Pentas Kontur di Undiksha, 2014. /Foto: Kardian Narayana

 

KONTUR alias Komunitas Puntung Rokok barangkali bukanlah komunitas teater terbaik di Bali Utara, sebuah wilayah dengan orang-orang hebat dalam bidang teater. Tapi, saya berani jamin, dalam Kontur, adalah orang-orang yang hatinya saling terikat.

Kontur adalah komunitas teater, berdiri di Singaraja, tempatnya mungkin bisa disebut di Kampus Undiksha. Sejarah lengkapnya hanya segelintir orang yang tahu, tapi banyak orang tahu ada Kontur, meski kadang hanya didengar namanya saja tanpa ditonton jika pentas.

Meski didirikan oleh Mas Insan yang notabene anak Basindo (Jurusan Bahasa Indonesia), dan teman-teman lainnya mayoritas dari Seni Rupa yang sama-sama punya minat besar dalam teater, kontur juga berkembang dan berevolusi dengan masuknya tukang masak, pembuat alat praga pembelajaran, penghitung uang, peneliti kodok, penghitung massa jenis, yang boro-boro pernah pentas teater, nonton saja gak mudeng dengan kontennya.

Dasarnya hanya satu: Keinginan kami semua untuk berkumpul, menambah saudara di perantauan. Ketimbang di kos sendiri dan terpacu melakukan yang aneh-aneh, kan mending ikut nongkrong-nongkrong. Entah itu kumpul untuk apa, masa bodoh. Yang penting kumpul.

Setidaknya hal itu menjadi kekuatan Kontur. Seringnya kami bersama, membuat hati terikat. Sehingga menapaki bidang yang kami semu buta, kami pelajari bersama. Merangkak bersama, jatuh bersama, bahagia bersama, sampai berpisah.

Kontur tak pernah bisa diprediksi. Kadang diperkirakan bubar ternyata masih ada. Padahal komunitas seumurannya banyak yang bubar jalan. Ia tak punya model perkaderan yang jelas seperti yang lainnya.

Tak punya AD ART. Bahkan ketua pun tak ada. Yang ditawarkan hanya satu: Ayo kita berkumpul untuk bersaudara. Toh, kalau dipikir-pikir, untuk apa berkumpul jika hanya mengejar ambisi masing-masing sehingga menyingkirkan yang baru berkembang. Bakat berkembang, tapi hati layu.

Komunitas ini juga tak berbondo alias bermodal. Coba saja tanya kasnya. Pasti langsung bersyukur karena isi dompet paling tipis pun masih lebih tipis kas kontur. Dana tipis membuat kontur lebih kreatif.

Misal, kain yang dipakai sekali pentas langsung dibuang oleh komunitas lain, kami “amankan”. Mubadzir kan kalau dibuang. Atau tabung lampu yang lain menggunakan yang profesional, kami pakai kaleng cat bekas. Setidaknya fungsinya sama. Hasilnya juga sama. Cuman uang yang keluar tidak ada.

Kontur memang belum pernah jadi yang terbaik. Piala memang belum pernah dipeluk. Ulasan media pun minim tentang Kontur. Tapi, Kontur yang bisa buat tukang masak menjadi aktor yang paling menghibur saat pentas bersama dengan Teater Keliling. Kontur bisa buat tukang hitung massa jenis menjadi pembaca puisi di panggung.

Persaudaraan yang diberikan Kontur pun tak pernah hilang. Hingga lulus dan pergi dari Singaraja pun, rasa rindu dengan keluarga itu masih ada. Masih nyata. Saya saja sampai sekarang pingin sekali “pulang”.

Tahun depan, tepat 10 tahun Kontur eksis sebagai komunitas independen. Semoga selalu berdiri, jangan seperti Nyonya Meneer, lama tapi akhirnya bangkrut juga. Jangan jadi seperti siapa-siapa. Tetaplah jadi kontur: Komunitas Puntung Rokok, datang tak diundang pulang tak diantar. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY