Foto: Istimewa

 

Apa sih susahnya menjadi guru? Jadi guru saja sudah, gampang kan? Tinggal mengajar dan pulang.

Jadi guru itu enak, muridnya libur guru juga libur.

Jadi guru saja, gampang ijin kalau ada ngayah (gotong royong) di banjar. Tinggal kasi tugas murid-muridnya.

BAGI kalian yang menjadi guru karena iming-iming di atas, apa yang kalian hadapi sekarang? Apakah kenyataan seindah dan segampang mengajar lalu pulang?

Dibutuhkan panggilan jiwa yang benar-benar kuat untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru dan pendidik tidaklah sedangkal mengajar lalu pulang.

Kesiapan Mental

Seorang guru mengajar di depan kelas, berdiri di hadapan para siswa memerlukan kesiapan mental dan keberanian. Coba bayangkan, semua mata tertuju padamu. Tidak semua orang sanggup berdiri di depan banyak orang. Tidak hanya berdiri, tetapi juga menjadi pusat perhatian dan menyampaikan materi. Bagi yang tidak siap, hal tersebut bisa mengakibatkan keringat dingin bercucuran, lutut gemetaran, dan suara tiba -tiba raib di culik gugup.

Bukan hanya itu, ada beragam karakter peserta didik yang harus dihadapi. Mulai dari anak-anak kecil polos dan masih sering ngompol atau BAB di celana, menangis sampai remaja labil yang sedang mencari jati diri. Ada yang duduk tenang, duduk bengong pun yang berkeliaran kesana kemari mencari perhatian serta mengganggu temannya.

Seorang guru harus bisa menghadapi itu semua dengan tenang dan menguasai emosi saat tingkah polah mereka terkadang membuat darah di perut naik ke kepala.

Kelengkapan Administratif

Berada di depan kelas tidak hanya bermodal penampilan menarik dan kepercayaan diri, tetapi seorang guru juga harus siap dengan materi yang disampaikan. Pemberian materi di kelas tidak hanya sekedar membahas LKS atau buku paket. Sebelum mengajar, guru harus sangat paham materi mana yang harus disampaikan dan indikator mana yang harus dicapai murid.

Untuk itu sebelum mengajar, jauh sebelum masuk ke dalam kelas seorang guru harus siap membuat silabus sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Dalam silabus, tertera  standar kompetensi  dan kompetensi dasar apa saja yang harus diajarkan lalu indikator apa saja yang harus dikuasai murid.

Setelah itu, guru harus menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu agar pencapaian materi sesuai dengan indikator. Barulah kemudian menyiapkan media ajar dan kegiatan menarik agar kelas menjadi tidak membosankan sehingga murid dapat belajar dengan riang dan mengerti materi yang disampaikan dengan mudah.

Saat tiba saatnya memberi penilaian, seorang guru harus mampu menilai siswa secara objektif. Mulai dengan instrument penilaian berupa soal-soal yang bobotnya harus seimbang antara soal yang mudah dan susah serta rentangan nilai berupa angka yang harus ditulis dalam daftar nilai. Belum lagi, jika ada murid yang belum mencapai standar nilai dan harus melakukan remidial. Sang guru harus mampu bertangggung jawab atas asal muasal angka-angka yang ditulis di daftar nilai maupun raport.

Kemudian, urusan administratif kedinasan jaman now yang membuat heboh, seperti sertifikasi, UKG (Ujian kompetensi guru), SIM pembelajar yang di dengungkan sebagai penilaian kinerja guru. Walaupun sedikit merumitkan, itu semata – mata untuk menjaga mutu pengajar. See, bukan hanya murid yang dinilai, guru juga.

Pengajar, Pendidik, Dokter, Psikiater, Aktor, Pelawak, dst, dll

Well,    pernah membayangkan menjalani beberapa profesi secara bersamaan? Menjadi dokter, pelawak, di saat yang sama menjadi hakim, event organizer atau psikiater? Jadilah guru.

Seorang guru tidak hanya bisa membayangkan menjadi itu semua namun, setiap hari itulah yang dilakukan. Tidak hanya sekedar bla bla bla di depan kelas, menyampaikan materi, memberi nilai, lalu that’s it. Namun, guru memastikan anak didiknya tidak menjadi generasi micin jaman now, mendiagnosa karakter murid, meramu metode pengajaran, membuat kelas semenyenangkan mungkin.

Setiap orang bisa menjadi guru. Hanya sekedar guru, bukan pendidik. Kelas diibaratkan bagai sebuah taman. Ada berbagai macam tanaman yang harus dirawat dan di beri cinta agar tumbuh dengan sehat, subur dan indah.

Hanya sekedar guru, tidak akan mampu menghasilkan taman yang cantik dan menawan. Perlu hati yang penuh untuk membuat semua itu nyata. Mendidik dengan cinta. Tidak hanya sekedar datang, lalu pulang atau bahkan meninggalkan kelas dengan hanya memberikan tugas untuk dikumpulkan.

Murid-murid mungkin merasa senang jika guru tidak hadir. Hanya jika guru tersebut tidak mampu mengajar sambil mengambil hati dan membuat mereka merasa nyaman juga mengerti. Mana yang lebih menyenangkan, mereka senang saat kita sebagai gurunya tidak mengajar atau mereka rindu saat kita tidak ada?

Bagi para guru maupun calon guru, tentunya kalian memiliki guru idola saat sekolah kan? Bisa jadi karena beliau disiplin tapi lucu, membuat kita mengerti pelajaran dengan lebih mudah, ramah dan sebagainya. Jadilah guru seperti guru idola kita saat bersekolah dulu. Jadilah guru yang dirindukan.

Masih menganggap menjadi seorang guru itu gampang? Selamat Hari Guru! (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY