Ilustrasi diolah dari foto Mursal Buyung

 

Saat kebodohan menguasai kesadaran maka kesadaran memiliki hak untuk berbuat hal paling bodoh – Ibnu Sina

BANYAK tulisan-tulisan yang telah mengulas peran dan fungsi seorang mahasiswa sebagai agent of change, agent of control, airon stock, namun di balik itu semua kita sebagai mahasiswa dinina bobokkan oleh sistem birokrat kampus dengan pasal-pasal manipulatif.

Sejak kita menjadi mahasiswa baru, kita sudah diperkenalkan dengan prosedur kampus yang harus ditunaikan, disampaikan aturan dan kode etik dan yang paling mengerikan ialah di takut-takuti. Selain itu kita tidak diperbolehkan memakai kaos oblong waktu kuliah, tidak boleh memakai celana jeans, potongan rambut harus rapi seperti pejabat di gedung putih, dan bahkan diwajibkan membeli buku dosen.

Doktrin ketakutan dijadikan senjata oleh penguasa kampus. Penampilan dijadikan dasar penilaian karakter pendidikan yang diidamkan dan dianggap berhasil sesuai cita-cita bangsa. dimana kesadaran mahasiswa dipertanyakan tentang kebebasan? Apakah sudah tidak ada keberanian?

Mahasiswa bukan lagi orang-orang yang ditakuti penguasa, mereka hanya bagian dari kaum pabrik intelektual sebagai mesin uang. Berapa banyak uang yang harus kita habiskan untuk kuliah? Selain biaya bulanan untuk kebutuahan sehari-hari seperti membeli makan, pulsa, kost hingga hiburan. Sekarang yang menjadi ukuran objektif kuliah ialah bukan pengalaman tetapi berapa banyak uang yang telah kita gelontorkan selama kuliah.

Sebagai mahasiswa kita dilatih harus memilik soft skill yang biasanya diberikan pelatihan tentang kewirausahaan, dengan doktrin harus memiliki usaha sehingga bisa membiayai kuliah sendiri dengan maksud mengurangi beban tanggungan orang tua. Program ini menjadi daya tarik sendiri terutama bagi mahasiswa perantau yang harus survival.

Namun lucu ketika lahan untuk membuka usaha sudah dilahap oleh penguasa kampus dengan bekerjasama dengan orang luar kampus, misalnya urusan kantin. Sudah tidak asing nama kantin bagi mahasiswa yang memiliki uang jajan lebih namun menjadi tempat asing bagi mahasiswa rantau dan kere, ya seperti aku ini.

Seharusnya jika kampus ingin menyejahterakan mahasiswa maka pengelolaan jual beli (kewirausahaan) dalam lingkup kampus diserahkan kepada mahasiswa, sehingga kampus menjadi tempat mahasiswa berproses menempa diri dan tidak berfikir lulus dari universitas harus menjadi PNS.

Mahasiswa semakin abu-abu dalam kampus ketika anak beasiswa diwajibkan membuat PKM (program kreatif mahasiswa) setiap semesternya dan pembagian beasiswa ini disesuikan dengan jumlah keselurahan mahasiswa setiap jurusannya, tetapi program ini tidak jelas alurnya dan cenderung hanya formalitas, dan tidak ada hubungannya dengan beasiswa. Kesadaran palsu ini semakin lengkap dengan kebijakan ketika ada program relawan dimana delegasinya pukul rata tanpa mempertimbangkan jumlah mahasiswa setiap jurusan.

Marx menggambarkan kesadaran palsu yaitu dengan buruh tetap bekerja meski dalam keadaan tertindas dan gaji yang murah dan jam kerja yang panjang, dengan dalih kaum kapitalis telah menjanjikan surga kepada kita. Keadaan ini sepertinya telah merasuk sendi-sendi kampus dengan dalil kepalsuan yang telah dosen sampaikan. Ketika kita mempunyai tunjangan di HMJ kita tidak diberikan tanda tangan KRS (kartu rencana studi) Pembimbing Akademik sebelum melunasinya. Padahal secara sah tidak ada peraturan yang mengatur hal itu di sistem birokrat kampus.

Selain itu mahasiswa diharuskan untuk memenuhi sekian SKS sebagai syarat kelulusan misal, syarat KKN harus memenuhi 110 SKS, untuk PPL-Real harus memenuhi 120 SKS, jadi dapat kita simpulkan bahwa mahasiswa juga diterapkan jam kuliah panjang. Namun tidak ada satu pun materi yang terserap karena mahasiswa hanya berfikir praktis bagaimana mendapatkan IPK tinggi dan lulus tepat waktu demi memberikan hadiah toga kepada orang tua.

Kepatuhan palsu itu ditanamkan. Disuburkan lewat pelatihan-pelatihan. Sesekali mahasiswa itu diberi unjuk kebolehan. Ada yang hapal karakter baik. Ada yang mampu sebut bentuk tindakan terpuji, bahkan dengan hormat mereka sanggup hapalkan isi kitab suci. Singkatnya, karakter baik ada banyak tanpa harfiah. Tidak suka demo, bahkan inisiatifnya demo malah konser (aksi lupa tujuan). Bahkan tidak suka bolos apalagi kuliah telat datangnya.

Spesies ini disuburkan di kampus dengan harapan akan muncul angkatan mahasiswa baru. Segar penampilan, semangat menyambut kompetisi dan tidak diributkan oleh soal di luar dirinya. Kita perlahan-lahan mengubur semangat martir mahasiswa. Kita ganti dengan tokoh baru, mahasiswa pencetus semangat pasar. (T)

Catatan: Tulisan ini terinpirasi dari buku “Bangkitlah Gerakan Mahasiswa”, karangan Eko Prasetyo, terima kasih kepada kawan saya Chete telah memberikan bukunya demi menyadarkan kegelisahan seorang mahasiswa yg dikoyak-koyak sepi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY