Foto: Mursal Buyung

.
TELUK PADANG BAI

di bagian yang paling senyap
dari pulau yang tidak pernah gelap
sarkopagus tua itu terdampar
menjadikan aku tawan karang
membawa aku ke peluk paling terkutuk

karena peluk itu, teluk itu, ternyata
rumah pasir penyu batu paling lampau
dekat sekali dengan pelabuhan malam
dekat sekali dengan hutan bakau yang dibakar

dan selemparan batu apung
dari pelabuhan itu, dari hutan bakau itu
siang terbentang sepanjang 24 jam
malam membenam sedalam 24 jam
dan aku, dalam rentang hidupku
mesti terjaga juga 24 jam
menjaga negeri yang lenyap
karena reklamasi tangan gelapku,
negeri dengan hujan asam
sepanjang tahun musim panasnya,

negeri yang tumbuh sungsang
karena upacara air mata,
negeri dengan kemarau basah
yang tak akan lagi aku temukan
dalam lukisan cat-air Redika,

negeri yang hanya akan abadi
dalam sajakku
sajak yang tidak kuasa aku tuliskan

2016

PADANGBAI
subuh, sebelum menyeberang ke Lombok

tuhan, buka mataku
agar dapat kulihat fajar untuk penghabisan
burung itu mati
penutur terakhir bahasa pagi itu punah
burung jalak putih tanpa tubuh itu mati
dengan membawa kata-kata
yang tertulis di cakrawala
puisi cahaya
setelah mencapai air,
tuhan, burung itu
akan jadi boneka karang
dengan perahu awan,
bertemu laut
di pangkal gunung diri,
yang menjulang dalam
karena batu-batu api yang dingin.
dan di tempat yang basah
redup yang menyeruak
di antara daun-daun tua berkarat
kapal-kapal ferry yang bersandar
dan membuang jangkar
barisan penumpang perantau,
kulihat diriku ke tengah lautan
yang diam abadi
waktu mengadiliku:
laut, aku jua perahumu.
lihat,
ikan-ikan kesayanganmu memberiku
sayap dan sirip cahaya.
burung-burung yang bukan hak milik
di sebuah negeri manapun.
membuatkan paruh waktu
aku belajar menyentuh air,
sebelum larut menjadi boneka garam
jika tubuhku perahu,
ombakmu menjagaku
arusmu jadi suar suara,
menunjukkan mata angin dan mata hari
tubuhmu ku arungi: mencari jejak air
memburu bunga air.
akulah kupu-kupu air
sayapku sepenggal merak,
tak tersisakan seekor ular pun
aku berharap menjelma kupu-kupu garam
mengarak patungku ke tengah balai kambang itu
di balai air ini,
ku hitung bayanganku terpantul di air,
terpental cahaya.

tuhan, buka mataku
agar dapat kulihat fajar
untuk pertama kali

2017

DI SELAT LOMBOK

di mana tubuhmu!
seekor lembu hitam
gajah dengan taring patah
atau singa bersayap

dituntun seekor anjing,
badan yang berburu bahagia
memasuki air petunjuk ruang
api petunjuk waktu,
angin petunjuk arah
dan garam yang terbentuk
dalam kebekuan.
menghampar pantai laki-laki,
dihias layang-layang betina
perahu-perahu ulan taga
pohon-pohon yang berdaun seribu tahun
pohon yang ditumbuhi
sarang burung berkicau
burung yang membuat sarang
dari bunga benalu
perempuan kupu-kupu
tubuh-tubuh payau,
budak benda-benda mati

terdengar suara wajah remang
mengenakan topeng-topeng pajegan
dan menarikannya
mengetukkan paku kayu
ke seluruh tuhuhku. siapa!
tanya tua dan abadi itu
aku ucapkan kembali
balian yang meramal wajah
dan membaca garis tangan masa depanmu
arjuna yang menunggu
dibungkam panah ekalawya
lelaki yang menakik lirik magik
dan mengadu ayam jantan
istri-istri yang berdandan dan
berangkat menjadi men brayut
mempelaiku, dimana tubuhmu!
aku peziarah marah,
mari menari dalam kabut debu
2017

SELAT LOMBOK, OKTOBER

100 mil laut dari Lembar
dalam ferry yang mengapung
perempuan dengan luka ketam
di punggung tangannya
menunjukkan arah padaku

disinilah mata air di tanam,
isaknya

setelah bunga karang
setelah api ombak
mata airlah yang sehangat subuh

di tempat basah ini,
mata air disembunyikan
kau dengar,
kupu-kupu hinggap di ujung wanginya
menunggu gerhana,
hingga cahaya merembes

di pusaran ini pun,
air mata tumpah
air mata gelap
menjadi laut

lalu aku, kau,
kupu-kupu dengan sayap terbakar
belalang padang pasir bawah laut
dan ikan-ikan sepanjang musim kawinnya
akan senantiasa menyeberangi puncaknya
yang paling dalam. yang paling terang

2017

JAM 12.10 WITA
dalam ferry di selat Lombok

aku tepekur
bulan tak lagi Oktober
satu pemukiman malam
di negeri maritim
asam oleh hujan Mataram
uap garam yang menghilir
dari sarang merpati , di awan pagi
dengan tanganku,
aku membentangkan
jembatan merang padi
dan hamparan padang lamun.
seorang pria berambut hitam
melempar koin
terbungkus kain putih dari kulit
pada kawanan lumba

pergilah!
dari Lembar – Padangbai
jaga anakku
yang akan melewati musim bunga
musim bunga api,
ke mana kupu-kupu kertas keemasan
teremas hawa panas.
terhempas dari tempat tinggal
berarsitektur rumah air,
dengan pohon terang di sekelilingnya
boneka api itu tak akan menjadi tua
dikenakannya setiap topeng
yang pernah dibuat manusia
namaku ditulisnya
dengan pensil lilin
boneka api itu menyala
dari tempatnya sembunyi
dikenakannya kelamin,
matanya buta,
telinganya tuli,
lidahnya bisu
dari tangannya
yang terbakar manganis, meteor jatuh

tubuh rahasia mengusirnya
mengirimnya
menggenangi laut
yang kehilangan hijaunya,
langit yang kehilangan birunya
bayang-bayang bunga daging yang layu
di punggung yang terpanggang

bulan sudah tak lagi Oktober
aku terbangun.
udara lembab
tanah kota-air ini pun lembab
sebutir aku lekatkan di dahi
di antara kedua alis
di antara kedua mata
lewat pemanenan hujan,
air benda tertua dan terkeras
terbentuk dari cahaya dingin
yang dihambarkan
terkelupas di wajahku
hangus
boneka api itu pun padam.
hitam. jadi tanah

2017

DI ATAS FERRY PENYEBERANGAN
PELABUHAN LAUT LEMBAR-PADANGBAI

penyanyi gagu itu
tidak pernah dapat menyelesaikan
lagu yang dinyanyikannya
untukku

setiap tiba, di titik refrain
terdengar bunyi sirene dan pengumuman
dari kamar nakhoda
yang mengusirnya dari ruang penumpang

lelaki akil baliq itu
juga tidak pernah menyeberang
untuk menemani penumpang mabuk
yang memberinya sedekah
dengan menyanyikan tembang sumbang
yang tak pernah selesai dihapalnya
sampai not terakhir, satu knot pun
: “……….jembatan bunga ini
menghubungkan aku
pada pangkal gunung air
pada puncak lautan api
tempat paling hening
dalam gemuruh diriku……….”

2016

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY