Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Made Adnyana Ole

BEGITU bangun dari tidur, Ming Tabo langsung berlari keluar rumah. Matahari baru saja muncul. Ia berlari ke kebun belakang rumah. Ia ingin melihat tetes darah di atas daun pisang. Tapi tak ada tetes darah. Ia kemudian berlari ke depan rumah Bendesa. Ia mengintip ke dalam rumah besar itu dan berharap melihat pemandangan getir: banyak orang menangis. Tapi tak ada yang menangis. Orang-orang di rumah itu bangun pagi dengan ceria. Ming Tabo sungguh kecewa.

Semalam, Ming Tabo melakoni siat wengi, pertarungan sengit di tengah malam. Dari tempat tidur ia terbang, melayang di atas rumah, melenggang di atas kebun dan meluncur di atas persawahan. Bulan ditutup awan. Ia memegang keris kecil tanpa luk, mencari musuh abadi, Bendesa, yang dipastikan sedang menunggu di sela kabut di atas pepohonan. Dan benar, di atas pucuk beringin melayanglah seorang lelaki tua sembari mengacungkan keris tiga lekuk agak panjang. Kain kambennya menjuntai ke bawah. Ming Tabo langsung menerjang. Di sela udara keduanya kemudian saling sambar. Saling menusuk ke titik tubuh paling mematikan. Dalam pertarungan singkat itu Bendesa terdesak. Tusukan keris Ming Tabo tak bisa dielakkan. Tubuh lelaki besar itu melambai ke bawah. Dari lubang dadanya menetes darah segar.

Pagi setelah siat wengi yang dimenanginya dengan gemilang, Ming Tabo berharap orang-orang desa akan gaduh melihat tetes darah di atas daun pisang. Lalu banyak orang menangis karena Bendesa ditemukan tak bernapas di tempat tidur. Tapi harapannya sia-sia. Tak ada tetes darah di daun pisang, tak ada yang mati tak terduga. Kekecewaan Ming Tabo dirasa seperti keris sendiri yang menembus dada sendiri.

Siat wengi seakan jadi hiasan utama dalam hidup Ming Tabo sejak ia berumur 13 tahun. Suatu pagi orang-orang di desanya kaget mengetahui orang suci yang mereka hormati, Ida Pedanda Lanang dari Griya Gede, meninggal. Padahal, malam sebelumnya Ida Pedanda masih menerima tamu dari sejumlah warga yang mohon petunjuk perihal upacara agama. Menjelang tengah malam, ketika warga pulang, Ida Pedanda langsung tidur. Pagi hari, Ida Pedanda tak bernapas. Orang-orang terisak. Pagi jadi mencekam. Lebih mencekam lagi ketika terdengar kabar aneh, Ida Pedanda meninggal akibat kalah dalam siat wengi. Ini diketahui dari sejumlah petunjuk, antara lain ditemukan banyak tetes darah di atas daun pisang di sejumlah kebun.

Ming Tabo yang saat itu ikut larut dalam kesedihan tiba-tiba seperti tersengat listrik mendengar kata siat wengi. Kata itu menyetrumnya. Dari kakeknya ia dapat penjelasan siat wengi adalah pertarungan orang-orang sakti pada malam hari. Anehnya, tak ada yang bisa menyaksikan pertarungan itu. Karena terjadi pada malam di dunia lain, dunia yang berada pada batas mimpi dan kenyataan. Badan kasar sang petarung masih berada di tempat tidur. Hanya rohnya terbang ke atas pepohonan, ke atas pemukiman, ke atas persawahan, bahkan terkadang melesat ke angkasa dan melakukan pertarungan duel di langit paling tinggi, di antara bintang-bintang. Jika ada salah satu kalah, besok paginya orang akan melihat tetes-tetes darah di atas daun pisang di sejumlah kebun. Lalu akan ada kabar orang sakti meninggal secara tak terduga di tempat tidurnya.

Penjelasan kakeknya membuat Ming Tabo merinding, tapi jauh di dalam hati ia tiba-tiba merasa menemukan satu cita-cita rahasia: membunuh Bendesa dalam ajang siat wengi. Tak akan ada yang tahu. Dan ia akan merasa puas melihat suasana gaduh orang-orang menyaksikan tetes-tetes darah di daun pisang pada pagi yang dingin, lalu banyak orang menangis karena tiba-tiba kehilangan Bendesa, sang pemimpin adat.

Sebagian besar warga desa memang segan, hormat, sekaligus takut pada Bendesa. Warga segan, karena Bendesa kaya dan suka menyumbang. Warga hormat, karena Bendesa punya banyak kolega dan koneksi pejabat tinggi. Warga takut, selain dikenal sebagai sesepuh ormas besar di Bali, Bendesa juga dikenal sakti yang konon bisa membunuh orang hanya dengan sekali tiup. Bendesa menjabat kepala adat sejak usia 17 tahun dan hingga kini tak ada yang berani mengajukan diri sebagai pengganti. Ia selalu dipilih lagi.

Ming Tabo mungkin satu-satunya warga yang membenci Bendesa. Ia memendam kebencian itu sejak ia kelas tiga SD. Saat itu semua siswa diminta mengajak orang tuanya ke sekolah untuk mengikuti pertemuan. Semua siswa mengajak ayah mereka, kecuali dia sendiri mengajak ibu. Ming Tabo tahu ayahnya sudah meninggal. Tapi ketika melihat kenyataan hanya dia yang tak punya ayah di kelasnya, ia punya dorongan kuat untuk bertanya secara lebih rinci tentang kematian ayahnya. Maka sepulang sekolah, dengan keluguan seorang bocah 10 tahun, Ming Tabo menanyakan hal itu pada ibunya. Tangis sang ibu berderai kemudian.

“Ayahmu dikeroyok massa ketika kau masih berada dalam kandungan. Ayahmu dicap PKI. Saat itu semua orang yang dicap PKI dibunuh karena dianggap berbahaya bagi negara. Ayahmu sebenarnya bisa selamat ketika diburu massa tak dikenal dari luar desa. Para tetangga dan warga desa melindungi dan menyembunyikannya di sebuah kebun di tepi sungai. Namun Bendesa memberi petunjuk kepada massa sehingga persembunyian ayahmu ditemukan!”

Ming Tabo mendengar cerita ibunya dengan napas tertahan seolah ia seorang lelaki dewasa yang sedang mendengar petuah tentang hidup dan kematian.

“Ayahmu ditemukan. Ia diseret di jalan. Ibu menyaksikannya dengan hati pedih. Menjelang malam, kakekmu bersama ibu kemudian menjemput mayat ayahmu di dekat kuburan Cina!”

“Kenapa Bendesa memberitahu persembunyian Ayah?” Pertanyaan Ming Tabo bukan lagi tentang ayahnya, tapi tentang Bendesa. Ia merasa ada gemuruh di dadanya.

“Bendesa membenci ayahmu!”

“Kenapa?”

“Bendesa dan ayahmu sebenarnya sepasang sahabat yang tak bisa dipisahkan sejak kecil. Ke mana-mana berdua. Ke sawah dan kebun, memancing belut, memburu sarang lebah, menjerat burung, mengejar ular sanca malam-malam, semuanya dilakukan berdua. Saat remaja, mereka melakukan permainan iseng yang kemudian menyebabkan persahabatan mereka koyak. Ketika mandi di bendungan, mereka menemukan ikan lele berenang-renang dekat mereka. Keduanya kemudian sepakat, siapa yang berhasil menangkap lele itu tanpa kena patik beracun, dialah yang berhak merayu terlebih dahulu seorang gadis desa yang sama-sama mereka cintai!”

Ibunya terisak. Ming Tabo kembali menahan napas.

“Dan ayahmu menang. Gadis desa itu adalah ibu sendiri. Ibu menerima rayuan ayahmu bukan karena ia menang dalam permainan tangkap lele dan berhak merayu terlebih dulu. Melainkan karena ibu memang suka ayahmu!”

Sejak saat itulah Ming Tabo memelihara kebencian sekaligus memelihara kehendak untuk membunuh Bendesa. Tapi ia hanya punya kehendak tanpa punya keberanian. Di hadapan Bendesa, ia sekecil kutu. Ia memang meragukan kesaktian Bendesa yang konon bisa membuat orang tewas dalam sekali tiup, namun ia percaya Bendesa bisa mengerahkan anggota ormas untuk melakukan apa pun yang Bendesa inginkan.

Sampai akhirnya Ming Tabo tahu soal siat wengi. Sepanjang hidupnya kemudian digunakan untuk mencari ilmu agar bisa melakoni siat wengi melawan Bendesa. Setamat SMA ia tak kuliah, tidak juga bekerja. Ia sibuk mendatangi orang-orang sakti untuk berguru. Namun ia selalu gagal. Setiap tidur, ia bangun pagi seperti biasa. Tak ada pertarungan di batas antara mimpi dan kenyataan. Di sisi lain, kebenciannya terhadap Bendesa terus meninggi. Apalagi, dengan harta melimpah, Bendesa terus mempertahankan kekuasaannya sebagai ketua adat. Ming Tabo bahkan makin gelisah ketika Bendesa dengan gampang mempengaruhi warga agar memilihnya menjadi anggota DPRD. Kegelisahannya pun menjadi deraan sakit hati tak terperi ketika mengetahui Bendesa mencalonkan diri jadi Bupati, dan semua warga mendukungnya. Banyak teman-teman karibnya ikut menjadi tim sukses dan juru kampanye.

Jiwa Ming Tabo terganggu. Ia selalu berpakaian serba putih dan mendatangi setiap tempat keramat. Sebelum tidur ia melakukan tapa dan semadi sembari mengucapkan mantra yang entah di mana ia pelajari. Sampai suatu malam, ia bermimpi. Mimpi yang diyakini sebagai wujud siat wengi. Dari tempat tidur, rohnya terlepas dari tubuh, lalu terbang, melayang di atas rumah, melenggang di atas kebun dan meluncur di atas persawahan. Di atas pepohonan, Bendesa sudah menunggu dan pertarungan sengit terjadi. Bendesa kalah, darahnya menetes ke bumi. Namun besok paginya tak ada tetes darah di atas daun pisang. Bendesa masih segar bugar.

Sehari menjelang Pemilihan Bupati, Ming Tabo sangat gelisah. Dendam, benci dan sakit hati sudah berada di puncak. Apalagi belakangan ia mendengar desas-desus ibunya secara diam-diam kerap masuk ke rumah Bendesa, bahkan masuk kamar. Ibu pengkhianat, bisiknya. Di sisi lain ia tahu, uang yang melimpah tentu akan membuat Bendesa menang. Sehingga, dendam Ming Tabo tak tertawarkan lagi, Bendesa harus mati sebelum jadi Bupati. Maka, pada malam hari ia berusaha keras melakukan tapa semadi dan melapalkan mantra yang entah di mana dia pelajari. Begitu tidur, rohnya terlepas dan terbang ke langit. Di langit ia temukan Bendesa sudah siap menghunus keris panjang tiga lekuk. Pertarungan terjadi, lagi-lagi Bendesa kalah. Darahnya menetes dari lubang dada, jatuh ke bumi.

Awalnya Ming Tabo kecewa ketika besok paginya tak ada tetes darah di atas daun pisang di kebun belakang rumah. Namun setelah memeriksa rumah Bendesa, ia melonjak girang. Rumah Bendesa sangat gaduh. Ada polisi, tentara dan anggota ormas. Warga berdatangan dan tangisan terdengar sambung-menyambung. Bendesa tewas, ada lubang luka di dadanya. Darah memenuhi tempat tidur. Ming Tabo langsung pulang, berlari kegirangan. Dalam hati ia mengucap syukur. “Akhirnya kukalahkan Bendesa dalam siat wengi yang melelahkan!” gumamnya.

Di rumah, pagi belum begitu terang, namun di atas meja di ruang tamu ia bisa melihat dengan jelas sebilah keris tanpa luk berlumur darah. Di pojok ruangan ia temukan ibunya menggigil seperti orang gila kehujanan di sudut pasar. “Aku membunuhnya, dia ternyata tidak sakti!” suara ibunya.

Singaraja, Januari 2015

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY