Foto: Mursal Buyung

 

“Kuliah itu bukan tentang nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Kuliah itu sebenarnya tentang pengalaman, orang-orang yang kalian temui, serta skill yang kalian dapatkan selama berkuliah”

—Najwa Shihab

SAAT itu. Aku duduk di bawah pohon yang entah apa namanya. Pohon besar itu berbunga. Di samping Fakultas Ekonomi. Jari-jariku terus menari di atas jajaran huruf yang tak tersusun. Mencoba mereka-reka dan mencipta. Mengarungi samudera kegelisahan tentang kemahasiswaan, untuk menjadikannya sebuah catatan evaluasi hidup. Aku harap berguna.

Dengan segala keraguan dan ketidakpercayaan diri, aku menuliskan apa yang kuanggap pantas untuk disampaikan.

Akhir-akhir ini aku selalu merasakan dilematis, artinya ada hal yang membuatku merasakan perasaan seperti itu. Keadaan mahasiswa saat ini misalnya.

Mahasiswa adalah pemuda, bahkan pemuda yang terpelajar, karena belajar di perguruan tinggi. Pemuda adalah identik dengan perjuangan dan perjuangan adalah pengabdian dan pengorbanan. Pemuda juga identik dengan spontanitas dan kemandirian. Pengabdian, satu dari Tri Darma Perguruan Tinggi adalah didorong oleh dan merupakan hasil dari spontanitas dan kemandirian. Kalau hanya karena ada perintah dari atas, ini bukanlah pengabdian melainkan perkuliahan, meskipun kuli halus. Itulah yang aku pikirkan.

Saat ini mahasiswa harus dipertanyakan kembali identitasnya, pengabdian, dan perannya untuk negara. Sepertinya mahasiswa sudah lupa dengan masa-masa kejayaannya. Reformasi misalnya. Pada 1998 menggugat zaman ORBA hingga menurunkan Presiden Soeharto walaupun itu terkesan politik belaka.

Hatiku makin gelisah ketika ada beberapa mahasiswa tidak tahu apa itu Tri Darma Perguruan Tinggi, tidak familiar dengan bahasa-bahasa ilmiah, alergi dengan forum-forum diskusi, apatis dengan persoalan-persoalan negeri. Dan, ketika ada salah seorang mahasiswa ingin membuat suatu perubahan, konsekuensinya adalah diasingkan. Ikut organisasi eksternal dianggap radikal.

Tidak boleh seperti ini, pikirku. Begitupun sistem pendidikan. Aku tidak tahu, guru, dosen atau bahkan mentri pendidikan sekalipun. Mungkin sebagian dari mereka tahu. Pernahkah kamu bertanya kepada gurumu atau dosenmu, adakah yang berpikir bahwa hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru? Adakah? Tidak. Semuanya berlomba. Sistem pendidikan dijadikan sebuah ajang perlombaan. Cepat-cepat lulus dengan IPK tinggi, lalu mendapatkan pekerjaan yang kebanyakan menjadi karyawan, PNS, kemudian mengharapkan uang pensiunan yang tidak seberapa. Itu tidak salah, tapi apa gunanya seperti itu?

Benar apa yang dikatakan oleh orang Jawa, akeh wong pinter, tapi durung tentu bener (banyak orang pintar tapi belum tentu benar). Apakah pengetahuan kita meningkat? Tidak. Hanya akan ada tekanan. Ini universitas, Bung, bukan panci bertekanan. Singa sirkus juga belajar duduk karena takut dicambuk. Kita boleh menyebut singa itu terlatih, tapi tidak terdidik. Kamu belajar tekun karena takut mendapatkan IPK jelek, kamu aktif di organisasi hanya karena takut nilai tak seberapa, kamu melakukan pengabdian (PPL dan KKN) hanya formalitas belaka. Kamu belajar untuk dirimu sendiri.

Mahasiswa selalu dijunjung sebagai penyambung lidah rakyat, sebagai agen perubahan, sebagai kontrol sosial, dan sebagai penerus perjuangan para pejuang terdahulu. Tapi saat ini rasanya mahasiswa hanyalah beban keluarga, beban negara, dan juga penyumbang terbesar pengangguran setiap tahunnya. Mahasiswa harusnya haus ilmu, haus pengetahuan, mengkritik kebijakan pemerintah dengan saran-saran yang baik demi kemajuan. Tak turun ke jalan tak apa, tapi diplomasi harus rutin dijalankan. Negeri ini butuh para pembawa perubahan untuk menyongsong masa depan.

Aku masih duduk di bawah pohon berbunga yang entah apa namanya. Kawan, jangan jadikan kampusmu sebagai penjara. Jangan jadikan universitas seperti pelatihan sirkus yang hanya ada tekanan, yang hanya terlatih tidak terdidik. Jadikanlah kampusmu sebagai tempat untuk mengembangkan diri. Bukan fisik semata, tapi pemikiran juga. Untuk para sarjana kita diharapkan pengabdian, dan tidak sekedar sebagai kuli halus menjual ijazah sarjananya kepada siapa saja yang membari gaji besar.

Sudah seharusnya sejak di bangku kuliah para mahasiswa dibiasakan hidup dan menghirup udara perjuangan, spontanitas dan kemandirian. Sekali lagi, ini universitas, kawan, bukan panci bertekanan. (T)

Catatan: untuk temanku yang masih duduk diam di zona nyaman, keluarlah, dan rasakan sensasinya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY