Pentas Hung Siwer di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar

 

Anak-anak naik panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, dengan gembira. Sebagian besar dari mereka membawa kendang (gupekan), beberapa anak lain memegang alat gamelan lain. Mereka bermain musik sambil bernyanyi, sebagaimana senyatanya bermain.

Itu bagian dari pentas kelompok musik Hung Siwer serangkaian Bali Mandara Nawanatya, Minggu 22 Oktober 2017 malam.

Pengangon anak-anak itu adalah penyanyi kawak dari grup XXX, Rahtut XXX. Selain Rahtut ada juga penyanyi Kanya yang turut mengangon anak-anak itu. Suasana kegembiraan memenuhi ruangan di Gedung Ksirarnawa.

Memang, penampilan Hung Siwer mengingatkan kita pada pentas-pentas grup XXX, terutama ketika grup itu memadukan musik modern dengan gamelan Bali. Apalagi, dalam pentas Hung Siwer itu dibawakan juga lagu Nak Bali yang sudah seperti jadi ikon dari grup XXX.

Namun Nak Bali yang menjadi lagu penutup dalam pentas Hung Siwer itu memberi suasana beda karena koor dan sorak anak-anak memberi warna lain pada lagu itu. Lagu itu terkesan amat riang, tanpa beban.

Penonton terhibur dengan kemunculan anak-anak dari kelompok musik Hung Siwer itu. Dengan ikut menari, memainkan gamelan, dan main drama kecil, mereka mengundang gelak tawa penonton sekaligus riuh tepuk tangan.

Suasana bangga dan haru sebagai ‘Anak Bali’ semakin terasa manakala Rahtut XXX meminta seluruh penonton untuk menggaungkan penggalan lirik: ‘Anak Bali, tiang nak Bali, mabasa Bali magending Bali”. Penampilan ini semakin apik, saat Rare Hung Siwer mengakhiri lagu ‘Nak Bali’ dengan instrument gamelan yang menghentak seisi Ksirarnawa.

Rahtut XXX bermain bersama anak-anak

Selain Nak Bali, semua lagu yang dibawakan Hung Siwer menampilkan atraksi kegembiraan, baik dari nyanyian bersama, permainan, maupun gambelan yang mereka mainkan. Seperti lagu Hanacarakan, Acung-Acung Pangi dan Cung Kiduk-Kiduk. Rahtut dan Kanya, meski memegang kendali pentas, namun keakraban mereka dengan anak-anak membuat panggung itu seakan sepenuhnya menjadi milik para belia.

Taksu anak-anak itu adalah kegembiraan sejati, dan Hung Siwer berhasil memainkan kegembiraan itu dengan baik. Apalagi tema lagu-lagunya mencerminkan semangat belajar dalam kegembiraan, dan kegembiraan dalam pelajaran.

I.B.K Widyantara selaku salah satu orang tua anggota Rare Hung Siwer menuturkan bahwa pementasan ini menguji pendidikan karakter, baik itu keberanian dan rasa percaya diri seorang anak. “Sangat inspiratif dan membangun semangat anak-anak untuk tampil. Hanya saja gaung dari acara ini perlu ditingkatkan karena terlihat penonton tidak begitu full,” paparnya. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY