Adegan film Mao Shan Wang/ Gambar diambil dari facebook/Thai Short Film & Video Festival

 

SAYA penonton film pendek yang tak banyak punya pengalaman menonton. Tapi benar-benar tergetar hati saya ketika menonton film Mao Shan Wang (2016) yang diputar di Rumah Film Sang Karsa, Lovina, Singaraja, Selasa 10 Oktober 2017 malam. Film itu terasa sangat dekat dengan isi kepala saya, ya, mungkin karena bercerita soal durian.

Mao Shan Wang adalah satu dari empat film yang diputar dalam sesi S-EXPRESS SINGAPORE serangkaian Minikino Film Week ke-3. Tiga film lainnya adalah Freeze (Nelicia Low), Dinosaur Rider (Tingerine Liu), dan Anchorage Prohibited (Chiang Wei Liang). Tiga film itu memang digarap apik, tapi memainkan tema yang sangat biasa.

Freeze menyampaikan pesan tentang kesetiaan, keragu-raguan dan perselingkuhan. Dinosaur Rider bercerita tentang kekacauan kelompok band remaja lengkap dengan konflik khas anak muda dengan aksesoris alkohol dan mabuk berat. Anchorage Prohibited tentang penjualan anak.

Tapi Mao Shan Wang memainkan durian. Durian yang di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand disebut Si Raja Buah karena ketakjuban rasa dan kemahalan harganya. Mao Shan Wang adalah jenis durian dengan varietas termahal. Dari sebuah situs saya baca, di Singapura, per kilogramnya durian itu bisa seharga USD 38 atau hampir sekitar Rp 500.000. Bayangkan saja, jika satu durian beratnya sampai 5 kilogram maka harga sebutir durian jenis itu bisa mencapai Rp 2,5 juta.

Bukan takjub rasa buah atau mahal harga durian itu yang membuat film Mao Shan Wang berputar dekat dalam kepala saya. Melainkan karena durian itu memberi renungan yang amat dalam tentang berbagai ritual kehidupan manusia, kehidupan suami istri, dan kehidupan biasa-biasa saja dalam pikuk sebuah kota besar.

Seorang pria tua menenteng tas kresek, lalu memasuki sebuah hutan kecil di pinggir jalan besar. Gambar bergerak lamban, selamban lelaki itu bergerak ke celah semak untuk tenggelam ke dalam hutan. Di tengah hutan ia menanam biji durian, lalu tiduran santai di atas gelantungan hammock di antara pohon yang hijau dan pohon yang kering menghitam. Ada kupu-kupu di tas kresek merah.

“Istri saya suka durian.” Terdengar lamat-lamat pria itu berucap. Durian itu menyampaikan kenangan lembut kepada istrinya. Kenangan yang hendak diabadikan di sepanjang hidup, jika bukan pada hidup manusia, ia abadi pada kehidupan pohon dan buah-buahan.

Kenangan-kenangan lembut itu dilukiskan dengan lembut selembut daging buah durian. Kenangan tentang istri si pria, dalam film, bergerak dalam ritual gambar yang disampaikan hanya sepanjang 9 menit. Durasi pendek itu tak membuat film itu tergesa-gesa, melainkan dengan lamban bergerak cermat dan tampak penuh perhitungan mempertunjukkan tahap demi tahap bagaimana kehidupan suami istri yang dinamis di masa lalu diingat pada masa tua yang hening dan cenderung statis.

Ada ritual memasak, makan durian bersama kura-kura, dan ritual buang sampah, yang merangsang perenungan dan mengundang banyak pemaknaan. Dan saya, sebagai penonton yang tak punya banyak pengalaman menonton film pendek, terserap.

Sejak awal film dibuka, saya terserap oleh gambar hutan yang dalam kepala saya sangat begitu akrab. Gambar pada bagian awal memperlihatkan pohon-pohon tropis yang sangat saya kenal. Pohon-pohon semacam itu, lengkap dengan celah semak tepi jalan, guguran daun menghitam di bawah pohon di atas tanah, akar tunggang, serta kerimbunan sulur-sulur, memenuhi masa kecil saya di kampung halaman di Tabanan yang masih terasa hangat di kepala.

Itu mungkin tak tepat disebut hutan. Tapi kebun liar yang berisi tanaman-tanaman liar, termasuk tanaman buah yang liar. Di sela pohon-pohon liar itu biasanya terdapat pohon durian yang besar, yang entah ditanam oleh siapa di masa lalu.

Saya masih ingat, dulu, setelah beruntung mendapat durian di kebun liar tepi sungai, setelah makan dengan lahap, saya selalu membuang biji-bijinya ke semak-semak dengan harapan biji itu tumbuh menjadi pohon durian dengan buah yang keruntuhannya ditunggu-tunggu anak-anak, mungkin salah satunya anak saya.

Jadi, yang ingin saya katakan dari tulisan sok pengamat ini: setelah menonton film Mao Shan Wang saya ingat biji-biji durian yang saya buang di semak-semak dulu. Apakah ia sudah tumbuh atau sudah berbuah. Semak itu sudah lama saya tinggalkan dan mungkin sudah tak ada lagi.

Jadi, saya berterima kasih pada director, Khym Fong, yang sudah membuat film tentang durian yang “bisa bicara” tentang kenangan-kenangan. Sempat saya googling nama Khym Fong, dan makin takjublah saya, karena ternyata ia seseorang ia masih berusia 18 tahun, lulusan School of The Arts di Singapura. Dan Mao Shan Wang adalah film pendek pertamanya yang dikerjakan dengan bantuan teman-teman sekolahnya.

Anak muda pembuat film di Bali, apakah tak berniat bikin film tentang durian bestala? (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY