Lukisan: Kabul Ketut Suasana

.
BAIT PEMBUNUH

Kupaksakan merawat ingatku
Perjuangan suara dan kemegahan pemikiranmu
Tekadku ingin setara denganmu
Kau lebih mulia bersama bait Bunga dan Tembok itu!
Maka kupertegas bahwa aku sedang melawan lupa
Bait-baitmu membunuh nafsu angkara nan angkuh
Karena keadilan seperti mimpi bertemu orang baik di gedung megah itu!
Baitmu berseru berisik sepeti guntur menyambar bumi
Tetapi kau menjadi lenyap dan menghilang ditelan bumi
Aku merawat ingatku, melawan lupaku!

Singaraja, Januari 2017

SUARA

Kemanakah suara-suara itu
Menggerutu, menggertak, melawan dan menolak,
Mereka semua di mana ?
Bukankah kita setuju di antara hamba dan raja tak ada dusta mendustai
Bah rupa srigala, berkulit bunglon, selicik heina
Mungkin mereka sibuk bercumbu dengan rokok dan secangkir kopi penghibur
Ataukah mereka berkasih dengan biduan berparas ayu bertemakan bulu merpati
Kuharap di antara kita tak dijajah kebegoan sendiri
Hanyut diperalat iblis dan Fananya dunia

Bondowoso, Maret 2017


SURGA TAK MULUK-MULUK

Rokok masih kuhisap
Kopiku merayu manja untuk dicumbui
Senyum ibu hadir setia seperti pagi
Walaupun tak ada daging dan susu setiap hari
Karena hidupku bukan singa di Taman Safari
Kopi, rokok, dan senyum Ibu !
Itu senua surgaku yang tak muluk-muluk
Namun mereka sering tak sadar diri.

Jakarta, Juli 2015

ALIBI MENYEBALKAN

Alibi paling menyebalkan
Punya rasa suka lalu cinta
Tetapi pura-pura tak mempunyai keduanya
Kenapa memilih menyiksa diri?

Lembang-Bandung, Juli 2015

DOSA YANG DIHALALKAN

Kepada siapa aku meminta hakku sebagai rakyat
Yang menyediakan kesejahteraan, keadilan dan kedamaian.
Janji-janjinya hari ini menjadi iming-iming
Mirip mitos yang tak punya bukti ilmiah
Tuhan,aku mengeluh di atas kertas ini
Kepada siapa aku harus meminta?
Sedangkan yang engkau perantarai.
Mampu menyulap dosa menjadi halal

Singaraja, Oktober 2017

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY