Julio Saputra

 

PADA namanya melekat unsur Bali asli, tapi ada juga unsur nama kekinian yang diserap dari unsur luar Bali. I Made Juio Saputra. Bisa ditebak ia orang Bali dari zaman agak now. Tapi sebenarnya, jika ditelusuri lagi, nama itu mengesankan sebuah riwayat keturunan.

I Made Julio Saputra jelas orang Bali. Tapi dari silsilah keluarga  ia adalah keturunan Tionghoa. Dari engkongnya ia banyak tahu tentang warga keturunan Tionghoa yang datang dan tinggal di Bali, termasuk di wilayah Baturiti, Tabanan, tempat lahir dan tempat ia tinggal hingga kini.

“Saya agak susah kadang mengakui dengan tegas apakah saya orang Bali atau orang Cina,” katanya suatu hari di sela obrolan dengan teman-temannya di Komunitas Mahima, Singaraja.

Itu mungkin semacam kegalauan identitas. Dan kegalauan itu menjadi modal bagi dia untuk berkreativitas di segala macam aktivitas. Selain sibuk jadi aktivis kampus, ia juga tergabung di sejumlah komunitas seni dan budaya seperti Komunitas Mahima, Teater Kalangan dan Teater Kampus Seribu Jendela.

Sejak dua tahun belakangan ini ia menemukan media untuk mencurahkan segala galau, segala cemas dan segala gundah-gulana yang dialaminya, baik soal identitas, soal keluarga, soal perkualihan, dan soal cinta remeh-temeh lengkap dengan patah hatinya. Media itu adalah tatkala.co, sebuah portal jurnalisme warga yang dikelola Mahima Institute Indonesia.

Ia tak tahu katagori tulisan, namun ia menulis apa saja yang dia inginkan. Dari puisi, cerpen, dan catatan-catatan kecil tentang kegiatan sehari-harinya. Maka tulisannya bisa tiba-tiba bertema gawat tentang akulturasi budaya, tiba-tiba tulisannya jauh melayang tentang sakit hatinya ditinggal perempuan yang dicintainya.

“Saya kalau patah hati ingin mengunyah ban mobil,” katanya suatu hari. Lalu, ia menulis esai tentang keinginannya itu, ya, keinginan mengunyah ban, tepat pada saat ia ditinggal teman yang dicintainya di kampus. Yang menarik, ternyata teman perempuannya itu tak pernah “ditembaknya” tapi ia sakit hati ketika sang teman perempuan itu jalan bersama lelaki lain.

Baca: Putus Cinta, Sakit Hati, Anak Muda Kadang Ingin Makan Ban…

Hal ringan semacam itulah yang kerap ia tulis. Namun banyak tulisannya juga tentang hal yang “cukup berat”, semacam toleransi dan akulturasi yang ia lihat di sekitarnya.

Salah satu tulisannya yang dimuat di tatkala.co berjudul Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa. Tulisan itu berhasil mengantarkannya untuk meraih Anugerah Jurnalisme Warga Balebengong 2017 untuk katagori teks atau tulisan. Ia menyisihkan sekitar 30 karya unggulan masing-masing media jaringan jurnalisme warga di Indonesia, termasuk tatkala.co.

Anugerah itu diberikan saat acara Malam Apresiasi Anugerah Jurnalisme Warga serangkaian acara perayaan 10 Tahun Balebengong.id dan Bali Blogger Community di Taman Baca Kesiman, Minggu, 5 November 2017,  malam.

Dalam tulisannya itu Julio menulis tentang ritual upacara penguburan neneknya yang dilakukan secara adat Cina, namun suasana yang dihadirkan di rumahnya adalah suasana kental adat Bali.

Tema yang ditulis Julio sesungguhnya sangat klasik. Namun justru karena Julio berangkat dari semangat jurnalisme warga, ia bisa menuliskan tema itu dengan mendalam.  “Cerita yang ditulis (Julio) lebih ke dalam, dari pandangan dia,” kata juri, Luh De Suryani dari balebengong.id.

Oh ya, selain katagori tulisan, Anugerah Jurnalisme Warga juga diberika kepada dua jurnalis warga untuk katagori ilustrasi dan foto.

Katagori ilustrasi anugerah diberika kepada Gede Jayadi Pramana Kusuma dengan ilustrasi berjudul Bulung Nusa Penida yang dimuat di balebengong.id.

Sementara untuk katagori foto, penghargaan diberikan kepada I Made Argawa dengan foto berjudul Indonesia Berbhineka, Indonesia yang Ceria yang juga dimuat di balebengong.id.

Tambahan Info:  Julio di Dunia Teater

I Made Julio Saputra, lahir di Pekarangan, 16 Juli 1996, adalah seorang mahasiswa Pend. Bahasa Inggris, Undiksha. Berproses kreatif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha dan Komunitas Mahima, serta Teater Kalangan.

Sempat pentas di beberapa event, di antaranya pada 2015 menjadi pemeran pembantu dalam pementasan tunggal UKM TKSJ membawakan naskah “Mega-Mega” karya Arifin C. Noer, pemeran utama naskah “Pinangan” karya Anton Chekov Bali Emerging Writers Festival 2015, Denpasar.

Pada 2016 menjadi pemeran pembantu pementasan Komunitas Mahima membawakan naskah “Reinkarnasi Layonsari” karya Kadek Sonia Piscayanti dalam Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawnatya di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar.

Menjadi pimpinan produksi pementasan Teater Kalangan membawakan naskah “Rintrik” karya Danarto dalam Mimbar Teater Indonesia V di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo dan pada 2017. Lalu menjadi pimpinan produksi pementasan UKM TKSJ membawakan naskah “Perempuan Tanpa Nama” karya Kadek Sonia Piscayanti dalam acara Dramakala Fest VI di London School of Public Relation, Jakarta. (T/redaksi)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY