Adegan dalam film Pengabdi Setan. /Sumber foto: Google

 

SABTU kemarin, aku dan kembaranku mencoba menonton “Pengabdi Setan” yang katanya bagus sekali. Singkatnya cerita filmnya memang bagus sekali, segala moment menaikkan adrenaline sendiri. Walaupun ceritanya sedikit mengarah ke film horror barat dengan sedikit humor dan masalah yang masih teka-teki.

Adegan yang menceritakan anak terakhir dalam keluarga, bahkan mengingatkan saya pada “Exorcist” yang naik layar 2005. Nama filmnya “Dominion: Prequel to the Exorcist”, yang ternyata juga remake.

Perbedaan yang cukup mengagetkan, ketika saya menyewa film aslinya buatan 1980-an. Orang yang dirasuki adalah pasien di sebuah klinik yang dahulu telantar kemudian dirasuki.

Sedangkan dalam film remake-nya orang yang dirasuki adalah dokter wanita. Ketika fim pertama, untuk mengalahkan setan yang merasuk, pastur yang awalnya sudah lepas jubah dan ia memakainya kembali. Berbeda dengan remake-nya pastur ini hanya memakai kain salib sileher, Alkitab dan Rosario saja.

Film remake bisa menimbulkan rasa nostalgia, bahkan dengan di-remake, film yang sebelumnya hanya dikenang akan kembali didengar dan ditonton. Bahkan untuk ukuran  sebuah cerita, film adalah puncak segala menikmati cerita. Demikian bagaimana horor, komedi, mungkin “silat” menjadi menu nikmat untuk ditonton di Indonesia.

Terlepas buruknya situasi politik Orde Baru, kita bisa menikmati film Indonesia dan peralatan dan visualnya menjadi kenangan. Secara sederhana, cerita “Pengabdi Setan” sudah baik dalam ide film, kemudian artis, kru bahkan peralatan membuat sempurna.

Hantu Perempuan 

Ada berapa hantu perempuan di Indonesia? Cukup banyak, mulai dari perempuan mati dibunuh karena hamil sampai perempuan tua yang menjaga rumah tua, kepunyaan orang Belanda yang bernafsu membunuh perempuan cantik bernama Farida untuk kehidupan sang nyonya menjadi abadi.

Dalam film, “Mak Lampir” muncul 3 kali, dan sebanyak itu pula Sembara melawannya dan memenangkan Farida. Tidak ada istilah Cambuk Amarasuli atau pesan dari Sultan Mataram untuk mengenyahkan Mak Lampir. Hanya ilmu sakti serta Cambuk Kilat yang menemani Sembara.

Jika ditanya apa yang paling dikenal dalam film horror jadul, maka banyak sekali. Di humor, film horror Suzanna hampir menyisipkan humor dalam setiap filmnya. Maka akan lebih enak jika memasukkan 3 hal; Setan, Pemerintah, terakhir adalah Agama. Ketiganya selalu menopang.

Lihat saja film Suzanna misalnya dalam Wanita Harimau. Kita bisa melihat banyak simbol pemerintahan, ada polisi, hansip, pemerintah setempat, dan tokoh agama. Hampir dalam setiap film ada simbol yang sama. Dalam film Suzanna sendiri, ada penggambaran hansip pada suatu daerah yang kecil, di mana fitnah bisa timbul secara cepat dan hansip penggambaran hukum walaupun dalam segi yang paling sederhana.

Berbeda dengan film “Malam Satu Suro” atau “Sundel Bolong” yang lebih memberikan tempat bagi polisi. Mungkin karena terjadi di kota maka peran hansip tidak dibutuhkan, karena pengamanan diwakili dengan peranan polisi.

Pertanyaan yang masih belum terjawab adalah kenapa hantu yang dijual dalam film menyentuh gender. Perempuan paling dominan, lalu hubungannya dalam banyak hantu perempuan hidup dalam masyarakat, baik namanya Kuntilanak, Sundelbolong, Suster Ngesot, Palasik, Kolongwewe, Mak Lampir, semuanya adalah perempuan.

Lalu jika kamu memikirkan nama hantu yang pria; sedikit. Walaupun paling banyak akan menyebut Pastur Jeruk Purut. Kebanyakan yang menjadi hantu adalah korban bukan karena dari kecil mempelajari ilmu hitam.

Misalkan film Suzanna berjudul “Ratu Ilmu Hitam”, ceritanya adalah seorang perempuan yang dikhianati kekasihnya. Ia difitnah melakukan santet, ibunya mati jadi korban main hakim sendiri. Dia dikubur, lalu diselamatkan oleh guru santet. Perempuan mendendam, ia mempelajari santet dan mulai meneror warga.

Itu terjadi di film “Santet 1” dan “Santet 2” yang dibintangi Suzanna. Sama-sama ada kasus fitnah dan aksi main hakim sendiri, lalu mempelajari ilmu hitam lalu meneror. Lalu semua diatasi orang yang taat agama, lalu melawan atas nama agama. Secara umum, film horor di Indonesia lahir dari kekosongan peranan negara dan hukum.

Hal ini ditambah dengan menaruh perempuan sebagai tokoh utama, menjadi penguat cerita misalnya korban yang disakiti. Karena di Indonesia atau mungkin di Asia sendiri, hantu perempuan lebih banyak dan diceritakan memancing rasa ketakutan. Artinya film “Beranak dalam Kubur” atau “Sundelbolong”, kita bisa mengkaitkan bukan dengan angka pemerkosaan saat itu, namun dengan angka kematian ibu dan anak.

Namun ada kesan cerita itu diambil dalam kehidupan masyarakat. Maka ketika 1970-an Suzanna memainkan film horror yang pertama berjudul “Beranak dalam Kubur”, entah kenapa dalam wacana kesehatan, itu adalah kampanye pendampingan suami di dalam waktu melahirkan. Dekat sekali dengan permasalahan yang ada, istri melahirkan namun suami berada jauh untuk berkerja.

Topik perempuan inilah yang lebih menjual, selain bagian seksualitas. Karena selain menyentuh dengan banyaknya hantu perempuan dalam masyarakat, tanpa didasari, juga memberikan alarm bahwa isu perempuan saat masih tinggi terutama kesehatannya. Maka jika film horor harus mengedepankan bagian sensualitas, atau keseraman, kita bisa juga mengedepankan  sisi lain dalam permasalahan.

Sama saja dengan film-film barat yang menyangkut horor mulai dari “Rumah Angker”, “Ritual Pemanggilan Arwah”, atau “Kerasukan”. Bahkan ada pula yang digabung misal film “Freddy”. “Freddy” adalah film yang mengabungkan pembunuhan berantai dan ritual. Sedangkan “Possessed” menambilkan ritual ilmu hitam dan ritual pengusiran roh.

Latar belakang film ini cukup umum di Amerika yang memang memiliki kejadian tentang hal-hal seperti itu. Dimana di luar negeri, Gereja Katolik pernah menjalankan ritual pengusiran roh, atau adanya orang yang menjadi praktisi indra keenam.

Sedangkan “Freddy” membahas tentang ritual, serta kecemasan dalam mengatasi sesuatu. Memang sepertinya tema seperti itulah yang disukai di Amerika. Ceritanya memiliki jalan berliku dan memiliki kisah lebih pada bagian-bagian tertentu yang mesti diselesaikan dahulu sebelum fokus ke pokok cerita.

Menyinggung “Pengabdi Setan”, itu  adalah film yang berkisah pada perempuan, Mertua dan menantu yang memiliki masalah.keturunan (anak). Dalam sisi perempuan, itu adalah masalah yang runyam, kerap disalahkan. Ibu belum memiliki anak, ia amat menginginkannya maka ia bersekutu dengan ritual yang gelap untuk mendapatkan. Maka hadirlah akibatnya, lalu siapa yang melarang kisah ini hidup. Selama permasalah dinyata belum usai ?

Masalah Klenik, dan Hukum

Sulit membedakan cerita klenik, dengan cerita yang sesungguhnya terjadi. Semuanya selalu beradu argumen untuk dipercayai masyarakat. Polisi pasti menemui kasus sulit, pembunuhan terjadi. Namun pelaku menyatakan bahwa itu adalah bagian dari ritual mereka. Bahkan dalam masyarakat, hilangnya anak kerap diyakini hilangnya bukan karena kabur atau diculik orang, namun karena ada mahluk yang suka menculik anak.

Misalnya dalam Sinetron “Misteri Gunung Merapi”. Dalam sebuah episode, Mak Lampir ingin meningkatkan ilmunya. Dalam usaha meningkatkan ilmunya harus menemukan anak istimewa yang bersaudara 5 (semuanya laki-laki) dan lahir dalam malam Jumat Kliwon.

Jika kita memasukkan logika yang dikatakan masa kini (positif), pandangan ini mengada-ada. Namun masih ada yang percaya. Artinya jika saya mengatakan hantu kita adalah isu negatif karena berkenaan dengan nilai dollar yang kian melambung, mungkin akan disetujui oleh banyak orang. Tetapi apapun itu, banyak cara membuat mereka ditemukan dalam satu waktu yang sama. Salah satunya dalam film, dimana kita bisa menikmatinya.

Pada film horor mana saja, polisi tidak bisa mengungkapkan kasus yang berkenaan dengan hantu. Tokoh utama mesti mengandalkan orang yang memiliki kemampuan dalam menjelaskan masalah supranatural. Jika tidak, adalah tokoh agama yang memiliki metodenya yang dianggap paling rasional.

Itu terjadi pada film Asia yang bergenre horor baik Hongkong, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Punya metode, jika hantu bisa dikalahkan dengan doa yang dibacakan oleh tokoh agama yang juga memiliki pemahaman soal hantu. Bahkan di Indonesia, hansip dan polisi tidak memiliki kekuataan yang cukup dan muncul di pertarungan akhir.

Meski sedikit berbeda, film “Malam Satu Suro” atau “Telaga Angker” di mana polisi memiliki moment cukup banyak. Tetapi porsi lebih banyak, tidak bisa menemukan siapa yang menciptkan teror. Maka tokoh agama yang bertugas mengusirnya akan mengundang polisi untuk membuktikan masalah ini.

Inilah yang saya katakana diawal, dalam film horor ketakutan akan fitnah dan aksi sepihak warga akan menakutkan dan korban akan menuntut balas akan penderitaan yang ada lewat apa? Memakai kekuataan supranatural. Ia mati kemudian menjadi hantu kemudian menghantui.

Atau pilihannya mempelajari ilmu hitam dengan syarat yang kurang masuk akal. Kemudian ketika sudah menguasainya akan membalas dendam. Inilah menurut saya film Horor Indonesia mendapatkan kelasnya sendiri.

Indonesia menempatkan horor pada tempat yang lebih luas ketimbang barat. Meski kebanyakan film barat mengambil kisah nyata, film horor Indonesia memancing adrenaline. Kamu bisa menemukan bahwa hantu dan roh bukan pelaku kejahatan, namun orang yang menggunakan ilmu hitam.

Maksimal kamu menemukan di Amerika adalah Triller, tetapi di Indonesia masih saja pembuat film mencoba menggarap film seperti ini.  Film Suzanna pun yang tentang seperti ini, pelaku yang mengunakan ilmu hitam tidak pernah ditangkap, karena setan sudah mati dikalahkan tokoh agama.

Maka saya pun menganggap, semoga saja film “Pengabdi Setan” akan dilanjutkan. Namun keluarga itu bukan mengalahkan setan, mereka terbukti tidak punya modal apa-apa. Mungkin film akan menjadi menaklukkan pembunuh yang menginginkan darah atau nyawa anak-anak yang bisa selamat. Mereka harus membuktikan bahwa permainan belum berakhir dan kesempatan hidup normal belum bisa diukur logika normal.

Agama Ternyata Bukan Lagi Formula Baku

Film “Tusuk Jelangkung” jauh dari usur agama, kental dengan supranatural. Mungkin ini awal dari film-film horor yang makin jarang menyetuh agama. Maksimal tokoh utama ada yang mati, kemudian rohnya datang. Sepengamatan saya dalam film horor, terakhir adalah “Lentera Merah” yang memakai unsur agama. Namun lebih universal, tidak ada ustad atau sulinggih atau pastur menjadi penyelamat. Lentera Merah menyunguhkan fennomena baru.

Untuk mengusir hantu dibutuhkan cara penguburan yang layak dan doa. Bahkan mereka berdoa dengan kepercayaan masing-masing. Maksimal film horor adalah mempertemukan hantu dengan orang yang mampu menanganinya. Maka ketika “Ratu Ilmu Hitam” saya tonton, saya takjub. Bahwa orang taat mendapatkan gangguan macam begitu. Bahkan akhir film, ilmu hitam vs ilmu hitam bagaimana saya tidak menduga jalannya akan seperti ini.

Hampir semua film horor Indonesia di zaman Orde Baru, hantu akan diselesaikan oleh ustad atau kiai. Selebihnya tokoh agama lain, seperti “Calon Arang” dan “Leak” yang kental dengan nilai agama Hindu.

Sedangkan “Ranjang Setan”, hantu diusir oleh pastur yang membuat salib dengan potongan kayu, peranan tokoh agama kental. Menjadi solusi ketika logika tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada. Masalah hantu dan metafisika lainnya tidak bisa diselesaikan dengan polisi atau ilmu yang umum di masyarakat.

Polisi bahkan menjadi penonton dalam setiap film, anehnya film horor mengalami perubahan besar. Tidak lagi tokoh agama menjadi solusi, peran polisi ada banyak namun juga tidak ada disangkutkan, dan lebih menunjukkan bagian-bagian seksualitas.

Agama mulai terpinggirkan, digantikan metode supranatural, mulai dari mencari ayam cemani, membeli kemenyan, melakukan ritual pemanggilan, dan masih banyak lagi. Meski pembalasan dendam adalah menu utama dari hantu kepada pembunuhnya, kita melihat fenomena yang lain.

Secara jujur saya menikmati jalan cerita film horor jadul, karena sebagai cerita mampu menghidupi dua hal. Pertama cara pikir memakai logika umum, ada kejahatan pastinya ada pelaku yang berbuat dan adapula korban yang menerima dampak.

Hanya saja, dalam film horor tidak seperti itu. Polisi adalah penonton karena tidak bisa menyelesaikan kasus tersebut, peranan menghukum digantikan hantu dan ditutup dengan peran tokoh agama. Sepertinya jalan itulah yang paling ampuh menyelesaikan masalah tentang hantu.

Agama adalah ajaran baik, lalu apa jadinya agama dalam film. Kadang menjadi tajam dan memicu masalah yang kompleks, karena bisa menyerang hal yang paling privasi dari manusia. Saya malah merasa kaget jika ada moment orang membaca doa karena dihantui malah gangguan makin terasa berat.

Sang anak tertua dalam film “Pengabdi Setan” mencoba sholat setelah sekian lama tidak melakukannya. Namun gangguan tetap saja terjadi, mulai bayangan ibu di kaca maupun ditarik sesuatu. Saya sudah menduga jika remake film ini akan mengurangi bagian simbol agama.  Masalahnya saya menduga jika mesti ada hal yang dilakukan untuk menghindari korban lebih banyak.

Jika keluarga tidak mengizinkan maka akan sulit anak itu dibawa. Keluarga mencoba menahan Ijan untuk tidak dibawa pergi. Walaupun mereka harus merelakan Ijan untuk pergi, karena di luar kemampuan mereka. Dalam wawancara di Flik TV, Joko Anwar sudah memberi sinyal akan membuat perbedaan cukup kental dalam “Pengabdi Setan”.

Untuk ukuran film horor malah tidak ada pesan khusus. Hanya pesan ibu yang dibicarakan anak-anak untuk saling menjaga sesama anak ibu. Lagi pula dalam sejarah film horor, film mana yang hantunya meyakiti orang-orang yang dikasihinya. Film horor barat berjudul Mama, menampilkan rasa cermburu hantu ibu ketika anak-anaknya disayangi adik iparnya.

Mama mencoba merebut anaknya, namun adik iparnya serta istrinya mencoba sekeras mungkin mempertahankan kedua anak itu. Berjalan ke film “Telaga Angker”, hantu mama yang diperankan Suzanna memesankan anaknya untuk menjadi orang yang berguna. Akankah film horor akan memiliki perkembangan dari sisi lain. Kita bisa berharap. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY