Karya: Nyoman Erawan (2016)

.
NOCTURNO

Daun-daun menguning
Kenangan membiru
Lebam oleh waktu

Dimanakah kita bertemu
Di ranjang atau kuburan
Tempat segala usia
Berakhir semestinya

Aku merindukanmu, Ibu
Maafkan aku tak bisa
Membuat kau bahagia
Sakit ini merenggut
Mimpi dan harapan

Beban kupikul sendiri
Kadang aku tak kuat
Tapi Tuhan baik
Kirimkan aku gadis
Merawat dan menjagaku

Ibu suruh Tuhan?
Terima Kasih, Ibu
Aku berjanji
Giat bekerja
Suatu waktu
Kita bertemu
Lahir kembali
Kulihat Ibu
Dalam mata
Anakku

MANUSKRIP DIRI

Aku sulit mengingat nama anak-anak
Aku lebih suka menatap mata mereka
Mata yang penuh kepolosan dan keluguan
Juga tawa mereka yang lepas

Bersamamu
Aku menjadi kanak-kanak lagi
Berlari sambil tertawa
Melewati hari-hari yang semakin biru

Adakah kau lihat bahagia
Di mataku
Di sekujur tubuhku
Kasihmu membuatku bangkit
Hari-hari yang kelam
Kini berganti rupa

Wahai Kekasih
Mari mengucap doa
Semoga perjalanan kita
abadi, meski keabadian
Milik Sang Khalik semata

SEBELUM PULANG

“jangan pulang
kita ngobrol dulu,” ucapmu

malam berjalan lambat
jalanan riuh. kita menatap
jendela berembun
orang datang dan pergi
restoran sebentar tutup
kau enggan beranjak
ingin mengabadikan
perjumpaan kita
bukan dengan gambar
diambil dari ponsel
seperti pasangan remaja
genit dan kasmaran
melukis malam
di pundak waktu
seakan tak ada
hari esok

sebelum pulang
kulihat diriku
di tajam matamu
terbakar
api cintamu!

TEJAKULA

Berapa kelok lagi
Mesti kutempuh
Untuk sampai padamu
Jarak terasa jauh
Ingatan melekat
Masa laluku
Perbincangan kita
Menggantung
Senja yang muram
Celoteh anak-anak
Bangunkanku dari mimpi

Lukisan gadis kecil
Tentang rumah
Begitu membekas

Dimanakah rumah?

Hati yang tulus
Rumah bagiku
Kembara sunyi
Penyair sepi
Di matamu
Kulihat cinta
Sisakan jejak
Jalan asing
Tak bernama

SKIZOFRENIA-3

Isap dan hembuskan rokokmu, agar dunia tahu kita masih ada. Melukis di atas kanvas, tuangkan gelisah dan laramu. Petik gitarmu dan nyanyikan lagu perlawanan. Jika kau lelah tidurlah, biarkan obat yang kau minum bekerja. Jangan pedulikan mereka yang tak peduli padamu. Kita orang terbuang, mereka lelah bersamamu dan membiarkan kau membusuk bertahun-tahun di rumah sakit jiwa.

Jangan takut pada malam. Semua akan berlalu seiring pagi menjelang. Ingatlah bahwa duka adalah penawar rasa sakitmu. Menangislah! Bukan untuk dikasihani melainkan untuk bangkit kembali. Mari ber-ria, mari bersuka. Menarilah di bawah rembulan, di malam-malam saat sepi mencekikmu. Alam semesta bersamamu. Kawan abadi bagi setiap luka.

SKIZOFRENIA-4
kepada Virginia Woolf

Suara-suara itu berbisik di telingaku. Aku tak kuat lagi, kegilaan ini menyiksaku. Tokoh dalam bukuku seakan hidup dan aku ada di dalamnya. Kau dengar, aku mulai berbicara sendiri, meracau tentang sesuatu yang tak kumengerti. Aku berpikir untuk bunuh diri. Maafkan aku, mungkin ini jalan terbaik untuk mengakhiri semua.

Jalan menuju desa sepi pagi itu. Daun-daun gugur, burung berkicau dengan riang. Sungai di dekat rumah kita mengalir deras. Air berwarna kecoklatan, hujan semalam membawa lumpur dan keruh. Aku bergegas memakai jaketku dan membuka pintu menuju ke sana. Bisikan di telingaku makin keras dan menyuruhku mengakhiri hidup. Aku tak tahan lagi. Menuju sungai, aku mengambil batu dan kumasukkan ke kantong jaketku lalu masuk ke dalam air. Sesaat aku tercenung, sebelum tenggelam ke dasar sungai. Kesunyian yang amat sangat.

SHARE
Previous articleKok Mau Percaya Komunis Bisa Bangkit?
Next articlePudak Wangi Kesayangan Sang Dewi
Angga Wijaya
Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Puisi-puisinya pernah dimuat di Warta Bali, Jembrana Post, Independent News, Riau Pos, Bali Post, Jogja Review, Serambi Indonesia dan Antologi Puisi Dian Sastro for President! End of Trilogy (INSIST Press, 2005). Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY