Komunitas Teratai di Taman Budaya Denpasar

 

PANGGUNG Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, malam itu Minggu 8 Oktober 2017 terasa temaram. Cahaya panggung tak semuanya menyala. Dua komunitas musik tampil bergiliran. Komunitas Teratai yang mengawali. Sementara Leeyonk Sinatra yang mengakhiri. Terasa ringan, sederhana tetapi menghibur.

Beberapa lagu nada cinta dan kehidupan sehari-hari mengalir riang dan ringan. Adalah Komunitas Teratai, yakni komunitas seni dari kalangan tuna netra, yang mengalirkan nada-nada sederhana itu. Nada-nada dan lirik lagu-lagu Bali hasil ciptaan anggota Komunitas Teratai. Nada-nada ringan tetapi penuh warna warni. “Kami juga ingin berwarna-warni mengisi dunia ini. Kami tuna netra juga ingin maju seperti bapak ibu sekalian,” tutur kordinator Komunitas Teratai di penghujung pementasan, Didon Kajeng.

Menurut Didon lagu-lagu mereka menyajikan pola akustik sesuai perintaan panitia. Dalam pementasan itu komunitas Teratai ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang keseharian mereka. “Bahwa kami tuna netra sama dengan anda. Bahwa kami juga mengalami perasaan jatuh cinta, patah hati dan lain-lain. Harapan kami masyarakat luas dapat menerima karya komunitas Teratai ini,” harap Didon.

Komunitas Teratai menurut Didon tidak hanya menggeluti seni musik dan sastra, melainkan juga seni lukis. Didon mempesilahkan penonton memberi masukan pada mereka. “Kami ingin seperti teratai . Walau akarnya dalam lumpur tetapi daun dan bunganya tetap memberi arti dalan kehidupan,” kata Didon puitis.

Leeyonk Sinatra

Keriangan, kesederhanaan dan seputar kehidupan dan cinta juga mengalun dari lagu-lagu grup musik Leeyonk Sinatra yang tampil kedua di acara Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya II malam itu. Diantaranya lagu ‘Bahagia Itu Sederhana’, ‘Mampu Mengerti’, ‘Tetap Mekenyem’ dan lainnya.

Kurator Bali Mandara Nawanatya II, Kadek Wahyudita mengakui kesederhaan dan keriangan yang menghibur pementasan malam itu. “Selama bulan musik di bulan Oktober, kami sengaja menampilkan lagu pop untuk memberi hiburan bagi pecinta musik di Bali,” terang Wahyudita Hanya saja, Wahyudita tidak menampik bila tata cahaya panggung Gedung Ksirarnawa memang kurang menunjang pertunjukkan musik akustik seperti ini. “Ini catatan ke depan yang perlu diperhatikan bersama,” aku Wahyudita.

Grup musik Leeyonk Sinatra diawaki oleh Yudi Dharmawan (Vocal), Bolo LS (Gitar Vocal sekaligus pencipta lagu), Jiggo Palawara (Keyboard sekaligus yang mengaransemen lagu), Yudik Cahyana (Kajon) dan Made Suandra (Bass). Band yang terbentuk 23 Februari 2013 di sebuah Cofee Shop di Denpasar ini sengaja memilih genre Pop inovatif. Album pertama mereka adalah ‘Bahagia Itu Sederhana’, menyusul album kedua ‘Kisahmu Ceritaku’ dan sudah ada 8 video klip yang digarap dan mendapat respon cukup baik dari masyarakat.

Di penghujung pementasan vocalis Leeyonk Sinatra, Yudi menyinggung soal anak muda agar tidak mudah putus asa hingga bunuh diri soal cinta. Fenomena yang akhir-akhir ini mengemuka di media. “Ada pertemuan ada perpisahan. Tetapi perpisahan itu jangan sampai menyebabkan bunuh diri. Yang penting tetap mekenyem,” pesan Yudi.

Ia kemudian menyanyi lagu pamungkas ‘Tetap Mekenyem’ seperti reff lagu berikut ini: …..// Ada sing ada aku bin mani/ Ada sibg ada disisin kamu/ Tetep jalanang hidup cara biasane/Yen kamu rindu kangen jak aku/kenanglah aku lewat lagu/Lagune biasa sesai gendingang aku……// (T/R)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY