Foto ilustrasi: Santana Ja Dewa

 

DI sebelah tenggara Pulau Bali ada tiga pulau yang molek. Kita boleh dan layak menyebutnya sebagai telur-telur emas. Tiga pulau itu menyimpan kemegahan potensi. Ibarat gadis desa, ketiganya menawan, memikat para lelaki. Mereka adalah Nusa Lembongan, Ceningan dan Nusa Penida

Memang pulau ini terlihat tandus tatkala musim kemarau. Sepanjang mata memandang dari laut, akan tampak kecoklatan warna yang mencolok mata. Namun jika kita menelisik ke dalam lagi, kemegahan alamnya tak bisa diragukan. Lukisan semesta sedemikian rupa membentang dari ujung barat dan timur. Misalnya tempat-tempat yang kini jadi incaran para istragrammebel untuk berswamfoto berlatar belakang kolaborasi alam yang menakjubkan: laut, bukit, dan karang.

Tempat itu adalah Angel Billabong, Pasih Uug, Crystalbay, Atuh, serta tempat lain yang masih menunggu untuk dilirik. Penorama alam bawah laut lebih dulu dikenal. Ikan mola-mola ikonnya. Selain itu, ada juga terumbu karang yang siap diajak bercengkrama. Warga jumawa menyambut dengan siap saja, saia pun yang datang menikmati sebuah keagungan lukisan alam itu.

Rasa penasaran akan sebuah pulau kecil berkecambuk dan penasaran bagi penikmatnya silih berganti datang. Metamorfosa pulau yang cadas dan keras ini mengubah tatanan hidup warganya. Alam membentuk manusia yang dulunya berdiam kini melakukan perubahan sesuai dengan kondisi, di mana pariwisata sekarang menggeliat ditanah Dukuh Jumpungan.

Guratan alam adalah pasarnya. Tatanan hidup sedikit ada kemajuan dalam hal ekonomi walaupun yang belum bisa menangkap peluang kue pariwisata tetap saja masih setia dengan profesinya baik petani ladang, buruh dan lainnya.

Daya dukung infrastruktur mental masalah prinsip di tengah pergolakan pariwisata yang sedang hangat. Kepribadian masalah pokok dalam hal memberikan yang terbaik dan melayani sepenuh hati, begitu sebaliknya mereka yang datang. Begitu banyak yang datang tidak serta merta mereka dengan hati yang lembut. Dinamika inilah bumbu kita menyikapi sebuah perkembangan pariwisata.

Setiap perkembangan selau berdampingan dengan dampak yang ditimbulkan. Larut boleh, tetap sesuai tatanan sosial anak pulau yang penuh senyum. Dampak lain mungkin lebih jelas terlihat pada tatanan bukit, atau warga lokal menyebutnya bataran. Warga mulai merasakan kecewa. Bataran yang rapi itu membentuk barisan benteng berundak yang kemudian diratakan, dan disambut deretan hunian. Namun warisan tersebut tetap berdiri dengan gagah, meski berada di tengah kepungan hutan rumah.

Segi Tiga Emas

Nusa Lembongan, Ceningan dan Nusa Penida, secara administrarif masuk wilayah Kabupaten Klungkung. Satu-satunya kabupaten di Bali yang mempunyai daerah kepulauan dan satu kecamatan mewilayahi tiga pulau itu.

Pintu masuk menuju Nusa Penida dan pintu keluarnya terdiri dari sejumlah pelabuhan yang tersebar di beberapa titik. Ini bisa jadi sumber permasalahannya nanti. Lambat waktu, pergolakan bisa timbul, baik dari segi kriminalisasi, kerusakan alam serta lainnya. Pemkab sendiri sudah menyadari hal itu. Untuk itu, perencanaan pelabuhan segi tiga emas adalah sebuah jawaban.

Sesuai progres dua titik berada di Nusa Penida, satu titik untuk Nusa Gede dan Lembongan & Ceningan, sementara satu titik sementara di Klungkung daratan berpusat di Persinggahan. Konektifitas itu bisa merangkai Klungkung dan Bali, serta melancarakan pemerataan pembangunan memecah “telur emas Bali”, sebutan lama yang dilontarkan oleh Gubernur Bali Dewa Beratha tujuan utama. Sebutan tersebut sudah lama menggema, sekarang perlahan tapi pasti telur emas Bali pecah.

Membahas segi tiga memang sangat seksi, baik dari segi ranah spiritual, mitologi kehidupan sosial masyarakat serta lainya. Seperti hal segi tiga emas yang bisa dibilang segera hadir. Begitu juga segi tiga yang sering menjadi panduan hidup manusia Bali Tri Hita Karana, sumber daya manusia muara dari itu. Keharmonisasi alam “palemahan” adalah tatanan alam yang sudah terbentuk sedemikian rupa, jangan diusik tatkala perkembangan terjadi, malah alamlah menopang sendi kehidupan.

Sementara masalah hubungan manusia “pawongan” dengan sesame, titik lemahnya adalah di saat satu visi, sejiwa, terjadi pergolakan karena perubahan itu sendiri. Itu problema hangat. Kita diajarkan dan dibentuk hanya dengan hapalan saja tentang konsep itu. Implementasi masih di bibir. Berseteru saling menyalahkan dan posisi paling benar atas konsep-konsep kehidupan. Dampaknya, kita sibuk berdebat kusir tanpa melerai. Apa korelasinya segi tiga emas dengan Tri Hita Karana?

Berhubungan sangat dekat sedekat semesta dan isinya. Pembangunan sebuah daerah kontennya dalam hal ini adalah kesejukan masyarakat. Mekritisi sah-sah saja tapi ada perkecualiannya, yakni memberikan solusi, bukan bisanya ada “kemajuan” tertentu lalu pada akhirnya ada yang mengkritisi dengan gelap mata. Ibarat sebuah kapal berlayar di tengah samudra diterjang badai, jika dalam situasi tersebut awak kapal dan penumpang terjalin kekompakan dan badai itu bisa berlalu.

Saya merespon situasi tersebut dengan seni kontemporer, bambu yang gagah menantang ombak adalah progres pelabuhan segi tiga emas proses awal uji kelayakan. Demontrasi ini menginformasikan kepada publik bahwa pembangunan berada di depan mata. Dalam medium seni mudah sekali mengshare hal ini. Keraguan persepsi melihat bambu-bambu di pantai bisa terjawab dengan lugas dan aktual.

Salam SemangArt (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY