Ilustrasi diolah dari sejumlah sumber di Google

 

NAMAKU Nando. Malam kembali hadir dengan suguhan bintang di langit menghiasi perjalanan hariku, kali ini aku menikmati masa liburku  setelah sekian penat dan lelahku seusai kegiatan KKN dan PPL Real di kampus.

Senggang sedang menghampiriku meskipun tugas dari kampus masih ada beberapa yang belum kuselesaikan karena kemalasan yang kadang-kadang hadir membelenggu.  Aku tetap pada sebuah rutinitas membaca buku lalu menulis opini-opiniku terhadap pemerintahan negeri ini.

Hari ini memasuki hari kedua dalam liburanku, aku berada di kota kelahiranku. Rokok dan kopi habis biasanya gejala yang akan menimpa adalah gundah gulana lalu seakan-akan tak punya gairah hidup, maklum aku seorang mahasiswa dengan ketergantungan rokok dan ngopi biasanya kalau udah seharian tidak bertemu dua hal itu aku menjadi manusia yang gusar.

Kebetulan si Pablo tetanggaku juga merasakan hal yang sama. Ia juga tak dicumbui kopi dan rokok dalam kisah malamnya. Kemudian Pablo mengajakku mengamen saat dia mengunjungi rumahku untuk bertamu.

“Nan, Ngamen yuk aku nggak ada uang tak sempat nikmati kopi nih, rokokku juga habis!” seruannya padaku untuk mengajak.

Aku hanya membalas ajakannya dengan singkat. “hanyuk”. Sembari aku menutup buku Islam Kiri yang kubaca semenjak adzan magrib berlalu.

Ngamen mungkin terlalu dilabeli pemalas oleh sebagian orang dengan dasar aku yang masih muda dan seharusnya produktif bekerja tapi lebih memilih ngamen yang tak punya masa depan bahkan diragukan membahagiakan seorang perempuan.

“Jangan pacaran sama pengamen mau jadi apa dengan manusia kere!” Aku masih ingat kalimat orang tua di dalam bus yang menasehatiku saat perjalananku menuju Bali. Kebetukan saat itu ada pengamen hingga menjadi dasar munculnya statemen demikian, bagiku itu statemen berlebihan. Toh kebahagiaan tak selalu diukur dengan hal-hal materi.

Tapi mau gimana lagi aku memilih cuek atas statemen itu. Aku lebih menyukai kemandirian dan tidak  ketergantungan pada uang pemberian orang tua, apalagi aku bukan berasal dari keluarga berada. Umurku sudah 22 tahun tak mungkin membebani orang tua secara keseluruhan demi kebutuhan hidupku. Aku juga ngamen hanya sebatas waktu senggangku.

Sebelum berangkat ngamen dengan si Pablo, kami singgah sebentar di warung Bu Jeje untuk ngutang kopi dan rokok eceran. Syukur Bu Jeje baik sehingga kami sempat menyeduh kopi dan mengisap rokok yang tak kami jumpai seharian.

“Kita ngamen ke mana nih?”  ucapku pada Pablo di hadapan rokok dan kopi

“Kita ngamen di Desa Wonosari saja,” seru Pablo. Lalu aku mengiyakannya. Kuberanjak dari warung Bu Jeje dan menghidupkan motor tua ku. “Gassss” kata pablo setelah menaiki motorku.

Sesampainya di Desa Wonosari motor tua kutitipkan di Polsek Wonosari, tapi sebelumnya aku sempat difoto terlebih dahulu oleh Pak Polisi dengan alasan keamanan desa karena akhir-akhir ini marak pencurian kami berdua menaati perintahnya.

Sehabis di Polsek, kami berjalan menyusuri malam berharap ngamen malam ini membawa rezeki yang cukup, langkah kami tak ragu-ragu berharap nantinya mendapatkan banyak uang recehan.

Rumah pertama yang kami datangi, nyanyian kami diapresiasi dengan uang receh 500 rupiah. “Alhamdulilah…” kataku dalam hati.

Singkat cerita hampir 3 jam kami ngamen ke rumah-rumah warga Desa Wonosari. Banyak di antara  mereka yang ngasih kami uang nominal 500-2000 rupiah bahkan banyak juga yang melemparkan kata maaf sehabis kami bernyanyi. Kami tidak mempermasalahkan memang hak beliau mau ngasih atau tidak secara suka dan rela.

Tiba-tiba langkah kakiku merasakan nyeri karena berjalan terlalu jauh dari polsek wonosari tempat pertama yang kami pilih untuk menitipkan motor, uang yang sudah terkumpul genap 30 ribu, cukuplah sebungkus rokok Mild sesuai selera.

Senyum Elen Titania

Terkumpul uang 30 ribu kami berdua belum merasakan cukup, kami terus berjalan menyusuri rumah-rumah warga, tak terasa kami berjalan hampir 3 Km. Terakhir kami bernyanyi di depan ruko tepatnya ruko counter HP, lagu yang kami nyanyikan pakai bahasa madura kira-kira kalau diterjemahkan begini liriknya:

aku ini orang miskin”

“tapi aku orangnya ganteng”

“bapakku yang bilang begitu”

“kuceritakan kepadamu Ijazah aku gak punya”

“Pengalaman kerja aku juga gak punya”

“Aku ngamen kenal perempuan kamu

Orang nya cantik hidunnya pesek

Kira-kira begitu sepenggal lirik yang kami nyanyikan, dan si penjaga counter seorang perempuan yang masih belia sesuai dengan lagu itu perempuan cantik dan hidungnya yang pesek tetapi tak berkenan untuk memberikan kami receh malah dia melemparkan senyumnya kepadaku sambil berkata “Maaf, Mas”.

Aku bergegas meninggalkan ruko itu dan masuk ke dalam gang, namun setelah beranjak dan di pertengahan gang tersebut aku seperti merasa tidak asing dengan perempuan penjaga counter itu, lalu aku menghentikan langkahku dan berkata pada Pablo.

“Pab, sepertinya aku pernah kenal dengan perempuan di counter itu.”

Lalu Pablo merespon kalimatku. “Ahh serius kamu Nan, kalau kenal ayo balik kau temuilah dia cantik gitu.”

Lalu aku kembali ke ruko itu. Dia masih duduk seperti semula pertama aku melihatnya tak bergeser sejengkalpun duduk di atas kursi sambil memainkan hapenya.

Dia begitu anggun dengan sedikit warna semir kuning kemerahan di rambutnya. Kulitnya putih bening bersih, bibirnya merah tak bergincu, busananya menambah manis rupanya, tingginya sekitar kurang lebih 160 Cm.

Kusapa, “Mbak, maaf numpang istirahat ya?”

Ia hanya menganggukakkan kepala pertanda mempersilahkan. Lalu aku basa-basi saja agar aku bisa ngobrol lama dengannya.

“Mbak kalau jalan lurus ke utara masih banyak rumah?” tanyaku kembali. Sebenarnya aku sudah tahu kalau di sana masih berderet rumah-rumah warga.

“Iya Mas, di sana masih banyak rumah.” katanya.

Aku semakin senang dengan respon dan intonasi suaranya yang lembut dan membuatku semakin penasaran atas dirinya lalu aku semakin mendekatinya. Posisiku semakin dekat hanya terhalang kaca tempat kartu perdana handphone dan ia masih tetap duduk.

Awalnya pablo duduk di muka ruko sambil memainkan gitarnya tak memperhatikan percakapanku dengan si perempuan penjaga counter.

“Mbak temenan sama Alphabet ya di Facebook?”

Alphabet nama akun facebookku.

Kemudian dengan ekspresi mengingat lalu ia mengatakan, “Iya aku temenan sama Alphabet”.

Lalu sontak aku menjawab. “Aku yang punya akun Alphabet itu. Nama kamu siapa ya aku lupa?”

“Namaku Elen Titania,”  ucapnya menyampaikan nama sambil tersenyum di hadapanku mirip-mirip manis madu yang tiap pagi kuseduh dengan teh hangat.

“Aku nggak nyangka bakalan ketemu di sini Len, kita pernah inbokkan di facebok meskipun kamu sedikit cuek padaku karena kita belum saling kenal, sekarang ini Alphabet di hadapanmu, Len, kau terus tersenyum. Tersenyumlah terus seperti itu elen aku menyukainya” cerewetku.

Matanya berbinar dan kulitnya yang begitu bersih lalu Elen Titania membalas ungkapanku “Iya Kak, aku seneng ketemu kakak saat ini, kakak bukannya kuliah ? Kok di sini sekarang ngamen!”

“Iya Kakak lagi ngamen ini biar ada uang buat kopi dan rokok sekaligus ngeprint proposal skripsi Kakak, hehehehe doain Kakak cepet wisuda ya biar Elen nggak lihat Kakak ngamen lagi.”

Lalu Elen mengaminkan apa yang aku harapkan dari sebuah skripsi yakni wisuda “Aminnn Kak”

“Elen, Kakak boleh minta nomer WhatsApp-mu sapa tau kakak perlu bantuan saat ngamen ke daerah sini lagi,”  pintaku. Dan Elen menyobek secarik kertas lalu menuliskan nomer WA nya untuk ku simpan.

“Ini Kak nomer WA ku 083*********.”

Kubalas dengan ucapan rasa terimakasih sambil membalas senyummnya .“Terima Kasih len, anggap saja ada orang konyol yang nyamperin kamu lalu meminta nomer WA mu, sebagai balasannya kakak buatin puisi untukkmu sekarang.”

Lalu Elen kembali mengambil selembar kertas dengan pena warna hitam, selang lima menit puisi itu jadi dan langsung kuserahkan ke Elen. “Nih Len, puisinya, anggap aja pengamen ngasih puisi buat mu ya hhehe,” ucapku lalu kami tertawa bersama.

Begini bunyi puisinya :

Puisi 1

AKU INGIN MENJADI

Aku tak mau merayu

Tak mau memaksamu

Aku hanya ingin menjadi

Tentang apa yang kamu mau !

Tentang apa yang kamu butuh !

Tentang apa yang kamu suka !

Karena senyummu adalah bahagiaku.

 

Puisi 2

MALAMPUN SUNYI

Malam ini bahagia menghampiri

Soal senyum, binar mata, dan tuturmu

Aku coba bertanya pada malam

Adakah yang lebih bahagia,

Dari bahagia yang kurasa malam ini?

Malam pun diam lalu sunyi

Seakan-akan dia tak ingin menggangu

Disela-sela bahagiaku dihadapanmu.

 

Wonosari, November 2017

Alphabet >> Elen Titania                                         

 

“Elen andai kau tahu kamu perempuan dalam anganku, dan selalu menjadi tema puisiku meskipun aku tak pernah bertemu denganmu secara nyata tetapi kamu mampu merubah gundah menjadi jumawa, sedih menjadi serasa bahagia.

Aku mendambakanmu  sejak aku semester IV dibangku kuliah tepatnya sejak tahun 2015 lalu, sudah dua tahun aku menunggu-nunggu kisah malam ini, namun kebetulan yang tak disengaja melangkahkan kakiku berdiri di hadapanmu.

Sungguh aku menyukai kisahku di hadapanmu melihat matamu bulat berbinar, rambutmu yang indah, kulitmu yang cerah bersih, dan terutama senyummu yang bahkan susah menghilang di lebih memilih bersemanyam di benakku!

Sepanjang jalan ngamen bersama Pablo aku terus bicara dalam hati. Dalam hati… (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY