Foto: Mursal Buyung

 

MALAM itu ada yang berbeda di agenda latihan Komunitas Cemara Angin, Jumat, 17 November 2017. Komunitas Cemara Angin yang akan melangsungkan pertunjukan Malam Apresiasi Sastra (MAS), 3 Desember, sedang mempersiapkan latihan untuk aksi panggung yang matang.

Dalam MAS, pementasan yang akan dipertontonkan sangat beragam yaitu pembacaan puisi, pembacaan cerpen, dramatisasi puisi, dan salah satunya ialah musikalisasi puisi atau biasa dingkat dengan “muspus”.

Mayoritas orang mengatakan bahwa musikalisasi puisi adalah puisi yang sekadar dinyanyikan. Atau ada pula yang menganggap musikalisasi puisi ialah lagu yang diselingi pembacaan puisi.

Tidak ada yang dapat membantah pemahaman orang-orang itu, namun jika ditelisik lebih dalam, musikalisasi puisi sesungguhnya kolaborasi apresiasi seni, antara musik, puisi, dan pentas. Melalui musikalisasi puisi, makna yang tersirat di dalam puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada penikmat puisi.

Menggarap musikalisasi puisi bukanlah hal yang baru bagi Komunitas Cemara Angin yang berkandang di Kampus Bawah Undiksha ini. Sebagai salah satu komunitas yang beraliran sastra, hal yang berbau musik dan sajak tentu tak lagi asing bagi setiap anggotanya.

Namun, musikalisasi puisi tidaklah semudah yang terlihat. Penentuan nada yang sesuai dengan pemenggalan puisi kerap kali menjadi masalah utama.

Berdasarkan hal tersebut, ketika malam bertaburan bintang dan anggota Komunitas Cemara Angin tengah duduk melingkar, Heri Windi Anggara atau yang disapa Kak Heri, hadir memberikan workshop mengenai beberapa tips untuk memudahkan dalam proses penciptaan musikalisasi puisi tersebut.

Menurut Kak Heri ada tiga langkah penting dalam menciptakan sebuah musikalisasi puisi yang luar biasa.

Langkah pertama ialah dengan menganalisis terlebih dahulu tema dari puisi yang akan digarap. Menganalisis tema dari puisi akan membantu pemusik untuk menemukan nada yang sesuai.

Jika tema dari keseluruhan puisi mengandung unsur semangat dan menghentak, nada yang akan diciptakan mengikuti tema puisi tersebut, yaitu mengentak dan mampu mengundang semangat.

Mayoritas, dalam menciptakan musikalisasi puisi pemusik kerap kali melupakan hal ini. Kenyataannya tak selamanya musikalisasi puisi bernada sendu namun harus disesuaikan dengan tema puisi yang diangkat tersebut.

Langkah kedua yang dapat dilakukan ialah menentukan pemenggalan puisi yang tepat. Pemenggalan puisi haruslah murni dari seberapa baik puisi tersebut dapat di penggal dan mampu memberikan makna yang utuh.

Pemenggalan puisi memiliki poin yang sangat penting sehingga hal ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Kesalahan yang kerap kali dilakukan dalam menciptakan musikalisasi puisi ialah kesalahan pemenggalan dikarenakan puisi haruslah menyesuaikan dengan nada atau ritme lagu yang telah dibuat. Padahal, ritme nada-lah yang seharusnya menyesuaikan pemenggalan puisi bukan sebaliknya.

Langkah ketiga ialah memberikan rasa atau penghayatan pada musikalisasi puisi yang tengah diciptakan. Setiap orang yang tengah menggarap musikalisasi puisi memiliki rasa yang berbeda satu sama lain dalam menghayati puisi tersebut.

Poin terpenting ialah biarkan setiap orang memberikan rasa tersebut mengalir sendirinya tanpa dibatasi sehingga musikalisasi puisi yang tengah digarap menjadi lebih hidup.

Setelah membagikan tips, Kak Heri mengajak anggota Komunitas Cemara Angin untuk melakukan pemanasan sebelum memulai latihan yang sesungguhnya. Metode pemanasanpun terlihat berbeda dengan pemanasan umumnya, namun melalui metode tersebut hasil pemanasan dapat dirasakan lebih maksimal.

Ketika malam terasa semakin larut, Komunitas Cemara Angin memulai latihannya dengan menerapkan tips dari Kak Heri dan latihan pada malam berbintang kali itu memberikan kesan yang luar biasa dikarenakan satu lagi pengetahuan telah bertambah sehingga pementasan selanjutnya akan berlangsung maksimal. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY