Oka Sudarsana, Ari Wicaksana dan Marlwe Bandem dalam workshop animasi di Taman Budaya Denpasar

 

Konsistensi dan ketekunan merupakan tantangan anak muda untuk terjun di industri animasi. Padahal konsistensi dan ketekunan merupakan modal terjun di industri animasi, selain ide kreatif.

“Pengalaman saya, dari anak-anak SMK animasi yang magang di tempat saya. Itu yang kurang dimiliki mereka,” tutur animator yang terlibat dalam pembuatan animasi doraemon, I Gusti Ngurah Oka Sudarsana saat usai tampil sebagai pembicara dalam workshop Stop Motion Animasi’ dalam rangkaian kegiatan Bali Mandara Nawanatya II tahun 2017 di ruang Teater Mini di Gedung Ksirararnawa, Taman Budaya, Denpasar, Rabu (4/10).

Menurut Oka Sudarsana, anak-anak SMK Animasi yang magang di tempatnya, cepat jenuh. Biasanya mereka fokus dan semangat hanya semingguan. Itu terjadi karena disiplin yang kurang. Semua itu berawal dari dunia pendidikan yang tidak mengajarkan disiplin pada dunia industri.

“Terutama disiplin dunia industri yang menuntut ketepatan pada deadline. Itu yang tidak diajarkan di dunia pendidikan. Padahal disiplin itu perlu di dunia industri, “tandas Oka Sudarsana. Untuk itu Oka Sudarsana berharap soal ini (disiplin industri krestif) dapat diajarka di sekolah.

Oka Sudarsana mencontohkan pengalamannya menjadi juri Festival Film Indonesia 2017 untuk kategori film animasi. Menurutnya, ada satu film animasi garapan mahasiswa Binus yang mencuri perhatian juri. “Filmnya hanya berdurasi tiga menit. Tetapi digarap selana dua tahun,” terang Oka Sudarsana.

Film itu digarap setiap hari secara bertahap. Satu hari dikerjajan satu atau dua animasi. Itu contoh konsistensi dan ketekunan. Masih menurut Oka Sudarsana, industri stop motion di Bali tidak ada. Hanya saja di pulau Jawa, industri ini sudah berkembang.

Sementara itu pembicara kedua tampil I Putu Gede Ari Wicaksana. Ari Wicaksana merupakan komikus digital yang telah go internasiional. Ari Wicaksana mengjngatkan bahwa Indonesia kaya akan cerita-cerita rakyat dan cerita anak. Hanya ssja sedikit yang menolehnya.

“Kita punya budaya tinggi di Bali. Mengapa kita tidak mengkat cerita-cerita yang ada di sekitat kita,” ujar Ari Wicaksana yang go internasional melalui komik digital yang berjudul ‘Baladewa’.

Ari mengaku dalam berkaya dia lebih fokus pada eksekusinya.’Eksekusi saja. Hasil belakangan,” tegas Ari Wicaksana. Untuk karya Baladewa ia mengaku sempat riset ke Candi Borobudur. Karena ceritanya mengambil cetita dari Jawa. Ari Wicaksana memberi tip jika mengambil cerita rakyat Bali.

“Kita perlu pahami konsep. Untuk itu kita perlu pahami sejarah,” ujar Ari Wicaksana sembari mengajak anak muda untuk berani berkarya di dunia animasi.(T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY