Rembug Sastra membahas Geguritan Bhuwana Winasa di Puri Gede Blayu, Tabanan, Minggu, 24 September 2017

JIKA jagat sastra Bali mengenal Ida Pedanda Made Sidemen sebagai seorang maha kawi-wiku abad ke-20, maka pada abad ke-19 diketahui juga ada seorang pengarang besar, yaitu Ida Pedanda Ngurah yang bertempat tinggal di Geria Gede Blayu, Tabanan. Beliau adalah seorang pedanda sekaligus seorang pengarang.

Beliau juga merupakan Bhagawanta (pendeta kerajaan) Puri Gede Blayu. Penelitian mendalam tentang sosok Ida Pedanda Ngurah serta karyanya pernah dilakukan oleh IBM Dharma Palguna yang tertuang dalam buku Ida Pedanda Ngurah: Pengarang Bali Abad Ke-19 (1998).

Karya Ida Pedanda Ngurah antara lain: Geguritan Yadňeng Wukir, Kakawin Gunung Kawi, Kakawin Surantaka, Geguritan Bhuwana Winasa, dan beberapa karya lain yang diduga sebagai karya beliau, seperti Wrĕtmareng Ukir, Parikan Singgala, Rundah Pulina, Jayeng Ukir, Gunung Guwa, dan sebagainya.

Salah satu karyanya yang banyak mendapat perhatian para peneliti dan pakar sastra Bali adalah Geguritan Bhuwana Winasa. Karya ini dinilai sebagai karya yang indah, mengandung nilai moral, etika, dan nilai kemanusiaan (humaniora) yang tinggi, serta sebagai karya yang mampu mencatat peristiwa sejarah di Bali dan Lombok. Bhuwana Winasa yang berarti “Jagat Hancur” mencatat secara detail peristiwa sejarah yang dapat dipakai sebagai sumber studi historiografi.

Bhuwana Winasa yang ditulis pada tahun 1918 mengungkapkan peristiwa runtuhnya kedaulatan kerajaan di Bali akibat konflik antar kerajaan-kerajaan di Bali selatan, seperti kerajaan Gianyar, Bangli, Karangasem, Klungkung, Badung, dan Tabanan. Konflik yang digambarkan tidak hanya soal pertikaian antar kerajaan, tetapi juga konflik yang disebabkan oleh datangnya pihak Belanda sebagai penjajah di Bali.

Geguritan ini juga mengungkapkan tentang tanda-tanda alam sebagai tanda-tanda zaman, terutama tanda zaman kehancuran. Ida Pedanda Ngurah dalam geguritan ini telah berhasil membangun kesadaran pemahaman terhadap peristiwa masa lalu, masa sekarng dan masa yang akan datang.

Tulisan di atas adalah catatan singkat saya ketika mengikuti rembug sastra yang membahas Geguritan Bhuwana Winasa di Puri Gede Blayu, Tabanan pada hari Minggu, 24 September 2017 Diskusi yang digagas oleh pihak puri dan Griya Gede Blayu menampilkan tiga orang pembicara, yaitu IBG Agastia, I.B. Putu Suamba, dan Putu Eka Guna Yasa. Diskusi ini sesungguhnya dimaksudkan untuk membangun kesadaran sastra di kalangan “paiketan” Puri Gede Blayu dan Geria Gede Blayu, serta masyarakat sekitar.

Menurut Anak Agung Gede selaku panglingsir Puri Gede Blayu, kegiatan rembug sastra yang membahas karya Ida Pedanda Ngurah sangat penting. Mengingat Ida Pedanda Ngurah merupakan Bhagawanta Puri Gede Blayu. Oleh karena itu, masyarakat Blayu, terutama pihak puri dan geria wajib mengapresiasi karya-karya beliau untuk memetik sistem ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam karya-karya tersebut.

Salah satu hal yang menarik yang diungkapkan oleh Ida Pedanda Ngurah dalam Geguritan Bhuwana Winasa, seperti yang disampaikan oleh IBG Agastia, bahwa beliau mengawali karyanya dengan mengungkapkan datangnya zaman kehancuran (pangrindun sanghyang kali ring anda bhuwana).

Zaman kehancuran ditandai dengan fenomena berikut:
1) Daksina uluning jagat, artinya masyarakat menempatkan selatan/kelod/teben sebagai hulu.
2) Aptinya ring wangsa luwih, artinya keinginan orang-orang untuk diakui berasal dari keturunan orang utama.
3) Ring watek danendra, maka kula rajata lawan mas pipis, artinya banyak orang menjadikan dirinya budak kekayaan, menjadi budak orang-orang kaya.
4) “Parhyangan ring Kentel Gumi, panyungsungan ikang jagat, katingganing tawon kulid, cinan ikang jagat wisti”, artinya Pura Kentel Gumi di Klungkung dipenuhi tawon, sebagai tanda kehancuran. dan
5) Ika sweta ya mijil, ana ring akasa napakdara unggwaneki, cihnaning anda wisti, artinya jika ada mendung putih bersilang di langit itulah ciri kehancuran negeri. (T)

Ngiring Nunas Ica Mangda Iraga Sami Rahayu…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY