Ilustrasi diolah dari sumber Google

 

APA sih yang dimaksud dengan mahasiswa instan? Setahu saya kata instan itu biasa berkaitan dengan makanan dan minuman. Tapi ini berbicara tentang mahasiswa.

Sebagai pembukaan atau mukadimah, mari kita ulas satu per satu terlebih dahulu.

Dimulai dari kata instan. Apa sih yang dimaksud dengan instan? Jika diartikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) instan adalah langsung (tanpa dimasak lama) dapat diminum atau dimakan.

Jika menurut saya, pada intinya arti instan itu adalah cepat saji tanpa memerlukan waktu lama atau tanpa memerlukan proses yang lama.

Nah, bukankah instan itu hanya berkaitan dengan makanan dan minuman saja? Mungkin sebagian orang menjawab “iya”, karena lazimnya kata instan itu ada di kehidupan sehari-hari, seperti mie instan”.

Cara membuatnya pun memang tidak memerlukan proses yang lama, karena cara sederhananya adalah tinggal memasak air panas sampai mendidih dan memasukkan mie ke dalam air yang mendidih. Setelah itu tunggu beberapa menit dan angkat mie tersebut dan siap disajikan.

Beda halnya dengan cara kita harus membuat adonan mie terlebih dahulu, belum lagi membuat bumbu-bumbu segala macamnya, itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan berhari-hari.  Akan tetapi tujuan dari kedua cara tersebut sama saja, yaitu bisa dimakan.

Menurut kalian, apakah cara paling cepat yang lebih enak dinikmati atau cara yang panjang yang lebih enak dinikmati?

Hasil survey ke beberapa teman saya, alhasil mereka memilih paling cepat lebih enak dinikmati, karena dapat mengefisienkan waktu dan tidak ribet. Apakah jawabannya sama dengan kalian? Mungkin saja sama.

Akan tetapi, coba kita beralih ke hal yang berbeda sekarang, jika kalian diberikan tugas oleh dosen tentang membuat metode penelitian dan dikumpulkan dalam waktu satu minggu, apakah kalian mampu membuatnya dalam waktu cepat? Tentu saja mau tidak mau, bisa tidak bisa, harus bisa mengerjakannya, karena itulah tuntutan sebagai mahasiswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen untuk mendapatkan nilai.

Lalu bagaimana cara kalian membuatnya dalam waktu cepat untuk menyelesaikannya?

Menurut hasil survey saya, sebagian mahasiswa melakukannya dengan cara meng”copas” (copy paste) dari internet (google) lalu mengedit kata-kata tersebut sesuai dengan kesepakatan diskusi kelompoknya. Mudah bukan? Dalam waktu dua hari pun akan selesai jika caranya seperti itu. Apakah itu tidak termasuk caranya instan juga?

(Nah.. apakah sekarang menurut kalian kata instan itu hanya berkaitan dengan makanan dan minuman saja? Tentu jawabannya tidak. Jika ada makanan cepat saji, ya, ada juga mahasiswa “cepat saji”.)

Padahal sebenarnya jika membuat suatu metode penelitian itu harus melakukan observasi terlebih dahulu, mengumpulkan data, baru bisa menyusunnya sesuai dengan susunan pembuatan metode ilmiah. Jadi itulah mahasiswa, terkadang tidak mau ambil ribet, tidak mau sabar, dan yang terpikirkan hanyalah yang penting tugas itu selesai cepat, dan mendapatkan nilai. Bukankah begitu?

Dibalik ini semua pasti ada faktor penyebab kenapa mahasiswa sekarang sukanya yang serba cepat, dalam artian serba instan. Karena salah satu faktornya adalah tekanan tugas yang bertubi-tubi dalam setiap harinya. Setiap dosen berbeda tugas. Belum lagi tugas-tugas itu dikumpulkan dalam waktu dekat, sehingga membuat mahasiswa bingung, bahkan stress.

Terlalu banyak tugas, dan akhirnya mereka memilih cara “copas” atau menjiplak karya orang lain tanpa memberikan keterangan yang punya karya tersebut.

Nahh.. jika kalian diibaratkan sebagai pihak yang mempunyai karya tersebut, lalu ada yang menjiplak atau menggunakannya tanpa izin dari kalian, bagaimana perasaan kalian? Tentu saja marah, bukan?

Karena ketika kita mempunyai suatu karya yang dibuat dengan susah payah, butuh proses yang sangat lama untuk menjadikan suatu karya tersebut dianggap baik. Akan tetapi orang lain dengan sekejap waktu saja bisa menjiplak karya kita tanpa memberikan keterangan nama si pembuat dan bahkan hasil jiplakan tersebut dinilai sangat bagus, tentunya perasaan si pembuat karya tersebut merasa tidak dihargai.

Menurut kalian, manakah yang kita lebih banggakan, mendapatkan nilai yang bagus dari hasil jiplakan karya orang lain, atau mendapatkan nilai yang standar rata-rata dengan hasil yang kita peroleh sendiri melalui proses yang lama?

Jika dilihat dari tujuan kita sebagai mahasiswa yaitu kuliah untuk mendapatkan hasil yang bagus, dalam artian mendapatkan IP dan IPK yang tinggi, maka jawabannya adalah memilih mendapatkan nilai yang bagus dari hasil jiplakan karya orang lain. Namun, apakah IP dan IPK dapat membuat kita sukses nantinya?

Coba kita lihat lagi ke sisi lain, lihatlah sosok Menteri Kelautan dan Perikanan, yaitu Ibu Susi Pudjiastuti.  Ia hanyalah seorang lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Lalu mengapa ia bisa menjadi seorang menteri?

Justru jika dilihat dari perjalanan sebelum sang ibu itu menjadi menteri, kisahnya bisa dibilang mengharukan. Setamat SMP ketika ia melanjutkan ke jenjang SMA di Yogyakarta, pada waktu kelas 2 SMA, ia dikeluarkan dari sekolah karena aktif di gerakan golput.

Setelah dikeluarkan dari SMA, apakah ia bisa langsung menjabat sebagai menteri? Tentu tidak, ini masih membutuhkan proses yang lama.

Kita lanjutkan, setelah ia dikeluarkan dari SMA, ia tidak kenal menyerah, tidak mudah putus asa, dan ia mencoba untuk melakukan bisnis dengan memiliki modal Rp. 750.000 yang didapatkannya dari penjualan perhiasan miliknya.

Modal sedikit bisa sukses? Eits,, disimpan dulu pertanyaannya ya.

Dengan modal yang dimilikinya Ibu Susi memulai bisnis jual beli ikan yang berasal dari daerah Pangandaran. Setelah beberapa waktu kemudian bisnis dijalankan, akhirnya bisnisnya semakin berkembang pesat, sehingga pasarnya sampai menjangkau ke Asia dan Amerika.

Sungguh menakjubkan bukan? Salah satu produk yang diminati hingga ke luar negeri adalah lobster.

Sehingga, ibu Susi berpikir bahwa untuk dapat cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lainnya kepada pembeli dalam keadaan masih segar maka perlu adanya sarana transportasi pesawat. Pada tahun 2004 ibu Susi Pudjiastuti memutuskan untuk membeli sebuah pesawat Cessna Caravan seharga Rp 20 Miliar menggunakan pinjaman bank, yang lama-lama dirintisnya menjadi maskapai penerbangan Susi Air.

Setelah 8 tahun berlalu tepatnya pada tahun 2012, Susi Air mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe, dan juga ia menerima pendapatan Rp. 300 miliar. Singkat cerita, dan pada akhirnya tahun 2014 pada kabinet Jokowi dan JK, presiden Jokowi menunjuk ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019.

Dari cerita tersebut, menurut kalian apakah nilai IP dan IPK yang tinggi dapat menjamin mahasiswa itu sukses? Tentu saja jawabannya belum tentu bisa, karena jika IP dan IPK yang tinggi menentukan kesuksesan, pasti semua orang akan berbondong-bondong masuk kuliah dan mengejar target tersebut demi kesuksesan. Bahkan seharusnya jika itu benar maka ibu Susi juga harus kuliah dulu dong baru bisa sukses, seperti itukah?

Jadi, baiklah saya beritahu. Sebenarnya nilai IP dan IPK itu hanya akan mengantarkan kita sampai ke meja. Apa artinya sampai ke meja? Sekarang perhatikan jika kita ingin melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan, jika kita lihat pasti ada persyaratan minimal “IPK” yang tertera, jadi itu artinya nilai IP atau IPK hanya mengantarkan kita sampai lulus persyaratan di perusahaan tersebut. Lantas apa itu sudah termasuk dikatakan sukses?

Tentu belum. Karena kita belum berproses di dalamnya, bukan?

Berproses dalam dunia kerja akan sangat berbeda dengan bangku perguruan tinggi. Lantas letak perbedaanya di mana?

Jika kita di perkuliahan, ketika ada tugas yang diberikan dosen kita masih bisa menunda-nunda tugas tersebut sampai H-1 batas pengumpulan, lalu jika dalam dunia kerja, apakah kita bisa menunda pekerjaan?

Tentu tidak. Karena di dunia kerja inilah yang akan menentukan sukses atau tidaknya kita. Ketika kita akan menunda-nunda terus, maka kita akan juga menunda kesuksesan kita, karena sukses itu semua tergantung apa yang kita lakukan hari ini, esok, dan seterusnya.

Jadi kesimpulannya adalah mahasiswa instan artinya mahasiswa yang tidak mau berproses di dalamnya, yang hanya ingin mencapai tujuannya dengan cara merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Apakah mahasiswa instan tersebut bisa dikatakan sukses nantinya? Mungkin saja ada yang menjawab bisa. Akan tetapi dalam artian bisa sukses untuk sementara waktu jangka pendek.

Mengapa demikian? Karena mahasiswa tersebut hanya merasa puas di awal dari hasil orang lain, akan tetapi mahasiswa tersebut tidak memiliki banyak pengalaman, sehingga nanti ke depannya  akan merasa kesulitan untuk melanjutkan usahanya tersebut.

Jadi saran dari penulis, jadilah mahasiswa yang selalu haus ilmu. Artinya jangan kita merasa cepat puas apa yang kita dapat sekarang, karena semakin banyak ilmu yang didapat, maka semakin banyak pula peluang sukses kita. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY