Foto-foto Cok Aditya

 

MENDENGAR Banyuwangi Festival, jangan malu mengakui, ingatan kita pastilah meluncur pada gemulainya sosok-sosok perempuan asli Banyuwangi. Mereka menari dengan iringan gamelan yang asli Banyuwangi, bukan Jawa, bukan pula Bali, tapi mirip Jawa, ya mirip juga dengan Bali. Itulah Gandrung Sewu. Seribu penari gandrung menari secara bersamaan di tepi pantai.

Saya juga. Begitu mendengar Banyuwangi Festival saya langsung ingat Gandrung Sewu dan langsung ingin menontonnya. Keinginan bersambut ketika Bupati Putu Agus Suradnyana menugaskan saya menghadiri acara itu. Sekalian studi banding. Karena Buleleng juga punya festival, punya hal-hal yang bisa dibandingkan.

Tanpa pikir panjang saya mengajak dua staf untuk berngkat ke Banyuwangi menggunakan roda empat. Itu bukan hari kerja alias libur akhir pekan, namun saya pergi dengan rasa senang berlibur sekaligus dengan semangat kerja yang tinggi. Tak bisa leha-leha seperti orang liburan, namun tak usah tegang juga seperti orang bekerja.

Begitu menyeberang di Selat Bali, kemeriahan Banyuwangi Festival sudah terlihat saat kami menginjakkam kaki di Pelabuhan Ketapang . Sepanjang jalan dipenuhi banner dan baliho Festival Banyuwangi. Kemeriahan itu seakan menyambut saya, dan itu membuat saya maskin semangat untuk terus meluncur ke arah titik kemeriahan itu.

Rupanya bukan hanya saya yang disambut di Banyuwangi. Banyak orang luar masuk daerah itu untuk tujuan yang sama. Buktinya tingkat hunian hotel sangat tinggi. Saya sampak kewalahan mencari penginapan meggunakan aplikasi travel di HP karena semua penginapan penuh. Untung masih ada sisa 1 kamar di sebuah hotel yang cukup bonafid.

Setelah ganti-ganti pakaian, saya langsung bersiap ke tujuan. Tujuan pertama adalah Ijen, lokasi digelarnya Banyuwangi Summer Jazz Festival, Sabtu 7 Oktober malam. Tapi cuaca tak mendukung. Hujan turun hingga malam dan saya kembali ke hotel.

Minggu 8 Oktober 2017 siang, pukul 11.00 wita saya bersama staf cek out untuk menuju Pantai Boom, lokasi digelarnya Gandrung Sewu. Sebelum ke lokaasi kami menyempatkan keliling kota dan mampir di desa wisata Oshing. Desa itu saya kenal karena Pemkab Banyuwangi termasuk mempromosikannya dengan cukup gencar.

Pukul 13.00 wita tiba saat menonton Gandrung Sewu di Pantai Boom. Tahun ini cukup heboh, sebanyak 1.200 penari ikut serta dalam Gandrung Sewu. Sungguh tontonan yang layak untuk dinikmati mata maupun batin. Bayangkan, dua kilometer dari lokasi, pemandangan kemeriahan sudah sangat tampak. Ya, jalanan macet, ribuan masyarakat tumpah ruah berdesak-desakan menuju Pantai Boom.

Saya mempercepat gerakan agar sempat melihat acara itu dibuka sekaligus mendengar pidato Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Maklum, sebagai staf di bagian humas, kebiasaan saya ya dengarkan pidato bupati, hehehehe.

Pidato Bupati Abdullah Azwar Anas memang menarik. Di hadapan ribuan masyarakatnya, Bupati yang juga kader PDIP itu mengatakan ragam festival yang diselenggarakan di Banyuwanhi sejak ia memimpin adalah suatu cara bagaimana mengkemas, memperkenalkan, melestarikan seni budaya sebagai daya tarik wisata.

Mendengar itu saya ingat pidato bupati saya, Putu Agus Suradnyana. Hal yang sama selalu disampaikan Bupati Suradnyana di setiap kesempatan membuka festival, yakni tourism is different. Seperti juga yang dilakukan Banyuwangi, Buleleng juga harus punya daya tarik agar wisatawan mau datang ke daerah itu.

Seperti kata Bupati Azwar Anas, Gandrung Sewu menjadi instrumen memperkenalkan seni-budaya daerah ke publik, sekaligus ini menjadi bagian dari regenerasi pelaku seni. “Kami bangga, makin mudah mencari anak Banyuwangi yang memiliki bakat menari,” kata Anas Anas.

Jika dikaitkan dengan Buleleng Festival, pernyataan Bupati Azwar Anas ini juga terjadi di Buleleng. Sejak ada Buleleng Festival, kegairahan berkesenian juga terjadi di Bali Utara. Bukan semata pertunjukan dan atraksi wisata saja, namun menjadi ajang konsolidasi budaya.

Gandrung Sewu juga mengingatkan digelarnya Buleleng Festival untuk pertama kali tahun 2013. Tari Trunajaya massal saat itu digelar dengan melibatkan 500 penari. Awalnya susah mencari penari sebanyak itu, namun belakangan penari bisa ditemukan dengan mudah.

Gandrung Sewu mengalami hal yang sama. Dulu di tahun pertama, untuk mencari pelaku seninya atau penarinya, pemerintah kebingungan. Tapi sekarang minat anak-anak muda membeludak. Ini menunjukkan betapa bangganya rakyat terhadap seni-budayanya.

Gandrung Sewu tidak hanya sekadar menari sebagaimana tari gandrung yang dikenal sebelumnya, tapi terdapat koreografi yang memiliki tema berbeda tiap tahunnya. Kini di 2017 Gandrung Sewu mengangkat tema Kembang Pepe, yang menceritakan perjuangan pasukan Blambangan melawan penjajah Belanda.

Setelah cukup puas menonton Gandrung Sewu, kami bersiap pulang. Dalam perjalanan pulang, termasuk di kapal pada saat penyeberangan di Selat Bali, saya merenungkan banyak hal, termasuk bagaimana mengadopsi hal-hal menarik dalam Banyuwangi Festival itu untuk diterapkan di Buleleng. Kita di Buleleng sudah melakukan banyak hal, seperti yang dilakukan di Banyuwangi. Tinggal kita matangkan saja, sembari terus berproses, terus belajar dari sukses daerah lain. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY