Taaruf Al Hikmah Undiksha 2015. /Foto: Mursal Buyung

 

DUNIA ini adalah sebuah panggung atau pa­sar yang disinggahi para musafir dalam perjalanan mereka ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai per­bekalan. Dengan bantuan perangkat indriawinya, manusia harus memperoleh pengeta­huan tentang ciptaan Allah dan, melalui per­renungan terhadap semua ciptaan-Nya itu, ia akan mengenal Allah.

Pandangan manusia mengenai Tuhannya akan menentukan nas­sibnya di masa depan. Untuk memperoleh pengetahuan inilah ruh manusia diturunkan ke dunia tanah dan air. Selama indranya mas­sih berfungsi, ia akan menetap di alam ini. Jika semuanya telah sirna dan yang tertingg­al hanya sifat-sifat esensinya, berarti ia telah pergi ke “alam lain”.

Lebih lanjut al-Ghazali menjelaskan dalam kitabnya, Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah, selama hidup di dunia ini, manusia har­rus menjalankan dua hal penting, yaitu mel­indungi dan memelihara jiwanya, serta merawat dan mengembangkan jasadnya. Jiwa akan terpelihara dengan pengetahuan dan cinta kepada Allah. Sebaliknya, jiwa akan hancur jika seseorang terserap dalam kecin­taan kepada sesuatu selain Allah.

Sementara itu, jasad hanyalah hewan tunggangan bagi jiwa, yang kelak akan musnah. Setelah keh­ancuran jasad, jiwa akan abadi. Kendati demikian, jiwa harus merawat jasad layakn­nya seorang pedagang yang selalu merawat unta tunggangannya. Tetapi jika ia mengha­biskan waktunya untuk memberi makan dan menghiasi untanya, tentu rombongan kafilah akan meninggalkannya dan ia akan mati send­dirian di padang pasir.

Apa yang dapat kita petik dari kutipan di atas? Pikirkan sendiri. Dan hayati makna yang terkandung di dalamnya.

Al-Hikmah. Sebuah nama yang kental dengan aura Islamnya. Banyak Al-Hikmah di sana. Nama masjid, yayasan, pondok pesantren, majelis ta’lim dll. Tapi hanya ada satu Al-Hikmah di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. PMM Al-Hikmah. Begitu nama yang diberikan oleh sesepuh-sesepuh dulu. Keren. Pengajian Mahasiswa Muslim Al-Hikmah kepanjangannya.

Kita sadar dan menyadari bahwa, sesuatu yang banyak harus ada yang mengikat dan harus ada alat untuk mengikat agar sesuatu yang banyak itu tidak bercerai-berai atau berserakan tak menentu. Limbung diterpa angin, terombang-ambing diterpa ombak, linglung tak punya tujuan. Begitu bahasa sastranya hidup tanpa sebuah ikatan. Begitu pun aku dan kamu. Harus ada ikatan yang halal, bukan?

Sebuah pengikat tentu bukan hanya tali kecil atau akar tumbuhan rambat semata. Sebuah rotan. Akar pun jadi selagi kuat. Sebuah ikatan adalah persatuan. Dan persatuan menandakan kekompakan, kerjasama, dan tentu keharmonisan. Managemen. Mungkin, bahasa kerenya. Sebuah ikatan harus punya tujuan. Apa tujuannya? Tentu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalau belum bisa, ya, keadilan sosial bagi seluruh mahasiswa muslim Undiksha.

Al-Hikmah adalah sebuah persatuan. Tentu menyatukan apa yang sudah terpisah, bukan memisahkan apa yang sudah menyatu. Dalam tubuh Al-Hikmah, bermacam-macam ormawa (organisasi mahasiswa) isinya. Ada HMI, PMII, KAMMI, IMM, dll. Ini sebabnya saya mengatakan bahwa Al-Hikmah adalah sebuah persatuan. Memang, menyatukan semua unsur itu sangat sulit. Air tidak akan bisa bersatu dengan api. Pun sebaliknya. Air bisa membunuh api. Namun, bukan itu yang saya maksud.

Maksud saya adalah, ya, Al-Hikmah mempunyai banyak unsur di dalamnya, tapi tidak saling membunuh, mematahkan, menjatuhkan atau merasa menjadi yang paling benar sendiri. Tidak ada yang paling agamis, tidak ada yang paling sosialis, tidak ada yang paling Pancasilais, dan tidak ada yang paling benar. Karena kita masih berkata, ya Allah, tunjukilah aku jalan yang benar.

Kawan-kawan muslim yang dirahmati oleh Allah.

Mari kita jaga baik-baik pemersatu ini. Agar menjadi sebuah perkumpulan yang tidak hanya eksis di kalangan muslim saja. Tapi eksis di kalangan non-muslim juga. Saya tidak mau, pemersatu ini menjadi buih lautan yang kotor, gampang pecah, terombang-ambing terbawa arus. Saya juga tidak mau pemersatu ini menjadi alat politik praktis. Al-Hikmah harus menjadi layaknya sebuah tali, yang mengikat tapi tak terlalu erat. Yang menyatukan tanpa harus adanya paksaan. Yang memperjuangkan hak tanpa harus saling menyalahkan. Al-Hikmah itu menyatukan bukan memberi pukulan.

Kawan-kawan muslim yang dirahmati oleh Allah.

Sebelum mengakhiri tulisan yang sok bijak ini, izinkan saya mengutip apa yang sudah dituliskan oleh Dee Lestari,

“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkan ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdektan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.”

Kita semua adalah huruf, dan Al-Hikmah adalah spasinya, agar kita bisa dimengerti oleh satu sama lain. Al-Hikmah adalah jarak, agar kita bisa bergerak di dalamnya. Al-Hikmah adalah ruang, agar kita bisa saling menyayang. Al-Hikmah adalah tali, agar kita bisa disatukan.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung. Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring (Dee Lestari).

NB: Saya ingin, Al-Hikmah bisa memahasiswakan santri yang belum mahasiswa dan mensantrikan mahasiswa yang belum santri. Artinya, memberika pengetahuan umum tentang ideologi, politik, ekonomi, biologi, fisika, filsafat, dll kepada santri, dan memberikan pengetahuan umum tentang fiqih, aqidah, tauhid, usul fiqih, Nahwu, Sharaf, dan lain-lain kepada mahasiswa. (T)

SHARE
Previous articleTaru Bukit
Next articleTidak Ada Alam, Tidak Ada Puisi Hari Ini
Jaswanto
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi UNDIKSHA, Direktur Utama Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Singaraja, penulis novel Munajat Hati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY