Foto; Sugi Lanus

 

KEMARIN melintas jalur para raja Bali Kuno: Desa Gobleg (melihat perkebunan yang dikabarkan telah ada di jaman Bali Kuno, di sinilah disimpan berbagai prasasti Bali Kuno), turun ke Cempaga (apakah benar Cempaga ada kaitan dengan migrasi orang berdarah Campa jaman Sri Wijaya?) lalu ke Tigawasa (mengambil sokasi ulatan bambu yang demikian mendarah daging di wilayah Bali Aga ini) dan makan di Labuan (H)aji sebelum naik ke Pedawa ngobrol pertanian kuno padi gaga.

Catatan pentingnya, sering kali pelabuhan pesisir Bali Utara yang sangat kuno bernama Labuhan Haji dikatakan sebagai tempat pemberangkatan naik Haji ke Mekah. Ini kekeliruan yang sulit dimaafkan.

Haji atau Aji dalam kebudayaan Nusantara pra-Islam era Hindu-Buddha berarti “Raja” atau “Paduka”. Raja Bali Kuno memakai gelar Haji diantarnya: Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakata Pangkaja Sthana Uttungga-dewa, Sri Haji Anak Wungsu, Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warma-dewa, Sri Maharaja Haji Ekajayalancana, dan lain-lain.

Labuhan Haji di pesisir Utara Bali adalah pelabuhan raja-raja Bali Kuno, demikian disebut turun temurun.

Pelabuhan Haji dan Pura Labuhan Haji kedudukannya terkait dengan ritual danau Tamblingan yang berkait dengan pemujaan Dalem Tamblingan, diperkirakan telah ada peradaban ini era Sri Haji Ugrasena dan penerusnya.

Desa SCTPB (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, Banyusri) atau Panca Desa ini pengampu dan penjaga utama Labuhan Haji. Bersama dengan Catur Desa (Gobleg, Munduk, Gesing, Umajero) yang menjadi pilar penjaga “Luhuring Capah” (Puncak Mata Air, Puncak Teratai) yang tak lain Danau Buyan dan Tamblingan.

Catur Desa dan Panca Desa itu adalah semacam “Nawa Sanga” dari salah satu pusat kerajaan Bali Kuno di Bali Utara. Batas timur pintunya sampai kini dikenal dengan “Lawang Kangin” dan baratnya bernama “Lawang Kauh”. Batas hilir-bawah adalah Labuhan Haji, hulu dan pusat kesucian diletakkan di kawasan danau Tamblingan (dan Buyan).

Sampai kini Catur Desa dan Panca Desa memegang berbagai prasasti Bali Kuno, melanjutkan tradisi suci, arsitektural, pola hidup dan kerajinan, masih terawat dan mengakar kuat, dan ini menjadi cermin bagaimana kedekatan pada alam dan pelestarian alam adalah benteng pertahanan budaya yang ampuh bertahan seribu tahun lebih.

Sayang, pertanian padi gaga dan belasan jenis padi yang pernah disebut dalam naskah lontar dan prasasti tak banyak lagi kita temukan di daerah Panca Desa dan Catur Desa. (T)

Catatan Harian 13 Oktober 2017

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY