Ilustrasi diolah dari sumber-sumber gambar di Google

 

KIDS zaman now sudah terbiasa dengan gawai-gawai canggih dalam hidupnya. Dari satu layar yang besarnya cuma beberapa inchi itu hampir semua hal bisa dilakukan. Bahkan, gara-gara benda seuprit itu, bisnis-bisnis besar berguguran. Perusahaan taxi gugur karena uber. Hotel mulai kalang kabut karena airbnb.

Lama-lama, pendidikan pun bisa jadi korban era distruptif. Bisa nih, daripada memperbanyak bangun sekolah (yang sering malah kekurangan murid) buat saja kelas virtual. Anak bisa belajar di mana saja. Tanpa perlu secara fisik datang ke sekolah. Tinggal buka aplikasi, semua materi bisa dipelajari.

Nah, selain itu, tidak perlu rekrut guru yang banyak lagi. Efisiensi. Toh, ketimbang mendatangkan guru yang banyak tapi belum bisa menggajinya dengan layak (Gila, 200 ribu sebulan buat bayar listrik saja tak mampu!). Lebih baik dioptimalkan fungsi guru-guru yang sudah ada. Atau dikurangi kalau perlu. Katanya PNS membebani APBN. Kan lumayan efisiensi…

Untuk kegiatan belajar mengajarnya, guru dan murid tetap bisa berinteraksi dua arah. Bisa diadakan seperti webinar yang sekarang lagi ngetren itu. Praktek bisa diberi panduan seperti video DIY (Do It Yourself) di youtube.

Dengan sistem seperti itu, maka efisiensi akan terlihat nyata. Gedung-gedung bekas sekolah bisa dimanfaatkan agar mendapat pemasukan. Kelas-kelas jadi kos-kosan, Aula jadi warung makan. Ruang guru bisa jadi minimarket franchice yang indoalfa banget itu.

Guru-guru bisa dialihkan tugasnya, bisa jadi admin, peneliti, pengembang metode pembelajaran, tim IT, Costumer Service, dan tim survey.

Tidak akan ada lagi anak-anak di bawah umur mengendarai sepeda motor dengan alasan sekolah. Tidak ada konvoi kelulusan, atau tawuran antar sekolah, toh sekolahnya juga ga ada.

Bisa jadi.

Bisa jadi, hal itu terjadi di masa depan jika pendidikan terus menitikberatkan pada intelektual intelegensianya.

Minggu lalu, setelah ujian yang membosankan, saya ijinkan anak-anak bermain pesawat kertas di kelas. Terlihat kegembiraan di mata mereka. Terlihat bagaimana mereka belajar bersahabat, belajar teamwork, dari kebandelan itu.

Bahkan, harus diakui. Kenangan yang paling melekat di sekolah bukanlah pelajarannya. Tapi ikatan emosi yang terjadi di sekolah.

Kenangan belajar berinteraksi, belajar bercanda, belajar bersahabat, belajar berjanji, belajar menghargai, belajar PDKT, belajar jatuh cinta, belajar patah hati, itu yang paling melekat. Makanya, lagu judulnya “Kisah Kasih di Sekolah”, bukan “Belajar Sejarah di Sekolah”.

Toh, hal itu yang membuat sekolah masih penting. Yang menjadikannya hidup, tidak dianggap sekadar bangunan mati. Tapi pusat kenangan. Itu yang tidak bisa di-online-kan. (T)

2 COMMENTS

  1. Jos, saudaraku noval,😊, pandangan yang sangat benar dan mampu membuat otak ini sejenak melakukan relevansi dengan lapangan yg kita hadapi ,

LEAVE A REPLY