Senandung bhineka di sebuah Gereja di Bajawa

 

APA yang terbersit di benak anda ketika mendengar Flores? Panas? Akses yang susah? Tertinggal? Atau susah bersosialisasi? Nah, sebuah kota kecil yang tepat berada tepat di tengah-tengah pulau ini mampu mematahkan semua bersit tersebut tadi. Kota Bajawa namanya. Kota ini terbilang sejuk, akses yang mudah, dibarengi dengan masyarakatnya yang ramah dan memudahkan anda bersosialisasi dengan sekitar.

Sesuai dengan arti nama bajawa (“bha” yang berarti piring, dan “jawa” yang berarti perdamaian), kehidupan masyarakat di kota ini berlangsung amat harmonis. Ibukota dari Kabupaten Ngada yang berpenduduk ± 44.000 orang ini mayoritas memeluk Agama Katolik, diikuti oleh Islam, Hindu, dan Protestan. Namun dalam kesehariannya, masyarakat berbaur satu sama lain tanpa alasan sekat agama.

Saya sendiri adalah seorang pemeluk Hindu yang baru menetap 6 bulan di kota ini. Dalam masa itu, saya merasakan bagaimana hidup dalam keberagaman benar terjadi di kota ini. Fanatisme agama yang belakangan ini menjadi isu sensitif bangsa ini seakan tidak pernah ada.

Saya mulai dengan apa yang saya alami beberapa waktu lalu. Kala itu saya baru saja mulai bekerja di salah satu perguruan tinggi swasta di kota ini. Tidak lama berselang, salah seorang rekan kerja saya mengalami musibah di mana ayah yang bersangkutan berpulang. Saya pun turut berkunjung bersama para pelayat lainnya dan mengikuti proses pemakaman yang dilangsungkan secara Katolik.

Tiba di rumah duka, keheranan saya muncul ketika banyak warga Muslim berdatangan membantu. Bukan dengan tangan kosong, mereka juga datang dengan membawa barang-barang seperti gula, kopi, dan sejenisnya untuk meringankan beban keluarga duka. Seakan mengerti dengan kondisi sekitar yang beragam, pihak keluarga duka turut menyiapkan makanan-makanan halal untuk warga muslim.

Sebelum pemakaman, terdapat beberapa prosesi yang wajib dilalui seperti doa bersama di rumah duka, doa bersama di Gereja setempat, dan pemakaman sebagai prosesi akhir. Sejauh yang saya ikuti, prosesi doa di rumah duka berlangsung cukup lama. Hari beranjak siang, namun lantunan doa secara katolik tidak kunjung putus. Bagi kami yang memiliki keyakinan berbeda, kami menghormatinya dengan cara mengikutinya dengan khidmat, berdoa dengan cara kami, berdiri ketika diminta oleh “Romo” (Biarawan) yang memimpin prosesi ini.

Begitu prosesi doa di rumah selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama seluruh pelayat. Tidak nampak ada berebut makanan, semua bergiliran untuk mengambil hidangan yang disediakan dengan mengutamakan orang tua, sepuh, tetua adat, terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan mereka yang muda kepada yang lebih tua.

Suasana ketika santap hidangan pun berlangsung cair, tanpa sekat, yang tua dengan yang muda, masyarakat adat dengan tamu, juga katolik dan non katolik. Secara adat, bagi yang mereka yang telah selesai santap siang, tidak diperkenankan mendahului melainkan menunggu mereka yang belum selesai. Sebagaimana mereka mengambil makan bersama, mereka harus selesai bersama. Ini tidak lain dari wujud rasa kebersamaan diantara warga.

Alunan tembang doa berlanjut ke Gereja setempat. Sedikit ragu untuk masuk ke dalam, saya bertanya pada penduduk setempat. “Bolehkah saya masuk? Apakah sebaiknya saya melepas alas kaki untuk masuk?” tanya saya yang sungkan.

Seorang bapak-bapak menjawab saya sederhana penuh bijak, “Adik, tidak ada seorangpun yang dilarang masuk ke rumah Tuhan, pakai saja alas kakimu”. Maka tanpa ragu lagi, saya masuk kedalam gereja. Ketika saya sibuk mencari tempat untuk duduk, seseorang datang dan berbicara pada orang disebelah saya mengatakan bahwa paduan suara untuk lantunan doa-doa kekurangan anggota.

Merasa pernah belajar mengenai nada, saya beranjak untuk menawarkan diri menjadi bagian dari paduan suara. Saya disodori beberapa carik kertas secara terpisah berisi lirik lengkap dengan nadanya dalam sopran, tenor, alto, dan bass. Karena waktu yang semakin sempit, saya melakukannya tanpa latihan.

Bagi saya, melantunkannya sepenuh hati adalah wujud tulus doa suci untuk ia yang berpulang. Maka setelah itu saya sadari, menjalin tenun kebangsaan bisa terjadi dimana saja, dari daerah yang baru anda kunjungi, dari wilayah kecil masyarakat, maupun dari situasi yang datang tanpa pernah kita kira sebelumnya. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY