Indonesia, dengan berbekal Love, Life, Loyal – Kecintaan mereka dengan musik, kehidupan mereka dengan bermusik, loyalitas mereka dengan bermusik.

Album pertamanya telah diluncurkan pada tahun 2016 lalu. Terdiri dari tujuh lagu terangkum apik dalam album yang berjudul “Saatnya Berubah” tersebut. Sebagian besar, lagu-lagu tersebut terinspirasi dari “Spiritual Experience” para personel maupun WBP lainnya khususnya selama menjalani masa pidana di dalam Lapas.

Tidak hanya sebatas itu, Antrabez pun telah memiliki sebuah video klip dari album perdananya tersebut, yang digarap oleh sineas muda nusantara Erick EST. Pengambilan gambar banyak dilakukan di dalam Lapas Kerobokan, termasuk merekam berbagai aktivitas para binaan yang jarang sekali diketahui oleh masyarakat luas.

Di album kedua yang sedang dalam proses, Antrabez akan hadir dengan pukau yang memikat. Pukau yang bisa didengar, dilihat, dirasakan oleh setiap mata, dan setiap manusia. Pukau yang hadir mengaliri indera. Pukau yang tidak terbatas (no limit) yang meyakinkan bahwa kreativitas mengalir seperti air dan cahaya: tidak terkukung, dan tidak terbatas. (T/R/Pran)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY