Wayan Redika, Blessing, 2005, Acrylic On Canvas, 100x100cm

.
UPAS TAWUN

Kau akhirnya percaya
Mimpi adalah pertanda

Seekor gagak menikam jantung anakmu malam itu
Sampai kini ia lemas tanpa daya

Tapi akan kuberi satu rahasia
Peruwat segala yang kau percaya

Meski malam telah datang
Sekarang pergilah ke ladang
Susurlah pematang dengan berjalan ke belakang
Sampai matamu berjumpa rerimbun daun Sintrong

Petik lima kepik lalu tabur di atas piring
Lumat dengan seiris gula kelapa, maka cukuplah
Untuk mencampur dengan perahan jeruk nipis

Beri anakmu seteguk itu
Maka akan kembali semua tenaga

Dan kau akhirnya percaya
Mimpi tak selalu membawa tanda

Karena bukan gagak yang menikam anakmu hingga lemas tanpa daya
Tapi panas dalam yang menyumbat segala tenaga

SEPASANG BOLA MATA PENUH CAHAYA

Sebelum kita melengang papan
Telah kusiapkan satu strategi agar terhindar dari mati
Aku latih kuda melompat berlari
Aku pasang sepuluh mata di tubuh perdana

Berulang kali aku tempa mereka
Agar kelak menjadi sepasang senjata rahasia

Tapi bertatapan di antara papan
Aku kembali merasa melawan sepuluh pasang mata

Lihat haus mautku ini, Putu
Seperti timba mencari telaga
Segera waktu akan tiba
Di mana bidakmu hanya berduka
(kau mulai melepas bidak dengan serangan Larsen)

Kupikir ini gerakan akan pecah dalam sepuluh langkah
Tapi kembali kau membawa tipu daya yang sama
Sepasang bola mata penuh cahaya
Dan aku menatapnya
Seperti berulang kali jatuh cinta

Kemenangan kadang bermula
Dari gerakan rahasia
(Katamu dengan menggeser perdana
menuju skak mat)

Rajaku tak berdaya
Maka kubiarkan saja
ia mati sia-sia

Kemudian kau tersenyum
Betapa kemenangan
Seperti kebahagiaan
yang sering aku bayangkan

Sehari sebelum natal tiba
Aku mengenakan baju Santa
Kau memelukku dan tertawa

Sementara itu, bibirku mengusap keningmu

MANTRA PENGUSIR TIKUS

Kami menanam
Bukan berarti berhak kau makan

Tikus
hama
Hama tikus
Pergilah kawanan tuan

Kami menolak kehadiran
Dengan empat benang merah di empat sudut petak sawah

Tikus
Hama
Hama tikus
Pergilah kawanan tuan

Kami menolak kehadiran
Dengan bubur beras terasi di atas daun madori

Makanlah makan di lain ladang
Sekawanan tuan sekalian
Lenyap sekejap

Tajamkan mantraku
tajamkan

Puh!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY