Lukisan karya: Kabul Ketut Suasana

.
SATU SURAT DAN 5 PUISI UNTUK D

Bagian I : Surat

(Ia mulai membacakan surat yang telah selesai ia tulis)
Ketika kau membaca surat ini, berarti aku telah mati.
Aku dibunuh ilusi.
Suara. Rupa. Dan entah apa.

Kuulang lagi, kalimat yang tak pernah luput di surat-suratku sebelumnya, “Aku tak pernah ada. Kau nyata”.
Maaf, aku tak sempat membalas suratmu yang kau kirim bulan lalu.
Aku hanya tidak percaya pada kata-katamu,
kalimat yang kau susun indah,
yang tiba-tiba membual soal cinta.
Bagaimana aku begitu mudahpercaya?
Keindahan? Makna? Diksi barangkali? Atau kontemplasi? Metafora-metafora?
Ah. . .
Kata-kata tetaplah omong kosong yang entah mengapa terus ada.
Sepanjang zaman. Sepanjang pelarian.

Surat hanyalahbatas antara dunia nyata dan khayalan.
Kau nyata, aku tak pernah ada.
Sekian terima kasih.

Bagian II : Subuh (Mistique Music)

Ada yang ingin selalu ku dengar
Irama nada-nada
Yang telah memberi kita
ritme yang sama
sebelum kita

Bagian III :Pagi (Yang Tak Ingin Ku Kenang)

Pagi tak pernah hilang
Selalu terkenang
Gulita. Embun-embun. Dan dingin rerumputan
Ketika menjejakkan kaki tanpa alas
Sumur yang diselemuti embun
dan rumput yang pasrah pada pijak kaki

Apakah waktu akan melambat
merambat melalui pori-pori kulit?
Atau
waktu akan merambat cepat
Lewat hembus angin pagi
Yang mesra merambahi dedaunan kamboja

Bunga kamboja telah berguguran di halaman depan
Yang tanah
Gelisah. Menadah. dan Pasrah.

Bagian IV : No Object on Canvas

“Maaf. Tak ada puisi untuk kematianku”
Sebuah kalimat di kanvas ukuran 90 x 80 centimeter

Bagian V : Sloki ke-12 (Tak Ada Cerita)

“Cukup. Aku mau muntah” sela temanmu, pada sloki whiskey ke-12
Dan benar. . .
(Ia muntah)

Tapi siapa yang disalahkan
Ketika meja menjadi kotor
Dan menjijikkan
Teman-temanmu bubar
Dan cerita tak terselesaikan

Dalam sepersekian detik
Temanmu yang lain membanting Wiski

Kau tak ingin merebut cerita
Kau tak ingin ribut dengannya

Tapi siapa yang disalahkan?
Kau benar-benar mabuk

Bagian Akhir : Untuk “D”

Lukisanku tak selesai
Pun tulisanku
Aku telah kalah
Pada ilusi yang kucipta sendiri.
Aku telah kehilangan pagi.
Tak pernah (lagi) mendengar musik mistik
Aku tersesat pada kanvas dan terpeleset cat minyak.
Tak ada apapun yang terlukis.
Semua terkikis
oleh kenangan dan ruang
Ah, wiski sialan
Malamku berantakan
Aku tak ingat
Apa-apa yang ingin ku tulis.

2017, September

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY