Sumber ilustrasi: kaospremium.com

 

”Gitu Aja Kok Repot”. Siapa orang yang tidak tahu dengan kata mutiara itu, kata utiara yang sering dilontarkan oleh priseden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan kemudian dikutip oleh banyak orang? Ya, sebagian besar orang Indonesia akrab dengan kata mutiara yang sekilas seperti guyon, dan sekilas bermakna mendalam.

Selain dikenal sebagai sosok yang humoris, Gus Dur juga terkenal dengan kebisaan aneh yang mungkin dirasa unik. Yakni, sering“tertidur”. Sering sekali “tidur” dan tampak “mudah terlelap” di mana saja, di runag resmi maupun nonresmi.

Misalnya saat baru duduk di kursi tamu undangan pada suatu hajatan atau sidang paripurna DPR, dan banyak momentum penting lain. Misteri kebiasaan tidur Presiden Keempat RI itu kerap membuat orang gelisah bahkan mungkin jengkel.
Sang sahabat, KH.Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus menyampaikan tingkah aneh Gus Dur sudah diketahui banyak orang.

“Gus Dur dianggap tidak sopan. Bagaimana tidak? Kebiasaan tidur Gus Dur juga sudah disaksikan rakyat Indonesia”. Misalnya, saat menghadiri sidang pleno di DPR. Gus Dur yang saat itu menjabat Presiden RI duduk di atas kursi dengan kepala terlihat miring. Jelas tertidur. Ia tertidur saat para anggota dewan tengah berbicara silih berganti”.

Meski tertidur, namun saat giliran presiden berbicara, Gus Dur bangun bahkan bisa menjawab dengan tangkas dan cerdas. Sama seperti saat Gus Dur tertidur di tengah pidato pemimpin Iran. Ia terbangun setelah pidato usai, bahkan mengangkat tangan terlebih dahulu untuk meresponnya. Menunjukkan bahwa, dirinya sangat memahami isi pidato pemimpin Iran tersebut.

“Gus Dur, adalah orang cerdik, sangat cerdas, dan menguasai banyak ilmu agama dan ilmu umum. Pengetahuan yang sangat luas yang dimiliki olehnya itu. Akan tetapi, boleh jadi dibalik tidurnya Gus Dur itu menyimpan sebuah rahasia yang tidak di ketaui oleh, banyak orang. Hanya terkhusus para sahabatnya saja yang mengetahuinya.

Bisa jadi Gusdur dianugerahi “keistimewaan” oleh Tuhan yang Maha Esa. Yakni ilmu “weruh sak durunge winara”, yakni mengetahui sebelum tejadi. Sebagaimana orang-orang menyebutnya dalam tradisi pesantren, yaitu ilmu laduni. Mungkin banyak di kalangan masyarakat asing tidak tahu.

Apa itu ilmu laduni? Kata laduni (ladunni), berasal dari bahasa Arab, akar kata dari ladun/ laday, berarti dekat/pangkuan. Banyak ulama dan sufi memberikan pengertian berbeda namun memiliki hakikat makna yang sama.

Pengertian ilmu laduni menurut al-Ghazali adalah ilmu yang dipancarkan langsung oleh Tuhan ke lubuk hati manusia tanpa proses belajar terlebih dahulu dan tanpa proses metode ilmiah. Menurutnya lahirnya ilmu laduni, melalui kasyf atau ilham.

Menurut Gus Mus, ada cerita turun-temurun bahwa beberapa putra-putri kiai tiba-tiba menjadi pintar, cerdas, bisa mengaji kitab kuning besar, atau bahkan bisa berceramah hebat, meskipun tidak diketahui kapan mereka belajar mengaji atau belajar kepada guru ngaji ustad/kiai. “Para sufi besar seperti Abu Yazid Al-Bisthami,Ibnu ‘Arabi, dan Al-Ghazali, konon, adalah orang-orang yang memperoleh pengetahuan ini. (KH.Husein Muhamad, 2015).

Jika dikaitkan dengan banyak berita belakangan ini tentang Ketua DPR Setya Novanto tertangkap kamera tengah tidur di sejumlah peristiwa, seperti ketika sedang mengikuti rapat paripurna DPR dan acara Musda Golkar, muncul pertanyaan apakah “Bapak yang Kita Hormati” itu mewarisi ilmu laduni?

Perihal kesamaan dalam memejamkan mata, mungkin sama dengan Gus Dur, atau orang lain yang terbiasa tidur saat moment-moment serius. Akan tetapi saya sendiri masih bertanya-tanya dalam hati kecil, apakah Setya Novanto dapat dikatakan mewarisi ilmu laduni seperti setidaknya mirip Gus Dur? Mungkin ya, mungkin tidak. Saya benar-benar tak berani menyimpulkan. Tak berani salah. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY